Monday, November 29

Musuh dalam Selimut

Masa muda, merupakan masa yang ekstrim, dimana pada masa ini, tak jarang orang muda sering terlibat dilema, tak melulu soal percintaan, bahkan dalam lingkup pertemanan, atau kerap kali disebut sebagai “pergumulan”, sering terdapat konflik dilema yang bahkan dapat memutar otak polos kaum muda dan akhirnya tercuci oleh paham yang mereka terima dari “pergumulan” mereka sendiri. Dimana seringkali kaum muda terjun dalam pergumulan tersebut dengan tujuan bersenang-senang, melepas penat ataupun menyegarkan pikiran dari rumitnya kehidupan. Namun tanpa sadar justru pergumulan inilah yang menghantar mereka pada jalan yang sebenarnya bukan tujuan awal mereka. Dapat pula dikatakan, bahwa suatu pergumulan dapat “menyetir” atau mengendalikan arah hidup kaum muda.

Seringkali beberapa paham tersebut berkembang pesat di kalangan kaum muda, dimana pemikiran muda mereka yang belum dapat menelaah suatu paham yang telah diterima, akhirnya mengaktifkan insting dan keyakinan untuk menerima mentah-mentah sekaligus pula menyebarkannya ke pergumulan-pergumulan lain. Proses inilah yang menyebabkan sering munculnya berita di media sosial yang memberitakan tentang konflik penyerangan atau pemberontakan terhadap kaum yang dianggap berbeda dari yang lain.

Maraknya konflik tersebut memunculkan sebuah istilah “ekstrimisme”, dimana orang memiliki keyakinan yang begitu kuat terhadap suatu pandangan, dan tentunya dapat melanggar norma, dan hukum yang berlaku. Paham ekstrimisme dapat dianggap sebagai doktrin yang menyesatkan kaum muda dan diketahui memiliki motif memecah belah bangsa sendiri.

Mengapa beberapa oknum “pencetus” menjadikan kaum muda sasaran empuk untuk menanamkan paham ekstrimisme? Hal ini disebabkan pandangan dari si pencetus yang menganggap bahwa kaum muda adalah generasi bangsa yang masih kaku dalam menerima suatu ajaran baru, dan mudah untuk terprovokasi karena pemikiran yang masih dangkal, sehingga dapat menelan informasi atau ajaran baru secara mentah-mentah dan dapat langsung menyebarkannya dengan keyakinan yang telah ditanamkan pada diri mereka.

Dampak dari ekstrimisme dirasa begitu kuat di kalangan kaum muda, dimana ketidaksanggupan diri untuk menelaah suatu paham yang akhirnya berevolusi menjadi sebuah konflik oleh kelompok muda yang tak jarang menyebabkan perpecahan, bahkan kehancuran beberapa kaum yang dianggap tidak memenuhi standar pola pikir mereka.

Paham ekstrimisme dapat pula dikatakan sebagai musuh dalam selimut dalam pergumulan kaum muda, dimana kuatnya keyakinan mereka terhadap hal yang justru menyeleweng dari norma dan dapat pula menjadi akar perpecahan diantara mereka.

Dengan ini diharapkan para generasi milenial dapat dengan tegas berkata tidak pada ekstrimisme dengan dukungan dan doa dari para orang tua dan pendidik, sehingga kita bisa mewujudkan generasi bangsa yang cerdas, bermoral, dan berani secara tegas menolak paham ekstrimisme yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Oleh: Carolina Esther
(Siswi SMAK Diponegoro Blitar)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *