Saturday, April 13

Penghayatan dan Konsep KetuhananMenurut Ajaran Sapta Darma: Sebuah Refleksi Filosofis

Sapta Darma merupakan salah satu bentuk kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan yang Maha Esa di Indonesia. Didirikan oleh Hardjosapoera yang kemudian memperoleh gelar Bapa Panuntun Agung Sri Gautama di Pare, Kediri pada tahun 1952, Sapta Darma percaya kepada Allah Hyang yang maha agung, maha langgeng, maha adil dan maha wasesa.
Tuhan adalah puncak dari segala eksistensi dan subsistensi. Alam semesta merupakan perwujudan dari Tuhan. Tuhan dianalogikan seperti sinar yang sangat besar dan menerangi segala realitas semesta, sedangkan manusia adalah percikannya. Konsekuensinya, manusia juga mewarisi sifat Tuhan, meskipun dengan pemahaman dan skala yang tidak dapat dibandingkan.
Tuhan itu sangat dekat dengan manusia karena percikannya senantiasa memancar dalam seluruh ciptaan. Karena sebagai pancaran Tuhan, roh manusia secara hakikat itu suci dan abadi. Apabila roh tersebut menjadi tercemar, maka jalan pertobatan bisa ditempuh demi sebuah proses manunggaling dengan Tuhan. Kendati demikian, percikan pada setiap orang tidaklah sama karena ada yang menjadi orang kudus dan ada yang menjadi pendosa. Maka, menyembah sesuatu selain kepada Tuhan adalah suatu larangan bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, Sapta Darma juga sangat strict dalam dimensi vertika atau tauhid terhadap Tuhannya.
Selayaknya bentuk kepercayaan lain, Sapta Darma juga memiliki beberapa poin poin ajaran yang harus menjadi tindak-tanduknya, seperti: mematuhi hukum negara, berkontribusi kepada bangsa dan negara, berani hidup dengan kekuatan sendiri, memiliki kehalusan budi pekerti, dan hidup yang sepenuhnya patuh kepada Tuhan yang maha kuasa.
Sesuai namanya Sapta yang berarti tujuh, ajaran luhur yang harus dianut oleh para pengikut Sapta Darma terkristal dalam 7 prinsip yang disebut sebagai Mewarah Pitu, yakni:
1. Beriman dan yakin kepada Tuhan yang maha agung, adil, abadi dan berkehendak.
2. Mematuhi hukum-hukum yang berlaku dalam negara.
3. Berpartisipasi dalam mengabdi sekaligus membela bangsa dan negara.
4. Menolong siapapun tanpa pamrih dan penuh dengan cinta kasih.
5. Berani hidup dengan kemandirian sendiri dan bertanggung jawab.
6. Berbudi pekerti luhur dalam lingkup komunal seperti keluarga dan masyarakat.
7. Meyakini dinamisme dunia yang tidak statis.
Dalam Sapta Darma juga memiliki serangkaian sistem ritus sebagai sebuah medium peribadatan dan simbolik dalam menghayati Tuhan. Ada lambang Semar sebagai wujud kerohanian Ritus yang paling utama dalam Sapta Darma adalah sujud. Sujud adalah sarana dalam menyembah Tuhan, dilakukan minimal selama 30 menit dalam keadaan hening dan menghadap ke timur.
Adapun ketentuan khusus kepada laki-laki yang harus bersila dan perempuan harus bertimpun. Teknik-teknik yang perlu dilakukan juga meliputi mengelola napas, mengosongkan diri, menenangkan diri, dan membuat pikiran senantiasa kosong agar mampu menyatu dengan Tuhan. Sujud dapat dilakukan kapanpun, jika dilaksanakan di sanggar, maka harus pada jam ganjil. Malam Satu Suro merupakan hari besar bagi Sapta Darma.
Di Sapta Darma tidak mengenal konsep tentang adanya persembahan kepada Tuhan. Begitu juga orang yang sangat sedikit atau hampir tidak mendapatkan pancaran Tuhan sama sekali, dia akan menjadi arwah gentayangan yang tidak bisa kembali menyatu dengan sang ilahi. Kecuali, dia didoakan terus menerus oleh orang yang masih hidup dan dilakukan sebuah upaya pemutihan jiwa.
Sapta Darma juga sangat ketat dengan dikotomi antara ilmu hitam dan ilmu putih. Segala bentuk ilmu hitam yang sifatnya untuk memenuhi hasrat-hasrat manusia justru akan menjauhkan manusia dari kesuciannya. Orang yang sudah terkontaminasi oleh ilmu lain tidak bisa mencapai Tuhan dan tidak bisa sujud ibadah. Mereka hanya bisa sujud apabila dilakukan pengruwatan agar bisa menjalani sujud kesempurnaan kembali kepada Tuhan.
Selain sebagai proses untuk mencapai Tuhan, sujud juga merupakan sebuah metode untuk mengendapkan nafsu manusia karena ajaran Sapta Darma percaya bahwa nafsu dan hasrat manusia adalah sumber dari segala penderitaan dan kejahatan. Dari serangkaian penjelasan tentang Sapta Darma, khususnya mengenai ajaran dan konsep Ketuhannya, ada beberapa hal yang perlu di-breakdown. Pertama, gagasan tentang Tuhan yang memercikkan dirinya kepada seluruh manusia dan alam semesta begitu mirip dengan ajaran Plotinus mengenai emanasi bahwa segala sesuatu yang ada di alam realitas merupakan pancaran dari Yang Satu dan Yang Abadi.
Kedua, ada dua kemungkinan apabila kita hendak mendesripsikan konsep ketuhanan yang diyakini oleh umat Sapta Darma secara konseptual, yakni antara monoteisme dan panenteisme. Monoteisme percaya kepada Tuhan yang tunggal dan sifatnya transenden. Tuhan dalam konseps monoteisme seringkali memiliki jarak dengan dunia dan tentu saja terdapat distingsi tegas antara alam raya sebagai ciptaan degan Tuhan sebagai pencipta.
Sekilas, ajaran Sapta Darma tentang Tuhan dapat fit ke dalam Tuhan dalam pengertian monoteisme. Akan tetapi, di sisi lain disebutkan bahwa Tuhan menurut Sapta Darma juga memanifestasikan dirinya ke dalam alam semesta dan keseluruhan alam merupakan percikan dari Tuhan. Bahkan, ada upaya dari manusia untuk proses bersatu dengan Tuhan secara batiniah di mana cukup mustahil dalam ajaran mainstream monoteisme, khususnya Abrahamik. Maka, dapat dikatakan juga bahwa konsep Ketuhanan dalam Sapta Darma juga cenderung kepada panentheisme. Panentheisme sendiri merupakan pandangan filosofis bahwa Tuhan itu adalah transenden namun sekaligus imanen.
Panentheisme merupakan upaya jalan tengah untuk menjembatani monoteisme dengan pantheisme, di mana dalam panentheimse kedudukan Tuhan lebih tinggi dari alam semesta namun alam semesta bukanlah bagian terpisah dari Tuhan. Hal ini yang membedakan dengan pantheisme yang menganggap bahwa Tuhan dan alam semesta itu sebagai ada yang serupa.
Cara mendekati dan menemukan Tuhan dalam Sapta Darma juga khas dalam paradigma Timur bahwa hal-hal seperti meditasi yang mengolah rasa, diri, pikiran dan kemudian mengosongkannya adalah cara untuk bagaimana kita bisa sampai kepada Tuhan. Hal ini dapat dipahami bahwa dalam andaian kepercayaan timur, aspek-aspek material adalah hal yang memenjarakan kita untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi, yakni spiritualitas.
Sapta Darma juga percaya dengan realitas yang senantiasa berubah karena kekuatan adikodrati Tuhan tidaklah berhenti setelah proses penciptaan dan emanasi. Hal ini relevan dengan apa yang digagas oleh Herakleitos bahwa realitas itu senantiasa berubah dan menentang pandangan kaum deisme bahwa Tuhan tidak terlibat lagi setelah penciptaan.
Ajaran-ajaran yang tertuang dalam 7 prinsip Mewarah Pitu, bagi penulis, mengandung nilai-nilai universal yang juga dipercayai dan dipraktikkan oleh kebanyakan sisten ajaran lain. Seperti berbuat baik kepada seluruh umat manusia dan alam dengan penuh cinta kasih serta tanpa pamrih, mengakui Tuhan sebagai entitas yang tertinggi, dan juga andaian bahwa manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dimensi sosialnya. Maka, dapat disimuplkan bahwa kebaikan itu adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesamanya dan juga alam.
Dalam dimensi etisnya, Sapta Darma juga mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang memang udah menjadi kerangka acuan berpikir manusia Jawa dan berkelindan juga dengan pandangan-pandangan etis dalam peradaban lain yang mengutamakan kebaikan kepada orang lain tanpa pamrih, mengutamakan kehidupan komunal dengan kontribusi pada bangsa dan negara serta hubungan vertikal yang baik dengan Tuhan.
Andaian bahwa Tuhan dan alam semesta tidak berjarak ini memberikan sumbangan positif bagi manusia karena dengan demikian, manusia akan menganggap bahwa keseluruhan alam diselimuti oleh Tuhan. Dalam konteks etika lingkungan hidup, pandangan tersebut akan memberikan cara berpikir dan bertindak yang lebih menghargai alam demi mengantisipasi perbuatan yang dapat menyebabkan bencana ekologis akibat ulah manusia karena Sapta Darma percaya bahwa alam itu hidup.
Persoalan epistemologis tentang bagaimana manusia dapat mengetahui Tuhan juga menjadi bahan pertimbangan. Hal ini dikarenakan menurut studi kualitatif yang dilakukan oleh penulis berupa wawancara langsung kepada pengikut Sapta Darma, penulis secara subjektif kurang memperoleh insight tentang bagaimana pengikut Sapta Darma dapat memperoleh pengetahuan terhadap Tuhan.
Dari hasil tanya jawab, disebutkan bahwa Tuhan itu diketahui lewat proses-proses batiniah dengan cara-cara olah batin dan melakukan ritus seperti bermeditasi. Akhirnya, dalam kerangka memperoleh pengetahuan, apakah hati dan intuisi manusia itu merupakan alat dan sumber pengetahuan yang sah untuk mendapat kebenaran epistemik?
Namun, hal yang patut disoroti adalah fakta bahwa seperti kebanyakan ajaran timur lainnya, Sapta Darma juga mengakui bahwa pikiran adalah semacam bentuk resistensi agar kita dapat berproses untuk menuju kesatuan dengan Tuhan. Paradigma seperti ini dikhawatirkan akan membuat seseorang yang berkepercayaan dapat cenderung menuju fideistik, yang merupakan semacam penyakit yang diderita oleh pengikut agama-agama besar lain di dunia.
Karena ironisnya, slogan yang sering diucapkan oleh penganut Sapta Darma adalah “salam waras”. Apakah dengan demikian, kewarasan itu didefinisikan sebagai suatu kondisi ketika tidak berpikir dan kosong? Lalu, jika bukan melalui akal budinya, bagaimana manusia dapat memahami serta mengambil suatu tindakan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kebaikan yang rasional?
Hal lain yang bagi penulis harus dipikirkan lebih hati-hati lagi adalah adanya pengakuan bahwa percikan dari Tuhan kepada seluruh manusia itu berbeda-beda sehingga ada manusia lain yang secara kesucian lebih tinggi dari yang lain. Hal ini membingungkan bagi penulis tentang andaian bahwa Tuhan itu maha adil, lantas mengapa ada manusia yang more equal than others? Bagaimana memahami konsep keadilan itu sendiri pada akhirnya, termasuk atribut adil yang dilekatkan kepada Tuhan?
Konsekuensi logisnya, akan ada dikotomi antara orang suci dan yang kurang suci di mana hal tersebut akan membentuk hirarki antar manusia. Jika hal ini menjadi pandangan dominan, justru akan menjadi berbahaya karena bisa akan berakibat sama dengan apa yang dialami oleh orang Eropa pada Abad Pertengahan dan umat Muslim pada masa kontemporer.
Padahal, andaian bahwa manusia itu setara menjadi penting bagi terbebasnya orang-orang Eropa yang terbelenggu oleh sistem teokrasi dan fideistik yang totaliter. Sikap nrima ing pandum yang memang menjadi ciri antropologis manusia Jawa seringkali membuat masyarakatnya mengiyakan begitu saja apabila terdapat penindasan dan penderitaan.
Jika kita bertolak dari pemikiran Theodor Adorno misalnya, kondisi faktisitas yang terarah pada penderitaan yang dialami tidaklah cukup hanya direspon dengan berkontemplasi dan menginterpretasikannya. Harus ada upaya untuk mengubah keadaan agar manusia mampu mengisi ke-ada-annya secara lebih aktif agar kondisi hidupnya menjadi lebih baik, bukan pasif dengan menerima segala hal secara deterministik.
Sapta Darma juga menganggap kehidupan itu sangatlah berarti dan memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap nyawa manusia. Sehingga dalam diskusi, dikatakan bahwa perbuatan seperti aborsi itu dilarang karena akan menghilangkan nyawa manusia. Persoalannya, apakah Sapta Darma juga sangat strict dalam isu ini tanpa mempertimbangkan aspek-aspek partikularnya sebagaimana yang dipercayai oleh sebagaian ajaran Abrahamik?
Bagaimana misalnya bahwa janin yang dikandung oleh seorang perempuan itu merupakan hasil dari pemerkosaan? Apakah si perempuan masih memiliki obligasi untuk membesarkannya dan malahan nyawanya sendiri yang terancam? Apalah dengan demikian calon manusia yang masih berupa fetus lebih berharga daripada perempuan itu sendiri yang secara real dan konkret sudah menjadi manusia?
Jadi, sebagaimana bentuk ajaran dan kepercayaan lain, Sapta Darma memiliki ajaran-ajaran yang universal tentang bagaimana itu berbuat baik dan seperti apakah Tuhan itu serta hubungannya dengan manusia dan bagaimanakah manusia itu sendiri kita maknai. Terdapat konsep dan ajaran yang mengarahkan kepada kebaikan.
Namun, perlu digarisbawahi juga, sebagaimana ajaran lain, Sapta Darma juga perlu direfleksikan lagi secara filosofis agar kita mampu mendapatkan kejernihan secara konseptual dan implikasi-implikasi apa saja yang dapat dihasilkan dari suatu ajaran. Sehingga, spirit bahwa segala bentuk suprastruktur yang berasal dari manusia tidak akan pernah bisa luput dari investigasi tersebut karena kita semua menuntut pada sikap keterbukaan pada setiap pengikut suatu kepercayaan.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *