Saturday, April 13

Tinjauan Eksistensialisme: Dinamika Era Disrupsi, Modernitas dan Hermeneutika Faksitas Heidegger dan Sartre

Hegemoni Postmodernisme & Era Disrupsi

koaxialní kabel hornbach cheap jerseys brandon aiyuk jersey youth converse lugged beige nike air max 1 ultra moire black white ราคา babyphone mit alexa verbinden adidas yeezy shoes vans chima ferguson pro 2 port royale black forty two skateboard shop plavky chlapec 128nove polaroid κάμερα ciorapi compresivi pana la coapsa veste femme pied de poule marron shampoo isdin lambdapil Mexico nike air max aliexpress köröm díszítő szalagok

Peralihan zaman dari era klasik, modern dan hingga era postmodern, membawa manusia pada  dinamika disrupsi zaman seperti kekerasan sistemik yang diuraikan oleh Slavoj Zizek sebagai  kekerasan yang tak tak terlihat dan seolah-olah tak ada yang menjadikan konsumen sebagai korban  dari tindakan kemanusian.

Kekerasan sistemik adalah sisi tersembunyi atas realitas masyarakat yang mutlak,  sebagaimana anda melihat plang donasi di jalan, namun saat ingin berdonasi anda dihadapkan oleh  biaya anggaran sebagaimana yang di jawab oleh Lacan sebagai objet petit a.

Bagi Baudrillard,  transformasi budaya ini menunjukan masyarakat digiring menuju kecenderungan  simbolik (symbolic value) ini diterangkan di dalam bukunya yang berjudul The Consumer  Society (1970).

Zygmunt Bauman menyatakan bahwa situasi di mana orang hidup adalah dinamis. Arus kuat  yang menyebabkan dinamika ini adalah intervensi globalisasi. “Janji modernitas” adalah  memberikan kehidupan manusia yang lebih tenang dan nyaman melalui pemikiran rasional.

Tetapi  jika modernitas mengadopsi pemikiran rasional, mengapa bencana kemanusiaan seperti Perang  Dunia atau Holocaust terjadi? Kelahiran “modern baru” dipicu oleh pandangan bahwa bangsa dan  sistem sosial yang ketat yang menjadi ciri “modern lama” mendasari penderitaan manusia dan  masyarakat. Persaingan modernitas untuk kebebasan ini selanjutnya disebut sebagai “modernitas  baru” atau “modernitas cair”

Keterlemparan manusia menjadi realita yang dominan dan yang paling menghegemoni dalam  kehidupan modern karena manusia modern mengalami krisis identitas. Tidak ada lagi manusia asli  (otentik) seperti Musa dalam Fear and Trembling karya Kierkegaard dan Zarathustra dalam Thus  Spoke Zarathustra karya Nietzsche.

Secara historis, filsafat telah mampu membebaskan mereka yang berada di balik mitos Yunani  kuno dan mereka yang berada di balik doktrin Eropa. Oleh karena itu, bahkan di era modern ini,  filsafat dapat membebaskan manusia dari keterhubungannya dengan teknologi dan globalisasi. 

Dengan memasukkan filosofi ke dalam manusia, umat manusia dapat mengontrol dan  meningkatkan kehidupan mereka karena tantangan globalisasi yang semakin cepat

Tinjauan Eksistensialisme Terhadap Dinamika Sosial Era Disrupsi

Herbert Marcuse, salah satu filsuf Mazhab Frankfurt, mendefinisikan dalam karyanya “One  Dimensional Man” sebagai makhluk yang secara alami menginginkan dan berhak atas  kebahagiaan.

Akan tetapi, perwujudan kebahagiaan itu sepenuhnya bergantung pada pemenuhan  kebutuhan yang sebenarnya, tetapi manusia modern menyadari kebutuhannya karena suasana  menindas atau menindas yang menjadi ciri masyarakat di mana ia tinggal masih menghambat.

Heidegger menguraikan fenomena ini dengan keterlemparan (Geworfenheit), “berada begitu  saja”. Dasein mengungkapkan keunikan dan keunikan manusia yang tidak dapat digantikan oleh  orang lain.

Seseorang tidak mengetahui arti dan asal usul hidupnya karena “ada begitu saja”. Fakta  bahwa Dasein hidup di dunia ini (terlempar) atau sein-zum-tode secara niscaya disebut faktisitas.  (Jer: Faktizität).

Bagi Heidegger, pemahaman adalah fundamental. Artinya, ia mendahului dan memungkinkan  segala bentuk pemahaman empiris. Kepribadian primitif mengacu pada proses utama yang tidak  dapat diungkapkan atau dipahami secara kognitif, tetapi beroperasi dalam domain ontologis yang  fundamental secara ontologis.

Ini berbeda dengan pekerjaan di bidang empiris, yang berfokus pada  refleksi kognisi dan emosi manusia. Oleh karena itu, pengalaman empiris saja tidak cukup untuk  mencapai makna. Setiap hubungan atau cara berada di dunia menentukan pemahaman kita tanpa  kesadaran sebelumnya.

Drama eksistensial Heidegger Dasein mengarah pada kesimpulan bahwa proses pemahaman  adalah mode keberadaan. Ini juga mengandaikan adanya struktur pemahaman sebelumnya, serta  proses mental atau kognitif.

Kita pasti akan muak dengan orang-orang dogmatis yang terlibat dalam dinamika masyarakat.  Namun, dalam seluk-beluk kekosongan ini, ada berita (Sagen) yang bisa dibuka untuk kehidupan  sehari-hari.

Dengan kata lain, bosan mengarah pada pemahaman tentang dunia (Verstehen).  Pemahaman ini membawa banyak pilihan baru untuk bertindak. Kebosanan mendorong seseorang  (Dasein) menjadi miliknya sendiri di dunia.

Menurut Sartre, Eksistensialisme adalah filsafat tentang ‘ada’ dan ‘being’. Anggapan ini  mengganggap bahwa eksistensialisme merupakan pengalaman individu manusia sebagai subjek  sehingga ia berkata ‘eksistensi mendahului esensi’.

Bagi Sartre, manusia merupakan eksistensi  yang bebas dan memiliki kemauan untuk berkembang sebagai individu tanpa terkekang masa lalu.  Menurut Sartre manusia bebas memilih jalan hidupnya sendiri, namun kebebasan bukan berarti  lepas sama sekali dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan merupakan sesuatu yang  sangat berorientasi dengan tanggung jawab dan tidak bisa lekang satu sama lain.

Dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme dan keberadaan manusia memiliki hal yang  berkaitan. Manusia “ada” dengan eksistensi, dan memiliki kebebas berdasarkan apa yang diingini,  ia unik sebagaimana ia dengan pilihannya, dan berhak serta bertanggung jawab atas dirinya, serta  bereksistensi di antara manusia lain.

Memang, pandangan Sartre bahwa “eksistensi lebih diutamakan daripada esensi” tidak  terlepas dari pengalamannya, yang juga merupakan bagian dari eksistensinya. Dalam  eksistensialisme, seseorang menghadapi berbagai pilihan, apakah akan hidup secara alami secara  rumit atau tetap bertahan.

Bagi Sartre, akhir dari keberadaan manusia adalah “kematian”, dan  ketika manusia mati, esensi manusia dari absurditas manusia berakhir dengan keberadaannya.  Ketika orang akhirnya mati, makna hidup bagi seseorang adalah menjalani hidupnya dengan  eksistensi yang diciptakannya dan dipilihnya.

Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa hubungan antara Quarter Life Crisis dan  eksistensialisme adalah terkait, tetapi berlawanan. Dengan menggunakan konsep eksistensialisme,  mereka yang bermasalah dengan Quarter Life Crisis dapat mengatasi masalah tersebut dengan  melihat konsep eksistensialisme tanpa melepaskan fitrah manusia itu sendiri.

Ini tampaknya  menjadi alasan mengapa seseorang memulai krisis ini. Bayangkan seorang pria bertanya tentang  makna hidupnya dan apa yang telah dicapainya setelah mengajukan pertanyaan, tampaknya wajar  bagi seseorang mari kita coba lagi mengapa orang hidup? Pertanyaan tentang tujuan hidup  seseorang berarti dia bertanya-tanya apa esensinya.

Menurut eksistensialisme, manusia tidak hanya dilihat dari sudut pandangnya, tetapi juga  secara keseluruhan dengan karakteristiknya sendiri, seperti yang terkait dengan akal, intuisi, emosi,  kehendak intelektual, dan sebagainya. Dengan melihat orang seutuhnya, tanpa  membandingkannya dengan keberadaan orang lain, dapat mendekonstruksi kesedihan,  ketidakmampuan, dan harga diri dari keraguan diri.

Eksistensi merupakan pengalaman individu manusia sebagai subjek. Eksistensi manusia itu  dalam realitas sebagai etre-en-soi dan etre pour~soi, penguraian itu berarti ‘kesadaran’ dan ‘yang  disadari’.

Seseorang berlaku pada kehidupannya dengan dapat memilih antara ia menyadari akan  sesuatu atau memisahkan diri dari yang disadarinya. Etre-en soi (wujud), manusia tidak memiliki  kesadaran apakah ia berperan sebagai subjek atau objek, bahkan ia tidak memiliki  kesadaran dengan lingkungannya.

Etre~ensoi tak sadar akan hal apa pun, ia hanya  dipenuhi dengan individunya dan tanpa berkaitan dengan hal apa pun lain. Sedangkan Etre~pour  soi (kesadaran) adalah “dasein” untuk dirinya.

Sesuatu yang original pastinya mempunyai perbedaan, dengan kesadaran yang dimilikinya  manusia dapat menjadi sesuatu yang utuh dan unik sebagaimana ia membuat dirinya seperti  eksistensi yang diciptakannya tanpa cengkraman manusia lain, dan akan tetap berlangsung hidup  di lingkungannya.

Dengan demikian Quarter Life Crisis dengan eksistensialisme hadir sebagai sesuatu yang ada  untuk mereduksi permasalahan krisis di era disrupsi yang dialami manusia yang diakibatkan oleh  dinamika sosial dengan mempertahankan individualitas serta ke-otentikan manusia sebagai  makhluk yang penuh kebebasan dan bertanggung jawab terhadap apapun pilihan serta hal unik  yang menjadikannya manusia.

Keterkaitan antara manusia yang tidak dapat menyimpulkan kompleksitasnya dengan  eksistensialisme menuju ke jalan yang lebih terang, manusia dapat mencari eksistensinya sendiri  tanpa terpengaruh oleh hakikat – hakikat manusia lain, sehingga dinamika dinamika sosial di era  disrupsi menjadi eksistensi murni manusia itu sendiri dan dapat melampauinya.

Karena nilai,  norma, ataupun hukum merupakan hasil dari konstruksi dari manusia itu sendiri, maka mungkin  bagi manusia itu sendiri untuk menciptakan nilai, norma, moral dan hukumnya yang baru. Namun,  manusia juga memiliki etika untuk bertanggung jawab atas kebebasan yang menjadi pilihannya. 

Meski kebebasan sebagai fundamental manusia berada, kebebasan manusia dibatasi oleh manusia  lain, agar meminimalisir ketidak-harmonisan di antara mereka di lingkungan mereka pula.

Konklusinya, dengan eksistensialisme, kita dapat mendapatkan pemaknaan akan nilai  kehidupan, kita dapat bertanggung jawab atas jalan yang kita pilih sehingga kita dapat mereduksi  kekerasan sistematik, hingga keterlemparan manusia akan eksistensinya, bahkan kita dapat  mendekonstruksi modernisme lama.

Daftar Pustaka: 

Hardiman, F. Budi (2003). Heidegger dan Mistik Kesadaran. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hardiman, F. Budi (2015). Seni Memahami: Hermeneutika dari Schlemaicher sampai  Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

Heidegger, Martin (1962). Being and Time, (Judul Asli: Sein und Zeit)Penerjemah. John Macquarrie dan  Edward Robinson. Oxford: Blackwell Publishers.

K. Bertens, Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm.  97.

Kirnandita. P. (2019). Quarter Life Crisis : Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang Siregar. M. (2015). Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre

Penulis: Samuel Kaevin Phasca Tambunan

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *