Thursday, December 2

Menjalin Hubungan Asmara dengan Seorang Teroris

“Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa kamu yang mengubah hidupku. Duniaku, belahan jiwaku, pujaan hatiku. Aku mencintaimu.”

Siapa yang pernah mendapatkan pernyataan cinta seperti ini? Ya, itu saya. Secarik kertas putih dengan berbagai hiasan estetis, berisikan beberapa baris kalimat indah, dan tanpa nama. Kertas itu terselip di antara tumpukan tugas Fisika di mejaku. Siapa sih yang tidak kebaperan? Menerima pernyataan cinta anonim saja sudah se-histeris itu. Kalau pengirimnya seorang radikal, bagaimana?

Menjalin Hubungan karena Aliran Sesat

Seperti yang kita ketahui, pada hari Minggu, 28 Maret 2021, Indonesia digemparkan dengan kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Pelakunya adalah pasangan suami istri, L dan YSF, yang baru memulai kehidupan rumah tangga mereka pada Oktober 2020. Bayak desas-desus beredar mengenai mereka. Sang istri tengah hamil 4 bulan, sang suami mantan anggota intel, dan lain-lain.

Beberapa fakta mengenai mereka diulas oleh suara.com. Mereka berdua merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yaitu organisasi yang mengkaji doktrin jihad, dan merupakan wadah aksi terorisme. Perkumpulannya terletak berkumpul di perumahan Villa Mutiara Cluster Biru, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Mereka berdua dinikahkan oleh Risaldi, seorang tersangka teroris yang membantu aksi terror bom di Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Filipina Selatan, pada 2018. Mereka belajar merakit bom dari tutorial di internet.

Perlukah Kita Menolak?

Mengenang kembali kasus bom bunuh diri Surabaya tahun 2018 yang dilakukan oleh satu keluarga. Dua anak balita terlibat di dalamny. Entah apa yang dipikirkan oleh orang tuanya hingga tega mengajak anak-anaknya yang masih polos ikut aksi keji itu. Setiap harinya diajarkan untuk membenci dan mencapai kedamaian dengan menyiksa orang lain. Padahal anak-anak tidak pantas untuk mempelajarinya.

Maka dari itu, ketika sudah berhubungan dengan seorang yang terpapar radikalisme, maka sulit untuk menghindarinya. Sebagai remaja SMA yang bucin sama pasangan berpaham radikal ini, apapun dilakukan agar bisa bersama. Apalagi ABG yang sedang mencari jati diri. Menganggap radikalisme sebagai jawaban dan tujuan hidup. Ibaratnya anak polos yang dibisikkan ajaran sesat setiap harinya oleh orang tuanya. Itulah yang akan dipegangnya hingga dewasa.

“Tapi aku sayang banget sama dia, bagai bakso dan es teh manis, selalu bersama. Bahkan maut nggak berhak melepaskan kita.”

Penulis hanya bisa tersenyum mendengarnya. Tidak pernah salah untuk jatuh cinta kepada seseorang. Namun, berikan juga batasan-batasan yang tegas dalam menjalin hubungan. Biasanya, sekolah memberikan penyuluhan gaya pacaran ideal untuk menghindari pergaulan bebas, maka manfaatkan ilmu itu. Jauh sebelum memulai hubungan, telusuri kembali diri sendiri, guna menghindarkan radikalisme sebagai jawaban permasalahan hidup.

Oleh: Tricia Ayumi Chandra
(Siswi SMAK Santo Carolus Surabaya)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *