Thursday, February 22

Tsunami Masa

Tahun 2020, bagi sebagian besar orang merupakan mimpi buruk yang akan menimpa  negeri ini. Banyak stasiun televisi dan berbagai media melontarkan berita-berita yang terkesan  “template” alias membahas satu kasus yang sama yakni, masuknya virus corona di Indonesia. 

Setiap hari kasus positif pun bertambah dan semakin banyak nyawa melayang akibat virus yang  merajalela. Mau tidak mau, para raga yang masih bernyawa pun berlomba-lomba untuk  menyelamatkan diri dari serangan virus mematikan ini.

Banyak yang harus dikorbankan dalam  melawan pandemi ini, antara lain, membatasi kegiatan yang dilakukan di luar rumah,  sedangkan pada zaman milenial atau disebut pula zaman teknologi 4.0, hampir segala hal  dikerjakan oleh “sistem”.

Seperti pepatah yang dikemukakan oleh filsuf ternama Jerman, Karl  Marx, yakni bahwa dalam kacamata filsafat dialektika, tidak ada yang dibangun untuk sebuah  keabadian, tidak ada yang absolut dan suci.

Pepatah ini sangat relate dengan kondisi masa  sekarang ini, dimana segala kegiatan hampir semuanya digantikan oleh sistem atau robot.  Banyak pertanyaan pun akhirnya muncul dari para kaum awam, Akankah segala pekerjaan  manusia dapat diambil alih oleh sistem?

Pertanyaan tersebut tak jarang mengguncang hasrat  anak muda generasi milenial atau biasa disebut gen-z untuk membuktikan bahwa sistem (robot)  dapat digunakan semestinya dan seperlunya, sehingga tidak mengurangi jumlah SDM  berkualitas di negara kita.

Kita bisa bayangkan andaikata segala pekerjaan diambil alih oleh  robot. Kita akan kehilangan kemampuan untuk bekerja dan beraktivitas normal layaknya  kehidupan tanpa “robot”. Keturunan kita pun bahkan dapat menjadi generasi tanpa SDM  berkualitas dikarenakan para robot mengambil alih segala kegiatan yang dapat membentuk  SDM berkualitas dalam diri manusia.

Tentu saja hal tersebut menjadi mimpi buruk bagi  generasi milenial, sehingga banyak dari generasi milenial mencetuskan perubahan-perubahan  di era pandemi seperti sekarang ini.

Kita tentu dapat mengambil gambaran dari kejadian  tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam, dimana dapat dikatakan bahwa peradaban di  Aceh kala itu hancur tak bersisa, hanya tersisa puing-puing dan berbagai material yang ikut  terbawa oleh tsunami yang menyapu daratan Aceh kala itu.

Tentunya para masyarakat Aceh  kala itu tidak hanya tinggal diam melihat puing-puing sisa tsunami yang berserakan dimana mana. Semua orang kala itu kehilangan segalanya termasuk sanak keluarga yang sangat  berharga bagi mereka.

Namun berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, Aceh pelan-pelan namun pasti, bangkit dari keterpurukan akibat tsunami yang dengan ganas melanda.

Para  masyarakat terutama generasi muda Aceh kala itu dengan semangat menggencarkan  pembangunan kembali dengan memanfaatkan segala yang ada dengan maksimal termasuk  dengan bantuan-bantuan yang diberikan kepada mereka.

Pemuda-pemudi Aceh, bersama  dengan UNICEF kala itu menggerakkan operasi kemanusiaan tanggap darurat bencana, mereka  bergerak cepat dalam menyelamatkan anak-anak dari kematian dan berbagai penyakit,  membantu memulihkan trauma mereka terutama saat menghadapi hal yang tak pernah mereka  duga, mengajak mereka kembali mengenyam pendidikan yang lebih baik serta  mempertemukan dengan keluarga atau kerabatnya kembali yang terpisah-pisah oleh karena  bencana yang melanda tanah tersebut.

Melalui bencana tsunami yang melanda tanah Aceh,  para pemerintah dan Badan Penanggulangan Bencana menguji coba sirene tsunami yang  terpasang di 6 daerah di Aceh. Pemasangan sirene tsunami ini digunakan agar para masyarakat  semakin peka dan responsif akan isyarat bencana yang akan datang, sehingga meminimalisir  banyaknya korban yang berjatuhan.

Tak sedikit pula diadakan sosialisasi tanggap darurat  bencana, guna mencegah terjadinya hal serupa. Aksi tersebut dapat pula disebut sebagai  “disrupsi”, mengapa demikian? Karena setelah terserang oleh bencana, maka masyarakat  secara tidak langsung dituntut untuk menguasai kode-kode digital, kita ambil contoh dari sirene  tsunami. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai orang tua mau tidak mau harus  paham betul dengan kode sirene tersebut.

Serta banyak teknologi lain yang muncul akibat  bencana tersebut, antara lain penggunaan aplikasi Info BMKG yang marak digunakan untuk  mengecek kondisi cuaca, iklim, sampai pergerakan air laut, sehingga dapat meningkatkan  kewaspadaan akan bencana yang mungkin terjadi. Fenomena disrupsi tak hanya terjadi saat  bencana alam melanda, namun juga saat mewabahnya suatu penyakit di suatu wilayah, seperti  yang kita alami saat ini.

Pandemi covid-19 ini belum juga ditemukan titik terangnya, alias kita  tidak tahu kapan berakhirnya masa ini, kita dapat mengibaratkan pandemi covid-19 yang sudah  berjalan kurang lebih 2-3 tahun ini sebagai “tsunami” yang melanda masa milenial. Kita ibarat  diterpa tsunami yang menghancurkan masa-masa ataupun aktivitas normal yang biasa  dilakukan sehari-hari, kita dituntut untuk bertahan hidup dengan pemberlakuan pembatasan  sosial yang diberlakukan oleh pemerintah agar virus ini tidak menyebar luas serta  membahayakan nyawa para manusia di luar sana.

Kita juga dituntut untuk “kreatif” dan hidup  beriringan dengan teknologi sehingga dapat menjalankan aktivitas normal tanpa harus keluar  rumah. Pada saat inilah, internet sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat,  terutama para “budak corporate” yang tidak memungkinkan untuk bekerja di kantor, begitu  pula dengan pelajar hingga mahasiswa yang dituntut untuk mampu menangkap materi pembelajaran secara “online”.

Mungkin sistem ini bagi sebagian orang menguntungkan namun  merugikan bagi yang lainnya, karena tidak semua kalangan dapat memiliki akses internet,  dikarenakan beberapa faktor seperti, ekonomi, letak rumah yang sulit dijangkau oleh sinyal  internet seperti contoh saudara-saudara kita yang tinggal di daerah pelosok dan daerah lain  yang memiliki kemungkinan kecil untuk berinternet.

Beberapa alternatif seperti pemasangan  Wi-Fi pun tengah diusahakan di berbagai pelosok daerah, agar program online school ini dapat  berjalan dengan baik dan dapat meminimalisir kendala yang ada. Namun di tengah kondisi  yang membingungkan ini, tak sedikit para pemuda milenial yang mengeluarkan segala  kreativitas nya, seperti pemaksimalan fungsi aplikasi belajar jarak jauh buatan anak Negeri  yang tentunya dapat mempermudah proses belajar-mengajar online di tengah pandemi. 

Mengambil dari kutipan Charles Darwin, bahwa dalam bertahan hidup, respon terhadap suatu  perubahan adalah hal yang terpenting. Makhluk hidup harus memiliki kemampuan beradaptasi  dalam lingkungan yang terus berubah di samping didukung oleh kecerdasan dan kekuatan dari  diri makhluk hidup itu sendiri.

Seiring berjalannya waktu, generasi muda yang dapat bertahan  hidup di tengah pandemi ini akan terbiasa dengan perubahan dan memiliki insting yang kuat  serta kreativitas tinggi ketika menghadapi keadaan yang tak terduga. Seperti kata pepatah  “mencari mutiara di laut dalam” pepatah ini sangat relevan dengan kehidupan orang muda pada  masa pandemi, mereka mengalami banyak perubahan dan segala tantangan kehidupan, namun  kelak mereka akan menuai hasil yang yang baik dan bahkan tak terduga pada masa yang akan  datang. 

Sumber:

https://alathiyah.dayah.web.id/2021/01/04/aminullah-banda-aceh-terus-bangkit pasca-16-tahun-tsunami/

https://news.detik.com/berita/d-2787342/unicef-puji-kebangkitan-aceh-pasca-diratakan tsunami-10-tahun-lalu

https://tekno.tempo.co/amp/1128574/kenang-tsunami-2004-aceh-uji-sirene-tsunami-di-6- lokasi

Penulis: Carolina Esther Sukma Diana

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *