Monday, November 29

Sebenarnya Kita Berjuang Melawan COVID-19 atau HOAX-19?

Ditulis oleh Tricia Ayumi Chandra, Siswi SMAK St. Carolus Surabaya

Iki temenan le. Aku dapet dari grup whatsapp ibu-ibu RT. Vaksin COVID-19 iku ana chip e ing jerone. Chip e iku bisa ngedeteksi posisi sama gerak-gerik kita. Iki teori konspirasi mata-mata Amerika memantau Indonesia.”

Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan oleh nenek ketika sedang berbincang dengan Papa lewat telepon. Kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, Ia berkata bahwa Ia mendapatkan informasi mengenai vaksin COVID-19 dari grup whatsapp ibu-ibu RT lingkungannya. Vaksin COVID-19 memiliki chip pendeteksi yang bisa memantau setiap pergerakan penerimanya, yang merupakan bentuk pemantauan mata-mata Amerika Serikat.

Saya yang mendengar hal tersebut hanya tertawa ngakak. Nampak jelas itu hanya cerita rekayasa dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Saya hanya memakluminya, mungkin Ia tidak tahu cara menyaring informasi benar dan salah dari media sosial.

Selang beberapa waktu kemudian, tersebar kabar bahwa vaksin COVID-19 akan membunuh ratusan juta rakyat Indonesia. Informasi tidak berlandaskan fakta ini disampaikan oleh sebuah media massa kenamaan di Indonesia. Beberapa teman saya percaya, mereka mem-posting berbagai macam peringatan dan bentuk kekecewaan mereka terhadap pemerintah di media sosial. Berangkat dari hal ini, saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya kita sedang berjuang melawan COVID-19 atau HOAX-19?

HOAX-19 yang Mematikan

Hoax dalam Bahasa Inggris berarti sebuah tipuan untuk menceritakan kebohongan. Dalam Bahasa Indonesia, hoaks merupakan berita bohong yang tidak berlandasakan fakta, namun dibuat seolah-olah benar adanya dengan terverifikasinya berita (merdeka.com). Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan rangkaian informasi yang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Sementara Werme (2016) berpendapat bahwa, hoaks adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Hoaks merupakan berita bohong tanpa landasan jelas, dan sayangnya dipercayai oleh masyarakat luas sebagai fakta yang valid. Tujuan dari hoaks ini sangat jelas, mengadu domba, membuat kericuhan, dan berbagai macam hal negatif lainnya. Hoaks biasanya tersebar lewat grup whatsapp. Atau posting-an dan video dari berbagai macam fake account di media sosial.

Dilansir dari kompas.com, ada sebuah studi dari ScienceAlert yang menganalisis berbagai media sosial dan situs berita mengenai hoaks seputar COVID-19. Mereka menemukan sekitar 2.300 laporan hoaks dan teori konspirasi dalam 25 bahasa di 87 negara. Salah satunya adalah mengonsumsi alkohol berkonsentrasi tinggi dapat melindungi tubuh dari COVID-19. Alhasil, di Iran dan Turki, terdapat 800 orang meninggal dunia, 5.876 pasien dirawat di rumah sakit, dan 60 orang menjadi buta karena mengonsumsi methanol.

Berita Bohong yang Dibenarkan

Pada dasarnya, hoaks tidak pernah dibenarkan oleh para ahli maupun berbagai pihak yang bersangkutan. Tapi mengapa masyarakat sangat mudah percaya? Padahal tidak ada studi kasus dan sumber rujukan yang diakui kebenarannya. Hoaks hanya berdasarkan pendapat subjektif dan cerita rekayasa semata.

Sebuah artikel dari idntimes.com membahas ada 8 alasan mengapa, orang Indonesia khususnya, mudah percaya pada hoaks. Pertama, hanya membaca judul berita tanpa melihat isinya. Istilah “Indonesia Darurat Membaca” memang benar adanya. Menurut data statistik UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di tingkat 60 dengan literasi rendah. Padahal pemerintah sudah menggalakkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah, hingga memberikan ruang baca gratis. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena media massa yang memberikan judul clickbait juga salah. Dalam dunia jurnalistik, hal ini termasuk penipuan terhadap pembaca.

Kedua, mengangung-agungkan satu sumber informasi. Seseorang bisa sangat mempercayai sesuatu, hingga apa yang dikatakannya selalu benar. Sudah seharusnya kita merubah mindset ini. Ada baiknya jika mencari sampai ke akarnya. Sedikit mencurigai tidak masalah, apalagi jika sudah membahas isu-isu sensitif yang tidak relevan.

Ketiga, tidak mempercayai sumber lain yang tidak sependapat. Tidak semua orang bisa menghargai perbedaan pendapat. Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya, akan dianggap sebagai bentuk pemberontakan dan memulai kericuhan. Padahal, ketika sedang membaca informasi, yang dicari adalah kebenaran dan fakta, bukan membandingkan dan membuat keributan.

Keempat, sebagian besar masyarakat tidak bisa membedakan satir dan hoaks. Satir dalam KBBI berarti bentuk komedi kebijaksanaan dan kebodohan yang ditampilkan sebagai kelucuan. Tujuan satir hanya untuk komedi, sedangkan hoaks memberitakan mitos. Untuk menghindari kesalahpahaman ini, dapat dilakukan dengan membaca dan memahami lebih dalam tujuan bacaan, apakah itu lelucon, hal serius, atau mitos belaka.

Kelima, ketika terdapat sebuah informasi yang sesuai dengan kondisinya, masyarakat terbiasa untuk membagikannya pada orang lain. Sama seperti yang dialami oleh nenek saya, Ia kerap kali mebagikan informasi kepada saya melalui whatsapp. Salah satunya vaksin COVID-19 yang memiliki chip tersebut. Tidak hanya beliau, banyak orang yang juga seperti itu, termasuk saya. Hanya saja, tidak semua orang bisa mengenali perbedaan hoaks dan fakta.

Keenam, tingkat keseringan seseorang melihat informasi menjadi acuan terverifikasinya informasi itu. Secara tidak langsung hoaks menjadi fakta karena telah dibenarkan oleh masyarakat lewat seberapa seringnya berita tersebut muncul di beranda.

Ketujuh, kurangnya melakukan verifikasi ulang. Masyarakat umumnya malas untuk mencari seluk beluknya, dan hanya menyebar luaskan informasi yang terpampang di depan mata. Kurangnya minat literasi juga menjadi penyebab tidak melakukan verifikasi ulang suatu informasi.

Terakhir, komentar seperti “share = pahala” dan “like = amin” membuat masyarakat percaya dengan berita yang disebarkan. Komentar semacam ini disebut spam comment. Spam comment menjadi ajang kepopuleran suatu akun. Semakin banyak spam comment, semakin populer dan menjadi sumber informan terpercaya.

Pahlawan Pandemi HOAX-19

Jika ditanya, “Sebagai seorang pengguna aktif media sosial, apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran hoaks?” Jawabannya tidak jauh dari melakukan crosscheck dan menghukum penyebar. Sayangnya itu jawaban untuk memuaskan penanya.

Pada kenyataannya, mencegah penyebaran hoaks secara keseluruhan sangatlah sulit, butuh biaya besar dan campur tangan banyak pihak, serta jangka waktu yang lama. Jikalau menemukan hoaks bersebaran di dunia maya, kita tidak pernah melakukan crosscheck dan memberikan fakta sebenarnya kepada publik. Yang ada malah di-bully habis-habisan oleh netizen.

Lalu apa yang harus dilakukan? Diam saja. Warganet sekarang sangat kejam. Hoaks menjadi fakta, fakta menjadi hoaks. Jika ada yang menentang, dianggap pemberontak dan di-bully.

Namun diam bukan cara utamanya. Banyak media sosial yang memberikan layanan untuk melaporkan posting-an, komentar, dan caption negatif. Tidak membalas balik hoaks dengan hoaks. Memberikan informasi yang benar dengan sumber rujukan jelas dan adanya penelitian yang tepat. Jangan mem-posting komentar jahat pada hoaks, namun memberikan arahan dan mempertanyakan kebenarannya dengan tidak menggurui. Tidak dianjurkan untuk mencapur masalah pribadi ke dalam informasi valid.

Tidak ada cara pasti dalam menghadapi hoaks yang beredar luas. Bertindak sesuai kondisi merupakan hal bijak yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyebaran. Tidak semua hoaks dapat di-takedown setelah mendapat laporan. Jejak media sosial abadi, jadi hoaks tidak mungkin hilang begitu saja.

Melawan pandemi HOAX-19 lebih sulit dari pada menekan penyebaran COVID-19. Menjadi pahlawan pandemi HOAX-19 tidak akan dikenang, dan harus menerima risiko besar juga. Namun tidak ada hal yang tidak mungkin jika memang dari awal sudah memiliki niatan untuk menghentikan penyebaran hoaks.

Bagikan :

4 Comments

  • IGNOS

    Inilah tanda-tanda jaman, banyak orang yang tersesat karena berita bohong, maka caranya dengan kroscek seperti yang telah disampaikan pada artikel di atas dan tidak mudah terpedaya dengan berita-berita yang belum pasti kebenarannya. Terima kasih Artikel Anda telah mendidik masyarakat.

  • Sielara

    Bener” gambarin sama apa yang terjadi sekarang sih, relate namun ada bedanyaa
    Dengan gini, bisa menimbulkan semangat positif dikalangan kita, remaja, dewasa, buat sebar kebaikan terutama dalam melawan berita hoax
    Stay health buat author!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *