Saturday, April 13

Pemuda dan Konten

Ditulis oleh Nawwaf Alkindi, Siswa SMA-IT Al Uswah Surabaya

2021 merupakan awal bagi kita para pelajar serta pemuda Indonesia. Setelah tahun 2020 kemarin kita melewati banyak sekali cobaan, mulai dari masuknya virus covid-19 ke Indonesia, bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah serta mungkin kondisi ekonomi kita yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi Alhamdulliah kita semua bisa melewati tahun tersebut dengan kuat dan bergerak kedepan untuk melanjutkan hidup. Para pelajar Indonesia juga sudah bisa beradaptasi dengan kondisi yang ada, walaupun terkadang beberapa masih kesuliatan untuk mengikuti jalannya pembelajaran dengan baik, tapi sudah seharusnya kita sebagai pelajar tetap mengikuti kegiatan pembelajaran virtual yang ada. Karena pada dasarnya itu adalah kewajiban kita sebagai seorang pelajar. Setahun pula kita sudah belajar melalui virtual meeting dan tentu saja kegiatan lain seperti les, seminar, organisasi juga dilaksanakan secara virtual. Dengan meningkatnya aktivitas belajar virtual yang dihadiri, maka aktivitas virtual pada penggunaan media sosial juga akan meningkat. Dan saat sedang bermain media sosial pasti tak asing lagi bagi kita mendengar kalimat dunia tipu-tipu.

Saat pertama kali mendengar kalimat “ Selamat pagi dunia tipu-tipu “ di suatu vidio tiktok misalnya, mungkin kita akan berfikir bahwa itu adalah kalimat sapaan untuk kondisi dimana banyaknya penipuan yang terjadi di dunia ini. Banyaknya orang yang sudah tidak bisa dipercaya, serta banyaknya orang yang memiliki kepribadian ganda hanya untuk mendapatkan popularitas semata. Menurut Ari Sipahelut seorang penulis di kompasiana menyebutkan bahwa “Dunia tiputipu” adalah sebutan untuk dunia media sosial, dimana para pengguna media sosial seringkali memakai nama samaran, foto palsu atau akun palsu untuk berselancar di dunia maya. Nyatanya hal tersebut memang benar. Dunia sekarang ini memang banyak tipuan, tipuan yang dimaksud bukan merujuk kepada sebuah penggelapan dana atau kasus korupsi para pejabat, namun lebih kepada dunia yang berisikan orang-orang berkepribadian ganda. Dunia yang berisikan orang-orang palsu serta terkadang tanpa disadari kitalah para pemuda yang menjadi pembentuk kepribadian tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana pemuda bisa menjadi pembentuk kepribadian tipu-tipu, mari sejenak mengingat kebelakang saat para pelajar mulai belajar secara daring untuk pertama kalinya. Bulan April 2020 adalah saat pertama kalinya sekolah di semua jenjang pendidikan mengeluarkan kebijakan pembelajaran secara daring. Para siswa sekolah belajar dari rumah menggunakan media hp atau laptop yang tentunya kedua media tersebut harus tersambung ke jaringan internet. Awalnya siswa mengalami kendala dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, namun lambat laun dengan segala kekurangan yang ada siswa mulai terbiasa. Selama sekolah daring hp, laptop, serta jaringan internet yang cepat merupakan komponen penting yang harus dimiliki para siswa agar bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan maksimal. Tapi seperti yang kita tahu dengan menggunakan komponen-komponen tersebut sebagai media pembelajaran, maka distraksi atau gangguan yang dihasilkan dari kompenen tersebut juga akan semakin besar. Contohnya adalah saat jam pelajaran, kita para pelajar sedang menghadiri virtual meeting tentang mata pelajaran yang kita tidak sukai, alih-alih kita berusaha mendengarkan pembelajaran tersebut, kita berakhir dalam vidio podcast Deddy Corbuzer yang membahas tentang yotuber favorit kita. Apakah mencari dan menikmati sebuah hiburan itu suatu kesalahan?, tentu saja tidak. Tapi, apakah mencari dan menikmati sebuah hiburan disaat jam pelajaran itu salah?, tentu saja iya. Karena dengan meninggalkan kegiatan pembelajaran virtual karena alasan bosan, atau mengantuk, itu sama saja dengan kita tidak melaksanakan kewajiban dan kita juga kehilangan hak sebagai seorang pelajar. Mendapatkan ilmu, serta materi pembelajaran dengan layak adalah salah satu hak kita sebagai pelajar. Berbicara soal kelayakan dalam penyampaian materi, kita tahu memang terkadang ada beberapa oknum guru yang mengajar secara asal-asalan dan seadanya tanpa memperhatikan kondisi dan pemahaman muridnya, Tapi saya percaya dengan adanya usaha dari kita para pelajar serta masukan yang baik dari siswa kepada guru, maka lambat laun kegiatan pembelajaran yang kita ikuti akan berjalan secara lancar dan juga maksimal. Kesadaran para guru dan pelajarlah yang nantinya akan menjadi langkah awal perubahan bagi kegiatan pembelajaran virtual, bahkan sistem pendidikan di Indonesia.

Seperti halnya dalam belajar kita diberi pilihan untuk membuka kamera saat guru sedang menerangkan serta aktif berbendapat saat guru bertanya, atau menjadi pelajar yang tidak peduli dengan bermain video game dan tidak mendengarkan penjelasan guru. Maka pilihan itu juga hadir kepada para pemuda pengguna media sosial. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa hampir setiap pemuda di negeri ini pasti bermain media sosial. Sebagai gambaran, data tahun 2019 milik Instagram menyebutkan bahwa rata-rata pengguna terbanyak platform mereka berasal dari kalangan para pemuda yaitu 18-24 tahun. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemuda memiliki peran penting terhadap suatu konten di media sosial. Mungkin kalian bingung dan bertanya-tanya bagaimana pemuda bisa memberikan dampak terhadap suatu konten, yang pada dasarnya semua orang bebas untuk membuat konten apapun dan kita para pengguna platform bebas untuk menonton apapun. Tapi mari kita lihat, berapa banyak orang menghabiskan waktunya untuk menonton sebuah konten prank settingan, konten berbau-bau dewasa yang tidak bermanfaat serta konten yang isinya adalah orang-orang yang memiliki karakter palsu, pasti banyak sekali bukan?. Lalu mari kita lihat konten yang berisi tentang edukasi ilmiah, konten pembelajaran hidup serta konten-konten yang mempengaruhi masyarakat untuk bergerak dalam kebaikan, saya yakin bahwa konten-konten tersebut memiliki penonton yang bisa dikatakan tidak lebih banyak. Mengapa demikian?, karena kita para pemudanya memilih untuk menonton konten tidak bermanfaat tersebut. Benar adanya kita diberi kebebasan untuk menonton suatu konten, tapi bukan berarti kita tidak diberi pilihan, pilihan akan selalu ada. Pemuda yang memilih untuk menghabiskan waktunya menonton sesuatu yang bermanfaat serta dapat meningkatkan kapasitas dirinya, atau pemuda yang memilih untuk menonton konten tidak bermanfaat dan tidak mendidik hanya untuk hiburan semata. Karena saya percaya dengan berkurangnya jumlah penonton dari suatu konten yang tidak mendidik, maka hal tersebut akan membuat sang pembuat konten mengurangi jumlah konten yang dia buat. Orang-orang pemilik kepribadian palsu yang memanfaatkan kebodohan masyarakat juga akan semakin berkurang, karena berkurangnya orang-orang yang memperhatikan mereka. Dengan begini konten-konten bermanfaat akan timbul kepermukaan dan membuat masyarakat kita semakin terbuka wawasannya. Semakin cerdas suatu masyarakat maka negara tersebut juga akan semakin maju. Saya percaya bahwa perubahan kecil yang kita lakukan hari ini, akan berdampak besar dimasa depan nanti.

Jadi marilah kita para pemuda Indonesia, para penerus bangsa, bergerak untuk memilih sesuatu, memilih sesuatu yang nantinya akan bermanfaat bagi keberlangsungan media sosial di Indonesia.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *