Thursday, February 22

Pengejaran yang Sia-sia

Ditulis oleh Gabriel Julian Yogananda, Siswa SMAK Seminari Mertoyudan

Perkembangan media digital benar-benar memberikan kemudahan pada pengaksesan informasi. Dulu sebelum kemunculan internet, komunikasi dengan teknologi hanya sebatas hubungan searah seperti televisi dan radio serta komunikasi personal seperti SMS dan telepon. Sekarang, dengan hadirnya internet dan media digital (termasuk media sosial) kesempatan untuk menyebarkan konten secara masif terbuka lebar dan masyarakat memiliki keleluasaan untuk menyebarkan informasi sebanyak-banyaknya. Namun, kehadiran internet dan media digital tidak lantas menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Malah, kedua hal ini melahirkan bertumpuk-tumpuk masalah baru yang lebih rumit daripada sebelumnya. Konsumsi masyarakat urban yang sangat tinggi pada internet menggeser pandangan masyarakat tentang realitas dan standar hidup ideal.

Guy Debord dan Masyarakat Tontonan

Guy Luis Debord, atau biasa dikenal sebagai Guy Debord, (1931-1994) adalah seorang filsuf kontemporer dan pakar Marxisme berkebangsaan Perancis. Debord mengembangkan pemikiran Karl Marx tentang hubungan masyarakat dengan komoditas. Jika Marx mendasarkan nilai individu pada seberapa banyak seseorang terlibat dalam system produksi, Debord berfokus pada persoalan ketika nilai seseorang hari ini ditentukan oleh seberapa banyak ia berkontribusi dalam system konsumsi. Hari ini seseorang bekerja bukan karena ingin mengaktualisasikan dirinya, tetapi sekadar mencari upah untuk memenuhi hasratnya membeli komoditas (Wark, 2013: 5). Ia menyatakan bahwa sejarah kehidupan sosial dapat dipahami sebagai penurunan dari being menjadi having dan dari having menjadi appearing semata (Debord, 2004).

Debord memberikan term baru pada penurunan nilai masyarakat menjadi appearing semata, yakni spectacle. Dalam Bahasa Indonesia, spectacle secara harafiah diartikan sebagai tontonan. Namun, spectacle tidak sekadar tontonan atau kumpulan gambar. Spectacle lebih kepada hubungan social yang dimediasi oleh gambaran-gambaran (Debord, 2004). Yang dimaksud hubungan social di sini bisa berupa standar hidup ideal, status sosial seseorang, serta identitas dan eksistensi individu di mata masyarakat. Masyarakat tontonan (spectacle society) menandai transisi dari konsumsi barang ke konsumsi gambar atau citra.

Kemunculan media sosial merombak segala aspek kehidupan masyarakat. Dari cara masyarakat berkomunikasi hingga ranah eksistensi individu. Gambar yang diunggah ke media social tidak hanya sekadar gambar saja. Gambar tersebut membawa serta representasi masyarakat, standar ideal, komoditas, bahkan nilai individu. Imaji-imaji (image) itu mengandung berbagai fantasi yang menunjukkan nilai individu atau untuk membangun fantasi yang merepresentasikan individu si pengunggah imaji. Bagaimana ia ingin dilihat masyarakat dan di posisi mana ia berada dalam kelas social. Guy Debord dalam spectacle society nya melihat kecenderungan masyarakat saat ini lebih memilih media gambar atau visual yang memiliki penegasan penampilan dan kehidupan social untuk menginterpretasikan sesuatu. Ia meyakini bahwa spectacle society merupakan main production of present day society atau komoditas utama masyarakat saat ini.

Masyarakat Tontonan Sekarang

Sebagaimana yang saya tuliskan di paragraf-paragraf awal, hubungan sosial dalam spectacle bisa berupa standar hidup ideal, status sosial seseorang, representasi nilai, identitas dan kelas sosial individu dalam masyarakat. Di Instagram misalnya, kita sering melihat orang-orang yang rutin mengunggah foto dirinya atau membuat instastory untuk menunjukkan aktivitasnya ke followersnya. Tak jarang hal-hal yang masuk ke ranah privat juga ikut diunggah ke Instagram. Baru-baru ini, video siscakohl yang menceritakan bagaimana ia menabung hingga menapai ratusan juta adalah contoh konkret “masyarakat tontonan”. Lewat video itu ia berhasil membangun narasi tentang siapa dirinya, memenuhi standar ‘kaya’ masyarakat, dan menaikkan status sosialnya. Banyak video-video serupa yang menunjukkan bahwa media sosial merupakan gelanggang mahaluas untuk menaikkan status sosial lewat pembangunan citra diri dan pemenuhan standar ideal masyarakat.

Konten-konten di media sosial telah mewujudkan gagasan ‘masyarakat tontonan’ bahwa representasi lebih penting daripada hal yang direpresentasikan. Foto seseorang mengenakan sepatu Air Jordan lebih penting daripada fakta bahwa orang itu bisa bermain basket. Semua dirancang untuk menunjukkan kepada masyarakat sebuah standar hidup yang patut dikejar. Masyarakat akan hidup dalam upaya tiada akhir untuk mengejar bayang-bayang ideal yang kerap disebarkan lewat media sosial. Pengejaran tiada akhir ini akan menyebabkan degradasi autentisitas individu, sehingga seseorang hidup hanya untuk memenuhi standar ideal masyarakat.

Belakangan ini kita melihat banyak konten media sosial yang mempercepat degradasi autentisitas individu. “Berapa Harga Outfit Lo” merupakan contoh terbaik. Konten ini pernah trending beberapa waktu lalu. “Berapa Harga Outfit Lo” merupakan konten video berbentuk wawancara kepada pengguna pakaian merek terkenal yang dengan bangga mengenakannya untuk menunjukkan status sosialnya di masyarakat. Video ini tidak berisikan apapun kecuali menyebut merek dan harga pakaian yang dikenakan. Sejak saat itu, banyak orang berlomba-lomba mengenakan pakaian dengan harga setinggi langit hanya supaya mereka bisa menjadi sasaran konten tersebut.

Dalam kehidupan anak-anak muda sekarang, konten-konten seperti ini berpengaruh sangat besar dalam membentuk konsepsi mereka tentang kehidupan ideal. Anak-anak yang mengenakan pakaian dengan brand terkenal cenderung menjadi pusat perhatian daripada mereka yang berpakaian biasa-biasa saja. Di ruang-ruang publik, mereka berusaha memenuhi standar ideal masyarakat supaya menjadi pusat perhatian. Maka, tak jarang kita menemui anak perempuan umur 15 tahun yang bermake up tebal layaknya gadis kuliahan atau anak-anak laki-laki yang berkonvoi dengan mogenya bersama teman mereka. Hal-hal seperti ini demi memenuhi standar tampan dan cantik menurut masyarakat. Sayangnya, standar semacam itu tidak akan pernah ada batasnya. Akan selalu ada standar-standar ideal baru yang muncul di masa depan dan lagi-lagi standar-standar baru itu akan minta dipenuhi.

Refleksi

Internet dan media sosial bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membangun dan memajukan peradaban, sedangkan sisi satunya memiliki kekuatan peghancur tak terkira. Kita hidup di zaman nilai diri kita hanya sebatas appearing semata. Appearing merupakan inti dari spectacle society dan spectacle society disokong oleh media sosial. Jadi, selama media sosial belum hilang kita tidak akan pernah lepas dari lingkaran ini. Bahaya degradasi autentisitas selalu mengintai dibalik media sosial. Sekeras apapun kita mencoba, tidak ada jalan keluar untuk lari dari spectacle. Inilah yang harus pertama-tama kita sadari bahwa kita terjebak dalam spectacle.

Jadi, apakah kita hanya bisa berserah diri pada spectacle ini dan membiarkan jati diri kita tergerus seluruhnya? Tidak. Tentu tidak. Masih ada yang bisa kita lakukan. Masih ada jalan untuk menyelamatkan jati diri kita. Ambillah jarak dari segala keriuhan dunia ini. Carilah keheningan dan untuk sejenak mari menonton segala tingkah polah manusia. Keheningan mengisi kembali jiwa kita yang tergerus oleh keriuhan media sosial. Keheningan membantu kita menemukan isi dari keramaian, menyadarkan kita siapa diri kita sebenarnya, apa yang kita mau, apa arti segala keramaian ini bagi kita, untuk apa kita mengejar kehidupan ideal di mata masyarakat, dan akhirnya, keheningan membantu kita mencintai diri kita sendiri. Kemudian kita bisa kembali menjalani keseharian dengan kesadaran baru terhadap diri sendiri.

Di satu sisi kita tidak bisa secara gamblang mengamini doktrin “be yourself”. Identitas diri kita dibentuk oleh banyak faktor di luar diri kita. Lingkungan, tatanan sosial, ideologi, sistem sosial, ajaran-ajaran agama, budaya, adat, dan tradisi ikut membentuk jati diri kita. Mengingkari hal itu dan mencoba berdiri sendiri melawan semuanya merupakan sebuah kesia-siaan. Kita perlu sadar sampai sejauh mana “be yourself” bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari.

Seperti yang saya katakan di awal bahwa internet dan media sosial bagaikan dua mata pisau bagi masyarakat. Satu sisi membangun, sisi lainnya menghancurkan. Yang perlu kita lakukan adalah memegang gagang di tengah-tengah dua mata pisau itu dan menyeimbangkannya. Jangan sampai terlalu berat sebelah. Semua kendali ada pada kita. Untuk membangun atau untuk menghancurkan. Dua pilihan itu berada di tangan kita. Akhirnya, internet dan media sosial merupakan berkah terbesar bagi peradaban manusia yang diikuti dengan potensi kehancuran masal di belakangnya.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *