Saturday, April 13

Subjektifitas di Tengah Kerumunan Massa

Ditulis oleh Benediktus Cyrillus, Siswa SMAK Seminari Mertoyudan

Masa muda merupakan masa transisi yang pasti dialami semua orang. Kaum muda pada Masa ini remaja lebih cenderung memiliki sifat yang mencintai dirinya sendiri (narcistic). Remaja pada tahap ini juga masih bingung dalam mengambil keputusan atau masih labil dalam berperilaku. Hal tersebut membuat mereka akan mudah tenggelam dalam arus massa kolektif yang sekiranya sesuai dengan idealisme mereka.

Sosial media merupakan arus massa virtual memfasilitasi kegiatan interaksi mereka. Di sana pula, kaum muda yang masih labil diberi ruang untuk berekspresi secara bebas dan leluasa sebelum ada regulasi yang kompleks seperti sekarang. Kehidupan dunia virtual memberikan kebebasan yang menyajikan kenyamanan dan kebahagiaan semu kepada mereka. Dengan sistem algoritma yang selalu menampilkan hal-hal yang mereka sukai, jelas kehidupan dunia virtual terlihat lebih menyenangkan dibandingkan dengan kehidupan nyata.

Keterasingan

Søren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813-11 November 1855) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Ia merupakan tokoh filsuf eksistensialisme yang selalu mengedepankan subyektifitas. Pergulatan hidup yang penuh gejolak serta refleksinya terhadap filsafat Hegel yang bersifat abstrak dengan ambisi yang begitu besar membuatnya mengarahkan pandangan kepada dirinya sendiri sebagai pelaku dan subyek. Dalam subyektifitas inilah, Kierkegaard yakin eksistensi otentik dapat dicapai karena kebenaran memang digulati dan dipelik secara eksistensial dan tidak berada di luar sang subyek.

Salah satu fokus pemikiran Kierkegaard adalah keselarasan kehidupan batin dengan kehidupan lahir.  Orang yang penampilan luarnya berbeda sama sekali dengan apa yang dihayatinya dalam hati, dikatakan Kierkegaard memiliki double life. Kehidupan tersebut dikatakan penuh kepalsuan atau tidak otentik karena tidak ada kongruensi antara kehidupan batin dan lahir. Contohnya saat di dunia nyata ia sangat pendiam dan cuek terhadap sekitar, tetapi apa yang dirasakan dalam batinnya adalah ia bicara banyak dan kritis menilai sekitar. Fenomena ini membuat kita semakin terasing antara satu sama lain dan semakin menguatlah individualisme. Bagi masyarakat plural seperti di Indonesia tentu saja, sikap tersebut kurang baik dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa serta norma positif yang berlaku.

Kerumunan Massa

Globalisasi telah merubah banyak aspek kehidupan, tak terkecuali komunikasi. Keterhubungan antar manusia yang melewati batas ruang dan waktu ini ditopang oleh adanya internet. Berdasarkan data dari Data Reportal, Hingga Januari 2021, Indonesia memiliki pengguna internet sebanyak 202,6 juta jiwa dan penetrasi internet mencapai 73,7% di kalangan masyarakat. Proses komunikasi global yang dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat dunia ini, diwadahi oleh media sosial. Transisi yang terjadi secara massal dan masif ini, tentu tidak muncul tanpa dampak buruk maupun baik.

Seiring perkembangan zaman, generasi konsumen jasa komunikasi virtual terus terbaharui. Akibatnya, kaum muda yang selalu menjadi sasaran pasar jasa karena kondisi mental sosial mereka yang masih berapi-api dan cenderung ingin memperluas jejaring relasi. Eksistensi dari media sosial yang semakin masif jumlah penggunanya ini mulai menjadi candu dan menyita lebih banyak waktu yang digunakan untuk berkomunikasi di dunia nyata. Hal tersebut menciptakan gejala sosial baru di dalam masyarakat yaitu individualitas dan keterasingan.

Secara langsung media sosial memfasilitasi masyarakat terutama kaum muda untuk berekspresi di sana. Mereka diberi kebebasan untuk berbicara, mengungkapkan perasaan dan seolah memiliki hidup yang lebih otentik. Di sisi lain, media sosial memberikan akses untuk terciptanya ketidakselarasan antara kehidupan lahir dan keinginan hati. Kita kadang menemui orang-orang yang aktif di dunia maya namun ternyata sangat tertutup di kehidupan nyata.  Mereka yang memiliki double life, tentu merasa sangat bebas dan lebih nyaman tinggal di dunia virtual ketimbang di dunia nyata. Dunia maya dianggap lebih mampu menampung hasrat berinteraksi mereka ketimbang dunia nyata. Pemenuhan hasrat berinteraksi tersebut hanya menciptakan kebahagiaan semu yang lama-kelamaan menjadi zona nyaman mereka. Hal ini membuat mereka tidak terbiasa dengan kompleksitas interaksi di dunia nyata.

Titik Cerah

Anak-anak generasi Z menjadi saksi bagaimana internet dan media sosial menghubungkan seluruh dunia. Umat manusia sekarang menjadi satu masyarakat dunia. Di tengah komunitas manusia sebanyak itu, subjektifitas diri kita rawan tergerus arus pergerakan massa kolektif yang bersifat anonim. Dalam situasi normal pun, orang cenderung mengikuti kehendak dan pendapat umum. Identitas pribadi mereka hilang karena larut dalam kelompok yang berkumpul.

Subjektifitas seseorang memerlukan kejujuran dan keselarasan antara keinginan hati dengan tindakan lahir. Pengalaman kekalutan, keputusasaan, dan segala pergulatannya harus dihadapi dengan jujur agar kita dapat menjadi ‘ada’ di tengah arus kerumunan massa kolektif. Selain melepaskan diri dari bentuk kepalsuan, perjuangan untuk menghidupi eksistensi yang otentik juga menuntut usaha untuk keluar dari kerumunan. ‘Keluar’ di sini bukan lantas mengisolasi diri dari masyarakat namun tidak tenggelam dalam gerakan kolektif serta berusaha berdiri di atas kaki sendiri.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *