Saturday, July 13

Pemuda Indonesia di Tengah Fenomena Larisnya Teori Konspirasi Covid-19

Ditulis oleh Hardina Diva Ananda, Siswi SMAN 2 Nganjuk

Pandemi COVID-19 membawa perubahan bagi pola kehidupan masyarakat. Dulu, bersalaman adalah hal yang lumrah untuk melengkapi sebuah kalimat sapaan. Kini, hal tersebut menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Berjalan berimpitan dengan teman tanpa masker dapat menjadi sasaran kritik bagi masyarakat yang memergokinya. Mobilitas pun tidak dapat sembarangan dilakukan. Ketika ada beberapa orang yang pulang dari daerah berzona merah COVID-19, walaupun hasil tes usap mereka menunjukkan tanda negatif, tetap saja dapat menjadi sumber ketakutan baru bagi masyarakat sekitarnya.

Saat ini, masyarakat seolah hidup terpenjara. Jikalau mobilitas dibatasi oleh kebijakan pemerintah, maka kontak sosial primer diawasi oleh kekhawatiran dalam diri, yakni ketakutan terhadap penularan penyakit COVID-19. Kondisi seperti ini mengakibatkan tekanan psikis bagi masyarakat. Akhirnya, media sosial menjadi pelarian yang ampuh bagi masyarakat untuk melepaskan beban pikiran.

Permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Ternyata, media sosial menimbulkan permasalahan baru. Selama pandemi, rupanya media sosial menjadi wadah bagi berkembangnya teori-teori tanpa penulis dan metode penelitian. Meskipun tidak memiliki sumber yang jelas, teori-teori konspirasi ini terlihat lebih diterima oleh masyarakat. Bahkan, sebagian besar masyarakat mulai menganggap teori-teori tersebut bukanlah sebuah dugaan belaka, melainkan sebuah fakta tertunda yang telah membuka perspektif mereka menjadi lebih luas. Terbukti, survei yang dilakukan oleh Narasi dan Jakpat melaporkan bahwa 17% dari 2006 responden percaya bahwa Covid-19 adalah konspirasi. Selain itu, survei yang dilakukan oleh Spektrum Politika Institut melaporkan sebanyak 39,9% responden Sumatera Barat menganggap Covid-19 adalah bagian dari konspirasi.

Mungkinkah virus corona memang sengaja diciptakan untuk menyukseskan perekonomian China? Lihat saja kondisi saat ini, perekonomian China justru tumbuh 4,9 persen. Hal ini tentu saja dapat terjadi mengingat China merupakan pencipta vaksin dan alat pendeteksi virus corona. Lalu, bagaimana dengan Bill Gates? Ia pernah meramal keberadaan pandemi ini pada enam tahun yang lalu. Mungkin saja Bill Gates adalah dalang dibalik pandemi ini dan memanfaatkan penyuntikan vaksin untuk menanamkan microchip agar dapat mengawasi pergerakan setiap orang. Bill Gates mungkin saja turut bekerja sama dengan China. Seperti itulah contoh teori konspirasi yang beredar di media sosial. Ini baru dua teori, masih ada banyak teori-teori konspirasi lain yang telah beredar dan dipercaya banyak orang.

Permasalahan tersebut tentu tidak dapat dianggap sepele. Berkembangnya teori konspirasi ini dapat menyebabkan penolakan masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan hingga enggan melakukan vaksinasi. Namun, pernahkah kita semua berpikir dan mencermati, mengapa teori konspirasi ini begitu laris manis di media sosial?

Teori konspirasi ini pandai berpenampilan. Teori-teori seperti ini hanya didukung oleh sedikit data, sisanya hanya kelihaian merangkai dan menghias argumen. Ia terlihat seperti sebuah informasi yang didukung dengan fakta, padahal hanya termasuk ke dalam salah satu jenis sesat pikir yang tidak disadari orang. Salah satu contohnya adalah Strawman Fallacy atau penafsiran lemah yang dikatakan seolah-olah sebagai pendapat lawan bicara pada teori konspirasi tentang Bill Gates. Enam tahun yang lalu, Bill Gates memprediksi bahwa ancaman global di masa depan adalah virus, bukan perang. Bukannya mempertimbangkan informasinya, para pencipta dan pendukung teori konspirasi langsung menuding Bill Gates sebagai dalang dibalik keberadaan Covid-19. Padahal, wajar saja jika Bill Gates memprediksi hal tersebut, mengingat ancaman yang telah muncul dari keberadaan virus-virus sebelumnya seperti e-bola dan HIV.

Selain itu, teori konspirasi dapat saja menjadi suatu makanan yang digemari karena rendahnya minat baca masyarakat kita. UNESCO menyebutkan bahwa dari 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca. Apabila minat baca yang dimiliki rendah, maka kemampuan berpikir kritis dan menganalisis informasi menjadi minim. Sehingga, bukan tidak mungkin apabila mereka lebih memilih untuk menelan mentah-mentah penjelasan sederhana mengenai teori konspirasi Covid-19 daripada menghabiskan tenaga untuk memahami jurnal dan artikel ilmiah yang cukup rumit untuk menjelaskan mengapa pandemi Covid-19 dapat terjadi.

Pandemi Covid-19 ini menyebabkan segala sesuatu menjadi sangat tidak nyaman. Kita tidak diperbolehkan bepergian secara sembarangan, mengadakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan, dan abai terhadap protokol kesehatan. Beberapa kelompok pekerja diwajibkan mengikuti rapid dan swab test secara rutin. Segala ketidaknyamanan ini, pada akhirnya semakin menyebabkan masyarakat menjadi tertekan. Maka, ketika ada sedikit celah bagi masyarakat untuk memberontak, hal tersebut akan dimanfaatkan dengan sangat baik. Salah satu caranya adalah dengan menerima setiap informasi yang membenarkan ketidaknyamanan masyarakat. Seperti pada kasus penolakan vaksinasi baru-baru ini. Survei yang dilakukan oleh Narasi dan Jakpat melaporkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap teori konspirasi menjadi penyumbang alasan 10,5 persen orang Indonesia enggan melakukan vaksinasi Covid-19.

Kini, internet maupun media sosial merupakan tempat hoaks dan fakta dapat bercampur. Jika tidak dibekali dengan kemampuan memilah informasi dengan baik, maka masyarakat dapat dengan mudah mencurigai suatu informasi yang sudah divalidasi. Kasus terburuknya, masyarakat dapat juga mempertimbangkan ulang hoaks yang terlihat lebih meyakinkan untuk mereka.

Menyikapi hal ini, para pemuda tidak boleh tinggal diam. Para pemuda harus ikut berkontribusi dalam mencegah berkembangnya informasi-informasi tidak benar yang menghambat penanggulangan Covid-19. Langkah pertama yang dapat diambil adalah dengan membangun kebiasaan rajin membaca, serta memilah-milah mana informasi yang memiliki data dari sumber yang terpercaya dan mana yang bukan. Generasi muda hendaknya selalu mempertanyakan setiap informasi yang didapat dan tidak malas dalam menganalisis setiap informasi yang diperolehnya.

Selanjutnya, ketika para generasi muda telah memiliki kemampuan menyaring informasi dengan baik, mereka dapat menjadi agen-agen pemberantas hoaks di setiap lingkungan mereka. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan selalu melakukan diskusi apabila terdapat anggota keluarga atau teman yang terpengaruh dengan informasi yang menyesatkan. Generasi muda ini dapat selalu mengadakan diskusi untuk memberitahukan mana informasi yang benar. Hal ini sekaligus dapat melatih kemampuan berpikir kritis mereka. Selain berdialog dengan anggota keluarga, para generasi muda juga dapat selalu aktif membagikan informasi yang benar di media sosial.

Langkah-langkah tersebut sekilas terlihat sederhana. Namun, apabila seluruh generasi muda turut berkontribusi, maka dampak yang ditimbulkan akan sangat besar. Tidak mainmain, masyarakat akan menjadi sangat menaati protokol pencegahan Covid-19 tanpa ada niat untuk membangkang. Masyarakat tak akan lagi mencurigai kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian, harapan untuk menuntaskan pandemi Covid-19 ini dapat dengan cepat terealisasi.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *