Monday, June 24

Twibbon, Paid Promote, dan Hilangnya Persona

Wahai para pengguna Instagram, tidakkah kita melihat ada yang berubah dari feed IG kita? Yap! Selain foto-foto estetik dan quote “bijak” kita juga akan melihat banyak sekali postingan twibbon dan paid promote.

basket léopard femme babyphone mit alexa verbinden nike wiki nike daybreak uomo dänisches bettenlager lounge set nike wiki nike air max 1 ultra moire black white ราคา adidas yeezy shoes дамски памучен чорапогащник sport jumpsuit nike dlm382 tapis de reception gonflable raptor köröm díszítő szalagok ciorapi compresivi pana la coapsa basket léopard femme

Mulai dari “Saya siap menjadi mahasiswa Universitas Wakanda“ hingga twibbon gabung organisasi, webinar, upacara hari kemerdekaan, dan jutaan twibbon lain untuk memperingati berbagai kegiatan dan menyatakan bahwa kita terlibat di sana. Fenomena lainnya adalah paid promote atau promosi berbayar. Beberapa akun, bahkan mungkin akun kalian mulai diisi ratusan  iklan dari makanan, jual followers, hingga foto koplak untuk merayakan ulang tahun seseorang. Semua dilakukan demi menggait dana untuk kegiatan kampus. 

Tidakkah kedua fenomena ini menggelitik kesadaran kita? Tidakkah kita sadar bahwa perlahan, kita tidak lagi bebas berekspresi dalam media sosial, bahkan tak lagi bebas memilih untuk tidak menggunakan media sosial, digantikan kebijakan upload paksa ini? Tidakkah kita sadar bahwa “persona“ kita di media sosial mulai hilang? Kita tak lagi seorang pribadi yang memiliki kebebasan, hobi, dan keunikan, tapi hanya “peserta webinar”,”anggota ormawa”, dan “papan iklan”.

Apa itu “Persona”?

Untuk memahami apa arti “persona”, mari kita pergi ke ruang theater! Lho kok ke ruang theater?! Perlahan kita akan melihat seseorang dengan topeng nenek tua masuk ke panggung sambil membawa keranjang penuh apel. Ia menghampiri gubuk sederhana di tengah hutan dan mencoba menjual apelnya ke seorang putri cantik. Dengan lugunya putri itu memakan apel tester gratis yang ditwarkan kepadanya dan tiba-tiba ia jatuh tergeletak tak berdaya….

Apa hubungannya pertunjukan drama dengan persona? Masyarakat Yunani kuno mengenal kata πρόσωπον (prosopon) yang berarti topeng atau karakter yang dimainkan dalam drama. Topeng berwajah nenek keriput dengan kerudung, keranjang, serta badan bungkuk menunjukkan perannya, hal yang serupa berlaku dengan peran-peran lain ada yang berperan sebagai putri, pangeran, kurcaci, dan lain sebagainya. Nah, kata “prosopon” inilah yang menjadi akar dari kata persona. Bedanya, kata itu tak hanya dimaknai sebagai topeng atau karakter drama melainkan karakter dan peran setiap pribadi dalam “drama“ kehidupan. 

Sama seperti tak ada dua tokoh yang persis sama, demikian pula tak ada dua pribadi yang persis sama. Setiap pribadi unik, bebas, dan memiliki peran masing-masing. 

Persona yang bermedia sosial

Di antara persona-persona yang „memainkan perannya“ dalam hidup bermasyarakat, ada yang memilih untuk menggunakan media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan ekspresi diri. Hal ini dapat kita lihat dari betapa beragamnya konten media sosial masing-masing orang. Ada pelukis yang membagikan karya-karya lukisannya, fotografer yang membagikan hasil jepretannya, hingga masing-masing pribadi yang dengan berbagai gaya dan ekspresi mengungkapkan isi hati. Semua itu menunjukkan ciri persona yang unik, yang masing-masing memiliki cara tersendiri untuk mewarnai hidup di bumi.

Awalnya, persona-persona ini hidup dengan bebas dan damai di media sosial. Tapi semuanya berubah sejak twibbon dan paid promote menyerang. Mari kita lihat apa saja yang telah dirampas mereka!

Persona yang tersamar

Sebelumnya, setiap persona memiliki kebebasan dan keunikan. Kini, dia bahkan tidak bebas memilih untuk tidak menggunakan media sosial, ketika menggunakannya pun ia tak lagi bebas memilih konten apa yang akan dia unggah dan apa yang ia hindari sesuai dengan pilihan bebas, prinsip, dan idealismenya. 

Kewajiban Twibbon misalnya, tidak membuka kesempatan untuk mereka yang mau mengekspresikan diri dengan cara lain. Juga, tak membuka kesempatan bagi mereka yang menolak mengumbar aktifitasnya, yang penting twibbon harus terunggah sesuai ketentuan. Belum lagi paid promote yang seakan menjajah akun seseorang dengan kebijakan “unggah paksa”. Pengguna media sosial tak lagi menjadi tuan atas akunnya, bahkan tak lagi bebas mengekspresikan dirinya sebagai pribadi yang unik dan bebas, direduksi menjadi “anggota kelompok”, “peserta kegiatan”, dan disamarkan citranya oleh ribuan iklan. Lantas, di manakah persona yang memiliki kebebasan? Di manakah persona yang seharusnya menjadi tuan atas tindakannya?

Tunggu, tunggu… Sepertinya tidak adil menghakimi twibbon dan paid promote dari satu sudut pandang saja, bukankah ada banyak alasan di baliknya? Tentu, twibbon menjadi salah satu sarana untuk merekatkan hubungan antar sesama mahasiswa atau anggota kelompok terutama di masa pandemi yang menghalangi pertemuan langsung, juga menjadi bentuk partisipasi diri dalam suatu kampanye atau gerakan. Paid promote pun tidak selalu diwajibkan, ada beberapa tempat yang memberi pilihan kepada mahasiswa, meski ada pula yang tidak. Selain itu, paid promote juga membantu para pengusaha dan pengguna jasa untuk memperkenalkan dagangan, layanan, atau kegiatan mereka. Di sini, twibbon dan paid promote itu sendiri bukanlah masalah, yang perlu kita kritisi adalah kewajiban dan intensi di baliknya.

Mengunggah twibbon dan ikut paid promote tidak secara otomatis menyamarkan “persona” kita atau merampas kebebasan kita. Bila twibbon dan paid promote itu kita unggah dengan bebas dan sadar, maka tak ada masalah dari hal itu. Bukankah person pun secara alami terdorong untuk tergabung dalam komunitas dan hidup bersama? Bukankah person itu bebas menentukan sikap dan mengekspresikan dirinya? Namun, bila person yang bermedia sosial itu mengunggah twibbon hanya karena kewajiban atau mengikuti trend, maka apakah artinya itu? Apakah artinya kata “siap” atau ribuan slogan yang dinyatakan dalam twibbon bila hanya sebatas tulisan di feed Instagram? Bila person yang mengunggahnya tidak melakukan itu dengan bebas dan sadar, maka keunikannya sebagai persona menjadi tersamar.

Tetapi, bukankah citra yang dibangun di media sosial juga tidak sepenuhnya “otentik”? Bukankah persona yang berdinamika di media sosial pun tak jarang mengunggah “kebohongan” untuk menciptakan “relita”-nya sendiri? Yah tentu saja, tapi setidaknya persona itu mengunggahnya dengan bebas sesuai dengan bagaimana ia mau mengekspresikan diri dan membangun citra di media sosial, sayangnya kewajiban twibbon dan paid promote telah merebut kebebasan itu, bahkan persona itu tidak bebas lagi untuk membebaskan diri dari media sosial. 

Sejauh ini, kita membahas banyak tentang dampak kewajiban pada persona yang menjadi “korban”. Tapi, apakah kewajiban ini tidak berpengaruh pada yang mewajibkan dan komunitas yang diwakilinya? 

Organisasi yang tereduksi

Twibbon dan paid promote tak hanya menyamarkan persona yang berdinamika di media sosial, tapi juga mereduksi hidup berorganisasi. Hidup berorganisasi yang sejatinya adalah bagaimana menjalankan peran dengan baik dan berdinamika dalam suatu komunitas untuk mencapai tujuan bersama, kini direduksi menjadi perlombaan slogan dan citra di media sosial.

Anggota yang baik, kini bukan lagi anggota yang menjalankan perannya di organisasi dan dengan bebas terlibat, melainkan anggota yang aktif menyuarakan slogan organisasi di media sosial dan mereka yang dengan tanpa membantah menjalankan perintah untuk mengunggah apa yang harus diunggah tanpa benar-benar memahami tujuan dan maknanya. 

Misalnya, slogan “saya siap mengikuti….” Atau slogan-slogan lain disertai caption terstruktur nan seragam, apakah itu cukup menyatakan partisipasi anggota ? Apakah itu cukup menyatakan bahwa ia benar-benar siap atau benar-benar menghidupi “nilai” yang digaungkan organisasi itu? Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, tanpa kesadaran dan kebebasan persona bahwa “aku menggunggah ini karena aku telah memahami nilai ini dan ingin mengekspresikannya di media sosial”, atau “aku mengunggah ini karena kebebasanku dan sebagai bentuk ekspresi diriku yang adalah bagian dari kelompok.” Dan tanpa kesadaran untuk benar-benar menghidupinya di dunia nyata, maka slogan itu hanya kata-kata kosong yang menghiasi Instagram.

Hidup berorganisasi, khususnya dalam universitas, seharusnya menjadi kesempatan yang baik bagi setiap persona untuk memperkaya diri dan menjalankan perannya dalam komunitas. Sayangnya, kadang itu malah menjadikan persona “kehilangan dirinya”, mematikan pemikirannya, dan menjadikannya budak organisasi. Organisasi bukan lagi kumpulan manusia, melainkan kumpulan “robot” yang mengerjakan apa yang harus dikerjakan tanpa tahu alasannya, yang “kebebasannya” semu belaka, tak lebih dari menghasilkan output yang harus dihasilkan, mengatakan yang harus dikatakan, dan mengunggah apa yang harus diunggah.

Penutup

Layaknya tokoh-tokoh dalam drama, persona-persona menjalankan perannya dalam “drama kehidupan”. Masing-masing unik, bebas, dan kehadirannya mewarnai pertunjukan, membuatnya semakin menarik. Sayang, banyak yang bergerak tanpa sadar, melakukan yang dilakukan pemeran lain, mengatakan yang dibisikkan orang lain. Sudah saatnya persona-persona ini bangun, dan mulai menyadari setiap geriknya agar ia dapat menjalankan perannya dengan sungguh, tak hanya menjadi bayangan persona lainnya. Wahai persona-persona, bangun dan bermainlah!

Oleh : Christian Viming, Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWM Surabaya.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *