Thursday, December 2

Pemuda Menghadapi Pandemi dan Dunia Maya

Ditulis oleh Nikolas Wirayodha, Siswa SMAK Seminari Garum

Tahun 2020 awal Indonesia dilanda Covid-19. Sudah lebih dari 1 tahun masyarakat Indonesia berjuang menghadapi wabah ini. Siapa sangka wabah ini, menyebar begitu luas dan telah wabah internasional? Pandemi lebih tepatnya. Lantas bagaimana para pemuda menghadapi pandemi yang sudah berjalan 1 tahun ini? Pemuda yang biasa lebih aktif bergerak, pemuda yang biasanya memiliki energi yang banyak, dan pemuda yang selalu ingin melakukan kegiatan di luar. Kini mereka dipaksa untuk berdiam diri di rumah, kini mereka dipaksa untuk lebih sering berhadapan dengan dunia maya, meskipun pada kenyataannya pada saat normal mereka melakukan itu, kini mereka dipaksa untuk meredam energinya dalam aktivitas-aktivitas di luar.

Pandemi ini tidak bisa dipungkiri merubah banyak kebiasaan hidup manusia di dunia ini.

Yang awalnya keluar tidak perlu pakai masker, kini wajib pakai masker. Yang awalnya keluar bisa kapan saja, kini ada pembatasan jam. Yang awalnya sekolah bisa bertemu langsung, kini harus lewat daring/online. Yang dulu bisa pergi berkumpul bersama tanpa memerhatikan jarak, kini jarakpun diperhatikan. Bahkan, kuota orang di dalamnya pun diperhatikan, dan masih banyak lagi. Tidak bisa dipungkiri pula pandemi ini memberikan banyak pembatasan dalam diri manusia. Pandemi ini banyak mengubah cara hidup manusia. Pandemi ini menghadapkan manusia dengan cara hidup baru. Yang di dalamnya bisa jadi manusia khususnya para pemuda, belum siap menghadapinya. Jika para pemuda yang hidup di zaman normal saja masih bisa kehilangan jati diri. Bagaimana dengan pemuda saat ini? Yang kesehariannya bisa dibilang lebih banyak di dunia maya.

Tidak selamanya dunia maya itu jelek. Tidak selamanya dunia digital itu jelek. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya? Tinggal bagaimana kita memandangnya? Sebenarnya dunia maya itu khususnya dunia dunia digital memiliki banyak macam manfaat yang ditawarkan kepada para pemuda. Mereka bisa saling bekerja sama untuk menunjukan kreativitasnya. Mereka dapat mengeksplor bakatnya lebih dalam lagi, karena mereka sering menghabiskan waktu di rumah. Jadi sebenarnya lewat pembatasan-pembatasan yang diberlakukan karena pandemi ini, jika mereka dapat memanfaatkannya dengan baik, jika mereka dapat melihat celah yang ada, sebenarnya mereka dapat keuntungan yang besar. Mereka dapat melawan batasan diri mereka dalam pembatasan yang ada. Tetapi mengapa banyak pemuda yang kehilangan jati diri mereka? Banyak yang hanya mengikuti arus serta banyak yang merasa bosan akan keadaan ini. Seolaholah pandemi ini hanyalah konspirasi yang dibuat oleh manusia, seolah-olah pandemi itu karangan cerita manusia, seolah-olah pandemi hanya fiktif belaka, dan masih banyak lagi,.tidak bisa dipungkiri lagi jika, manusia khususnya para pemuda mulai bermunculan pemikiran seperti ini. Hal ini disebabkan karena kehidupan yang monoton. Mereka setiap harinya dihadapkan dengan kegiatan yang sama, topik yang diangkat juga sama, serta seolah-olah hal ini tidak ada habisnya. Pemikiran ini tidak akan muncul, jika para pemuda dapat memaknai setiap peristiwa hidup mereka, meskipun kegiatannya sama, tetapi dalam pemaknaannya pasti berbeda. Karena pemikiran manusia setiap harinya berkembang. Selain itu banyak banyak pemuda zaman sekarang yang hidup di dalam budaya kesementaraan.

Banyak pemuda zaman sekarang yang merasa bosan, susah mencari jati dirinya, hanya mengikuti arus yang ada, dan masih banyak lagi. Hal ini di sebabkan karena mereka sekarang hidup di dalam budaya kesementaraan. Budaya kesementaraan adalah sebuah gaya hidup di mana niat manusia bisa berubah sewaktu-waktu. Bisa dibilang nama lain dari budaya kesementaraan adalah cinta sesaat. Dan tentu hal ini sangat merugikan para pemuda. Jika mereka terus hidup dalam kebudayaan ini, mereka akan kesulitan untuk mencari jati dirinya. Karena mereka hanya mengikuti arus yang ada. Mereka akan menjadi pemuda yang tidak memiliki pendiriaan, karena mereka hanya senang mengikuti kebiasaan orang lain. Dalam kebudayaan ini mereka akan sulit melawan batasan diri mereka. Misalnya jika mereka ingin mahir bermain gitar, tetapi setelah beberapa minggu latihan mereka bosan, akhirnya ganti alat musik lain. Tentu hal ini tidak mengembangkan apa yang ingin mereka kembangkan. Karena apa yang ingin mereka dalami belum mereka dalami sampai dalam. Jika saat apa yang mereka lakukan dirasa membosankan, lalu ganti hal lain. Itu sama saja mereka lari dari kenyataan. Mereka tidak dapat mencari kebahagiaan, dari hal yang membosankan tersebut. Hasilnya apa? Mereka gampang untuk mengeluh. Buktinya apa? Munculnya pemikiran tentang konspirasi Covid-19, pernyataan bahwa wabah ini adalah mitos, dan masih banyak lagi. Jika mereka dapat bertahan dalam kebosanan dengan mencari kebahagiaan/ hal yang positif dari sesuatu yang membosankan ini, tentunya tidak akan pernah muncul pemikiran/ keluhan seperti ini. Karena kebahagian itu selalu menyenangkan, bebas, dan tidak terpaksa. Dan orang yang bahagia itu tidak akan pernah mengeluh, karena mereka akan menerima keadaan yang ada. Tetapi orang yang merasa bosan jenuh dan lainnya itu sebenarnya disebabkan oleh penolakan yang terjadi dalam dirinya. Jika mereka menerima keadaan yang ada, sudah pasti mereka tidak merasa bosan.

Tentu dalam dunia ini ada sesuatu yang bisa kita kontrol seperti suasana hati, sikap kita, dan lain-lain. Ada juga yang tidak bisa kontrol seperti kesehatan, kematian, kekayaan, dan lainlain. Hal yang tidak bisa kita kontrol, masih bisa kita usahakan. Tetapi bagaimana jika sesuatu yang tidak bisa kita kontrol itu datang menimpa kita, khususnya hal yang tidak mengenakan seperti kematian, wabah penyakit, dan lain-lain. Tentu pemuda yang tidak memiliki pendirian hanya mengikuti arus yang ada, bahkan yang lebih parah lagi mereka hanya meratapi nasib mereka, tanpa melakukan perubahan yang ada untuk merubah nasib mereka ke arah yang lebih baik lagi. Berbeda dengan pemuda yang tidak mengikuti arus yang ada. Karena mereka mengerti dapat mengontrol suasana hatinya, sikapnya, dan lain-lain. Tentu mereka dapat mengubah sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif.

Hidup manusia itu seperti pegas, tekanan yang diberikan itu seperti rintangan hidup, dan reaksi yang diberikan itu seperti buah yang dihasilkan. Jika manusia mendapatkan rintangan hidup sedikit-sedikit mengeluh,lari kenyataan, dan lain-lain. Otomatis reaksi pegas yang dihasilkan kecil. Karena aksi yang diberikan sedikit. Tetapi jika para pemuda terus menghadapi rintangan tersebut otomatis reaksi yang dihasilkan besar, karena aksi yang diberikan juga besar. Dan bisa juga hasil yang dihasilkan lebih besar dari perkiraan kita.

Tidak selamanya dunia maya itu buruk, tidak selamanya masa pandemi itu buruk, dan tidak selamanya rintangan yang ada di dalam hidup kita itu buruk. Karena manusia memiliki akal dan budi untuk memaknai setiap peristiwa hidup mereka. Meskipun peristiwa yang dialami itu sama, belum tentu hasil dari pemaknaannya sama, karena pemikiran manusia selalu berkembang. Oleh karena itu para pemuda harus senantiasa merefleksikan setiap peristiwa hidup mereka, tidak hanya sekedar merefleksikan. Tetapi, melakukan apa yang telah direfleksikannya, agar refleksi itu tidak hanya menjadi refleksi yang kosong tanpa adanya sesuatu yang dilakukan untuk melakukan perubahan. Karena hidup akan bermakna jika dimaknai.

Bagikan :

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *