Saturday, July 13

Populisme, Perlu Gak Sih?

Pada tahun 2019 ini rakyat Indonesia hendak mengadakan pesta demokrasi yaitu pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. Para kandidat sedang intensif mengadakan kampanye, mengutarakan janji-janji untuk memimpin Indonesia 5 tahun kedepan.

Rakyat Indonesia tidak hanya dihadapkan pada pilihan antara pasangan nomor 1 dan 2. Beberapa orang memillih paslon 1, namun ada juga yang hendak memilih paslon 2. Dalam hal ini ada satu isu yang membayangi pemilihan presiden, yaitu soal populisme. Pemimpin populis adalah pemimpin yang disukai oleh rakyat dan dalam kampanye akan mengutarakan bahwa dalam janji-janjinya mengakomodasi apa yang rakyat butuhkan. 

Ketika kemarin mengikuti simulasi debat dalam Cogito, saya mendapat beberapa pemahaman baru. Mosi yang ditampilkan adalah pemimpin populis di Indonesia perlukah? Memang dalam simulasi debat tersebut saya masih belum menangkap perdebatan kawan-kawan. Namun saya sendiri berpendapat bahwa pemimpin populis di Indonesia sangat dibutuhkan. Pertama karena negara Indonesia adalah negara demokrasi yang mengedepankan rakyat, sehingga rakyat akan menentukan sendiri pilihan mereka. Jikalau seorang pemimpin tidak disukai oleh rakyat bagaimana dia bisa memimpin? Mau melalui pemaksaan? Tentu tidak bisa, malahan rakyat akan memberontak. Oleh karena itu Pemimpin yang populis diperlukan di Indonesia. 

Kemudian pemimpin populis diperlukan oleh karena dalam membuat kebijakan tentu saja pemimpin akan mengambil aspirasi rakyat untuk kebijakannya. Pemimpin yang populis dapat menimba aspirasi itu dan tentu rakyat akan mau karena pemimpin itu mereka sukai. Dalam negara berkembang seperti di Indonesia penting sekali untuk memiliki pemimpin yang populis oleh karena rakyat butuh figur pemimpin yang berwibawa dan dianggap mampu mewakili aspirasi mereka. Figur seorang pemimpin yang disukai rakyat memang mengiringi perjalanan politik di Indonesia oleh karena ada pemilu. Oleh karena ada pemilu, pemimpin akan berlomba-lomba untuk merebut hati rakyat. Dan akhirnya pemimpin yang banyak didukung rakyat akan menjadi pemimpin. Namun siapakah pemimpin itu?  

Menurut Kartini Kartono, definisi Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan dalam satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Kiranya disini pemimpin merupakan seorang yang memiliki kecakapan sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain. Bagaimana mungkin seorang pemimpin tidak mampu mempengaruhi orang-orang lain. Pemimpin disukai rakyat oleh karena ia dipandang mampu memimpin, bukan sekedar rakyat memilih yang berduit. Masyarakat bisa melihat sendiri pemimpin yang cakap dan kurang cakap dalam memimpin. 

Presiden Soekarno pada masa menjadi presiden menurut penulis adalah pemimpin yang populis. Soekarno banyak didukung oleh rakyat Indonesia yang begitu merindukan pemimpin yang cakap memimpin mereka. Seperti definisi pemimpin di atas, salah satunya adalah mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Soekarno dalam kepemimpinannya begitu mencolok dengan kemampuan pidato yang membuat banyak rakyat begitu bersimpati padanya. Melalui sarana pidato itulah Soekarno mampu mempengaruhi rakyat dan pada akhirnya mampu menggerakkan rakyat.

Presiden Soekarno dapat disinyalir merupakan pemimpin yang populis, oleh karena banyak rakyat bersimpati padanya dan dengan kecakapannya Soekarno mampu menggerakkan rakyat. Pemimpin yang populis seperti Soekarno tentu tetap diperlukan di Indonesia. Penerapan demokrasi di Indonesia tentu berpengaruh dalam pemilihan presiden sebagai kepala negara. Jikalau seorang calon pemimpin tak mampu mempengaruhi rakyat untuk memilihnya, percuma saja meski ia memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memimpin. Kualitas seorang calon pemimpin akan dilihat secara langsung oleh rakyat ketika ia berkampanye maupun berdebat dengan lawannya. 

Pemimpin populis akan menggunakan retorik-retorik “atas nama rakyat” untuk dapat menarik simpati mereka. Namun kemampuan retorik seorang calon pemimpin menurut penulis harus dimiliki, oleh karena melalui sarana itulah ia dapat mempengaruhi rakyat untuk mendukungnya. Calon pemimpin yang mengobral janji saat kampanye merupakan hal biasa karena mana mungkin ia terpilih jikalau ia tak mampu mempengaruhi semakin banyak orang. Dalam pembuatan janji-janji kampanye, sang calon pemimpin harus mulai dari bawah, apa yang rakyat butuhkan itulah yang terpenting. 

Rakyat  membutuhkan aspirasi/harapannya menjadi kenyataan maka rakyat akhirnya mengusung salah satu calon pemimpin yang mereka anggap mampu mewujudkan harapan mereka. Strategi politik yang dipakai oleh pemimpin populis untuk “menyenangkan” rakyat sah-sah saja dilakukan yang terpenting ia tetap jadi pemimpin dan rakyat tetap menyukainya. Perang wacana untuk mempengaruhi rakyat juga adalah sarana efektif bagi pemimpin populis untuk mendapat simpati rakyat. Oleh karena itu rakyat Indonesia perlu pemimpin populis yang berkharisma dan disukai rakyat banyak. Namun apakah itu tidak membuat kelompok minoritas misal selain islam terpinggirkan? Bagi penulis hal itu tidak menghambat perlunya pemimpin populis di Indonesia oleh karena di Indonesia masih ada dialog. Dialog ini akan menjadi jembatan atas perbedaan, dan pemimpin populis harus juga populer di kalangan non islam supaya semakin bertambahlah kekuatannya. 

Pemimpin yang populis apakah juga berpotensi jatuh ke populisme otoriter? Kemungkinan itu bisa saja terjadi, namun  penulis meragukan hal itu jikalau di Indonesia saat ini. oleh karena dalam pemerintahan ada pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang akan saling memonitor. Kemudian rakyat juga berperan dalam pengawasan kinerja pemimpin. Jikalau pemimpin sudah dianggap tak mampu, rakyat akan meninggalkannya dan mencari pemimpin lain yang dianggap mampu.  Dalam sistem demokrasi rakyatlah yang berkuasa sedangkan pemimpin mendapatkan amanat dari rakyat untuk memimpin.

Alvarado Putra Adi Pratama, Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWM Surabaya

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *