Saturday, July 13

Multikulturalisme sebagai Prasyarat Untuk Mengoreksi Ketidakadilan Epistemik

Image by mallas para hombre nike veste femme pied de poule marron ciorapi compresivi pana la coapsa Purchase college team jerseys at a discounted price and of high quality jayden daniels lsu jersey дамски памучен чорапогащник puma suede classic velvet sneakers in cordovan leather calfskin velvet tongue and toe cap nike air max aliexpress aiyuk jersey nike air max aliexpress vans chima ferguson pro 2 port royale black forty two skateboard shop welche kaffeemaschine für 1 person tapis de reception gonflable raptor cheap jordan 4 brandon aiyuk shirt day_24749032.htm#query=multicultural%20justice&position=10&from_view=search&track=ais&uuid=bc66db28-c337-421e-8d37-b59297a37fb9″>Freepik

Oleh: Anastasia Jessica

Politik yang manusiawi ialah politik yang terbuka pada keragaman identitas. Multikulturalisme merupakan salah satu kunci penting bagi terbentuknya Politik yang manusiawi. Multikulturalisme dapat menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan kohesi sosial dan sekaligus mencapai yang disebut sebagai keadilan epistemik. Keadilan epistemik merupakan pengakuan keadilan dan kesetaraan berbagai sistem pengetahuan.
Varian Multikulturalisme membentang mulai dari agenda sosial-politik penerimaan beragam budaya dalam suatu komunitas masyarakat hingga ke agenda ekonomi perluasan kapital ekonomi secara global.
Pada tulisan ini, pengertian Multikulturalisme mengacu pada paham yang mengakomodasi beragam kelompok etnik sehingga bisa hidup bersama di suatu negara atau bangsa tertentu dengan mendukung pengakuan terhadap kelompok-kelompok etnik tersebut dalam berbagai arena politis, ekonomi, dan budaya.

Ketidakadilan Epistemik
Dalam membangun politik yang manusiawi, Multikulturalisme memiliki kontribusi untuk mereduksi ketidakadilan epistemik.
Ketidakadilan epistemik terjadi ketika seseorang diberikan kredibilitas yang lebih rendah dari yang seharusnya, atau dengan kata lain ‘diragukan.’ Hal ini dilatarbelakangi oleh prasangka/ prejudice terhadap penutur/ kelompok minoritas yang menjadi korban ketidakadilan epistemik.
Miranda Fricker membagi dua jenis ketidakadilan epistemik: ketidakadilan testimonial dan ketidakadilan hermeneutis. Ketidakadilan testimonial terjadi ketika seorang pembicara kehilangan kredibilitas karena adanya bias dalam penilaian pendengar (Fricker (2013), 1319). misalnya, seseorang yang fanatis terhadap agama atau etnis, cenderung tidak mempercayai hal yang dilontarkan oleh orang dengan agama dan etnis lain.
Ketidakadilan hermeneutis terjadi ketika subjek yang terpinggirkan secara hermeneutis mengalami penderitaan berupa tidak mampu memahami sebagian besar pengalaman sosialnya. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang wanita yang berada dalam hubungan romantis jangka panjang yang penuh kekerasan fisik, sebelum konsep pelecehan seksual tersebar luas, si wanita justru disebut sebagai “provokasi” dalam istilah hukum. (Fricker (2013), 1319).

Multikulturalisme sebagai Kondisi Tumbuhnya Keadilan Epistemik
Multikulturalisme ialah kondisi bagi tumbuhnya keadilan epistemik. Miranda Fricker mengajukan ‘keutamaan keadilan epistemik’ untuk meninjau kembali ketidakadilan epistemik. Dari manakah keutamaan ini berasal? Keutamaan membutuhkan kondisi yang baik untuk muncul dan tumbuh. Dalam hemat penulis, salah satu syarat berkembangnya keutamaan keadilan epistemik adalah multikulturalisme, yang mengakui dan menghargai eksistensi kelompok-kelompok yang berbeda.
Multikulturalisme menjadi pra-eksistensi bagi politik yang manusiawi. Multikulturalisme perlu ‘berada’ sebelum kebijakan-kebijakan politis dibuat. Kondisi multikulturalis memungkinkan pembangunan masyakarat yang berwawasan keberagaman yang menjadi salah satu penjamin bagi terbentuk politik yang manusiawi.
Multikulturalisme perlu menjadi sebuah ‘citra’ yang beroperasi di bawah permukaan pemahaman dan opini seseorang. Hermeneutika Gadamer menyebut ini ‘pra-pemahaman,’ yaitu struktur sensasi dan pikiran yang ‘berada’ bahkan sebelum pengetahuan dan pemahaman terjadi.

Bagaimana Multikulturalisme Berhadapan dengan Kelompok yang Fanatis dan Intoleran?
Salah satu isu utama seputar multikulturalisme adalah apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan kelompok yang fanatis dan intoleran? Beberapa pengkritik multikulturalisme berpendapat bahwa multikulturalisme melakukan penerimaan yang tidak kritis terhadap praktik budaya yang merugikan atau menindas. Misalnya, beberapa orang berpendapat bahwa multikulturalisme dapat mengarah pada penerimaan praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan seperti mutilasi alat kelamin perempuan atau pembunuhan demi kehormatan.
Berhadapan dengan kelompok yang fanatis, negara tidak perlu langsung memaksakan pandangan hidup pada kelompok tersebut. Namun demikian, pembangunan ‘narasi bersama’ seperti nilai-nilai yang diyakini bersama, sejarah, perjuangan, dan prestasi bersama perlu dibangun untuk merangkul setiap anggota kelompok. Nilai-nilai bersama yang perlu dibangun misalnya penghargaan atas kebebasan, perdamaian, solusi nir-kekerasan, keadilan, kesetaraan, toleransi, dan perbedaan. (Hardiman, 2011). Sebagaimana digagas Benedict Anderson dalam Komunitas Terbayang, bangsa dibentuk oleh suatu gagasan yang dibayangkan oleh orang-orang yang menjadi bagian dari kelompok tersebut. Pembentukan suatu gagasan bersama di antara kelompok-kelompok termasuk kelompok fanatis menjadi sangat penting dalam membangun suatu bangsa.
Pendidikan secara bertahap akan nilai-nilai bersama terhadap kelompok fanatis yang damai perlu diupayakan terus-menerus. Namun demikian, negara perlu bertindak secara tegas sesuai hukum yang berlaku ketika berhadapan dengan kelompok fanatis yang agresif, yang menindas tidak hanya anggotanya tetapi juga mau menguasai kelompok lain. (Hardiman, 2011).

Referensi:

Hardiman, Fransisco Budi. “Hak-Hak Asasi Manusia Polemik dengan Agama dan Kebudayaan.” (2015).
Fricker, Miranda. “Epistemic justice as a condition of political freedom?.” Synthese 190 (2013): 1317-1332.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *