Thursday, February 22

Zaman Now, Zaman Toleransi?

Kita semua pasti sudah tahu bahwa belajar adalah saat ketika kita mulai meninggalkan kebodohan. Sejak kecil, kita telah menempuh pendidikan entah secara formal maupun informal. Semua bentuk pendidikan itu telah membuka sebagian cakrawala pengetahuan kita mengenai kebenaran.

Oleh karena itu, pendidikan tak lain daripada proses untuk terus mencari kebenaran. Namun, pendidikan zaman now telah mengalami pergeseran arah. Dalam konteks pendidikan di Indonesia yang memegang kebhinekaan, kebenaran itu diajarkan dalam bentuk toleransi terhadap sesama walau memiliki perbedaan entah dalam suku, ras, dan agama.

Dalam survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1 September – 7 Oktober 2017 dengan jumlah responden 2.181 orang dari 34 provinsi di Indonesia, ditemukanlah bibit intoleransi. Seluruh responden beragama Islam. Survei tersebut berisi pernyataan bahwa pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sekolah & perguruan tinggi dinilai tidak membuka wawasan keislaman yang komprehensif, malahan menumpulkan kepekaan terhadap kebhinekaan. Dalam survei itu, percaya atau tidak, 48,95% responden setuju bahwa pendidikan agama memengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Bibit intoleransi ini nyatanya tumbuh subur pada generasi Z atau sering sisebut kids zaman now.

Sang ibu pertiwi kiranya tersenyum ketika mencerdaskan kehidupan bangsa dijadikan cita-cita bangsa. Namun, bibit intoleransi yang ditanam dewasa ini seolah menggantikan senyuman ibu pertiwi dengan tangis. Sungguh aneh bahwa benih-benih intoleransi itu justru tumbuh subur di kalangan orang yang belajar agama. Di sisi lain, kita bisa melihat bahwa seorang ateis yang tidak belajar agama saja justru masih mampu bersikap toleran. Lantas, apa yang salah dengan sistem pengajaran di Indonesia saat ini?   

Menurut hemat saya, pendidikan agama hanya dipahami secara legalis. Artinya, apa yang diajarkan oleh guru atau dosen ditransfer begitu saja tanpa adanya ruang diskursif dan nalar kritis atas materi yang diberikan. Apa yang tertulis dalam Kitab Suci atau buku acuan diyakini sebagai satu-satunya kebenaran yang harus diterapkan tanpa melihat konteks dunia. Murid pun dikondisikan untuk percaya pada satu jenis finalitas dan tidak terbuka pada segala kemungkinan.

Padahal, teks (Kitab Suci) tidak terlepas dari konteks (manusia dan dunianya). Konteks dunia senantiasa mengalami perubahan. Dan kini, manusia menghadapi pluralitas dan multiplisitas dunia yang berhadapan dengan berbagai aliran kepercayaan dan tradisi. Cara untuk mengahapi pluralitas itu adalah kesediaan untuk mampu melihat kebenaran dari berbagai sisi.

Di sana ada orang Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan bukan hanya Islam. Oleh karena itu, selain ajaran yang sesuai dengan agama murid, ada kalanya memberikan pelajaran tentang agama lain atau yang tidak dianutnya. Bukan dalam arti Hinduisasi atau Kristenisasi atau Islamisasi tetapi hal ini untuk membuka sudut pandang setiap murid dan kesadaran bahwa kesadaran manusia akan kebenaran berciri perspektival sehingga murid tidak hanya memandang kebenaran atau kebaikan hanya dari satu sudut pandang saja.

Namun, bukankah hal itu juga sudah terjadi sebelum generasi Z? Ya, memang benar, tetapi tidak separah generasi Z. Lalu mengapa intoleransi berpuncak pada generasi Z? Zaman now sudah bukan lagi zaman old yang masih sabar menghadapi kelambanan. Orang zaman now serasa hanya mengejar kemudahan dalam menyerap informasi melalui media khususnya media internet.

Jika kita cermati bersama, kemajuan teknologi informasi juga dibarengi dengan intoleransi. Kemudahan mengakses informasi melalui internet menjadikan generasi Z memuja cara pikir instan. Orang terburu-buru melompat pada kesimpulan teks sebuah berita tanpa mengetahui kebenaran tiap-tiap premisnya.

Kita pun juga tahu bahwa saat ini berita hoax semakin marak beredar. Ternyata, cara pikir yang instan ini pun juga menular ketika mereka menempuh pendidikan agama di sekolah-sekolah. Oleh karena itu, cara pikir kritis dan reflektif sangat diprioritaskan bagi generasi Z dengan cara selalu membuka ruang diskusi di kelas dan terbuka pada segala macam pertanyaan. Seperti kata Sokrates, “Hidup yang tidak dihidupi, tidak pantas dijalani.”

Jadi, cara berpikir yang berhenti pada finalitas dan keengganan untuk mempertanyakan keyakinan yang sudah mapan yang menyebabkan intoleransi memuncak pada generasi Z, terlebih dengan adanya media sosial saat ini. Bertanya dan mengkrtisi harus tetap digaungkan dan ditanamkan sebagai sikap belajar yang tepat sehingga setiap orang tidak terjebak dalam sikap intoleran yang kaku.

Leonardus Satrio Priambodo, Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWM Surabaya

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *