Saturday, April 13

Pandemi Terkini : Menyoal Transformasi Sosial, Maraknya Hoax, Hingga Peran Pemuda

Ditulis oleh Muhammad Sobari Abdau, Siswa SMA Barunawati Surabaya

Kehidupan adalah perubahan yang alami dan spontan. Tak elok jika menolaknya, karena justru akan menimbulkan kesedihan. Biarlah sesuai dengan kenyataan, bak air mengaliri sungai, berjalan seperti apa adanya. Telah menjadi sebuah kepastian bahwa kehidupan di dunia ini akan terus terjadi pembaruan dan perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan manusia tak terkecuali dalam bidang teknologi. Bagai kuda yang terus dipacu melaju kencang, dewasa ini teknologi informasi dan komunikasi dari masa ke masa begitu pesat kemajuannya. Perkembangannya yang tak terbendung memaksa kita semua harus lebih adaptif dan mampu mengikuti zaman. Terlebih di masa pandemi covid-19, telah menyebabkan pergeseran perubahan sosial di tengah masyarakat kita.

Benarlah tutur seorang bijak, bahwa yang tak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang dimaksud tercermin pada pola pikir, perilaku, dan komunikasi manusia. Produk dari salah satu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yakni media sosial. Berbagai media sosial seperti whatsapp, line, instagram, facebook, twitter lambat laun membuat mayoritas masyarakat beralih dari penikmat media cetak seperti koran atau majalah ke media sosial. Sebenarnya, perubahan sosial (social trasnformation) ini erat kaitannya dengan kondisi pandemi covid-19. Kedua hal tersebut beriringan berjalannya bersama perkembangan teknologi komunikasi melalui digitalisasi yang seyogyanya kita semua telah merealisasikannya. Idealnya, komunikasi digital yang semakin marak, pengalihan dari ruang fisik ke ruang virtual, dapat berkontribusi positif yang bersifat informatif, persuasif dan edukatif sangat menguntungkan adanya.

Namun demikian, kondisi ideal yang kita harapkan tidak serta merta sesuai dengan harapan. Hadirnya media sosial ternyata membawa dampak serius dan menyisakan banyak permasalahan. Telah marak ditemukan bahwa Hoax nyatanya justru tumbuh subur di dunia media sosial. Seolah menjadi konsumsi setiap hari, mendengar kata Hoax atau berita bohong menjadi tidak asing ditelinga kita. Tidak sedikit pula kampanye anti hoax seruan oleh pihak pemerintahan diadakan. Dari pagelaran seminar atau diskusi publik hingga upaya promotif melalui media cetak maupun media sosial kian digencarkan dalam rangka menekan lonjakan persebaran hoax.

Dikutip dari situs Wikipedia, hoax merupakan berita palsu atau berita bohong atau informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Tidak jauh berbeda dengan pengertian sebelumnnya, menurut Yosep Adi Prasetyo selaku Ketua Dewan Pers Indonesia menyatakan bahwa hoax merupakan berita bohong yang menilai serta merugikan seseorang atau pihak tertentu. Hal ini banyak terjadi lantaran adanya krisis kepercayaan terhadap media mainstream.

Potret Terkini

“Cobalah dulu, baru bercerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian” – Socrates. Semenjak virus covid-19 mulai menyerang negeri tirai bambu China, dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru belahan dunia termasuk Indonesia. Tidak jarang temuan informasi atau berita palsu mengenai virus corona menyebar cepat ditengah kegagapan masyarakat kita. Salah satu contoh pemberitaan palsunya adalah mengenai produk-produk negara tersebut seperti smartphone yang diinfokan dapat menyebarkan virus covid itu. Hal ini tentu menyebabkan kekhawatiran berlebih bagi masyarakat pengguna produk negara tersebut. Sebagai pembeda antara manusia dengan hewan adalah kemampuan menggunakan akal budinya. Akal yang mampu membedakan baik-buruk dan benar-salahnya suatu hal, jika kita tak menggunakan anugerah Tuhan itu apa masih dapat dikatakan sebagai manusia?”

Menurut rilis data pada tanggal 5 Mei 2020 berdasarkan hasil pantauan dari Tim AIS Ditjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI), menunjukkan 1,401 konten hoax dan disinformasi terkait covid-19 menyebar di masyarakat. Jika permasalahan ini tidak sedini mungkin dicegah penyebarannya, ditambah kondisi sekarang dan publik mudah termakan berita atau informasi hoax, bukan tidak mungkin kondisi negara akan semakin carut-marut. Masyarakat kita akan sangat mudah terkotak-kotak, dikarenakan mengalami kebingungan mengelola informasi antara yang benar dan salah. Bukan tanpa usaha, pihak berwenang seperti pemerintah pusat, daerah, Kemenkominfo RI, dan pihak berwajib Kepolisian Republik Indonesia (Polri) saat ini berupaya keras memberantas hoax. Kendati demikian, nyatanya belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Pemuda Bisa Apa? Disinilah hadirnya pemuda diperlukan, tidak hanya ada namun turut serta berperan. Pemuda yang idealnya sebagai agen perubahan, kaum terpelajar, dan peka terhadap berbagai permasalahan diharap tidak mudah tergiring oleh opini di media sosial. Sikap kritis dalam memandang setiap problematika di sekitarnya, Tidak apatis atau menelaah, menganalisis terlebih dahulu setiap menerima informasi atau berita. Maka dari itu, sudah menjadi tanggung jawab moral serta kewajiban pemuda sebagai penuntun masyarakat kearah yang lebih baik. Pemuda berperan dalam rangka menegakkan nilai-nilai kebenaran, stabilitas dan menjaga agar situasi lebih kondusif terkait menjamurnya hoax yang menginvasi dari segala sisi kehidupan. Adapun upaya untuk meminimalisir dampak serta penyebaran hoax kiranya perlu diupayakan, setidaknya ada tiga hal penting yang harus dilakukan diantaranya:

#1 Bijak Memanfaatkan. Sebaik-baik manusia adalah yang banyak bermanfaat, bukan hanya memanfaatkan atau sekedar dimanfaatkan. Maka, jadilah bijak dalam memanfaatkan internet, pakailah sesuai kebutuhan, ambil sisi positif serta gunakan dalam hal-hal positif dan bermanfaat. Terlebih pada situasi seperti ini, membatasi penggunaan media sosial serta mengalihkan ke aktivitas seperti menbaca bisa jadi lebih baik.

#2 Baca dan Pahami. Semakin banyak membaca, semakin banyak berpikir, semakin banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun. Terkadang, merasa bahwa diri ini tidak mengetahui sesuatu jauh lebih baik. Sebaliknya, terlalu banyak tahu suatu halpun yang tak bermanfaat justru dapat membahayakan diri sendiri. Agar dapat memahami secara utuh inti sari sebuah informasi atau berita, baiknya teliti serta pahami betul keseluruhan teksnya. Maka, membiasakan membaca dengan baik dan benar menjadi suatu keharusan agar tidak mudah terprovokasi.

#3 Saring Sebelum Sharing Sejatinya, kerendahan derajat seseorang diketahui melalui dua hal : banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna, dan bercerita padahal tidak ditanya. Sama halnya dengan kebanyakan masyarakat kita sekarang, terlalu bersemangat berbagi informasi tanpa dikroscek terlebih dahulu sebelum dibagi. Sebagai pemuda yang bijak menyikapi datangnya suatu informasi dan berita, filter terlebih dahulu sebelum di sharing. Jangan gagap info, selain produsennya penyebar hoax juga dapat terjerat UU ITE jika memang terbukti bersalah. Jika menemukan berita terlihat mencurigakan, tidak jelas sumbernya, tidak logis dan tak dapat dipertanggungjawabkan maka segera laporkan kepada pihak berwajib. Dengan demikian, kemungkinan masyarakat terpapar hoax akan lebih kecil.

Yakinlah, Berapapun cepatnya kebohongan itu, namun kebenaran akan mengejarnya juga. Inilah saatnya, pemuda yang “katanya” sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial di masyarakat dapat memperbaiki keadaan dengan memberikan suasana kondusif, aman, tentram ditengah permasalahan bangsa yakni pandemi covid-19 beserta maraknya hoax.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *