Monday, June 24

Menarak Manusia Yang Bermain

Permainan virtual dalam bentuk console game, mobile game, maupun online game semakin digemari dewasa ini. Bukan hanya anak-anak dan para remaja, orang dewasa pun turut senang memainkannya.

Tak dapat disangkal bahwa permainan modern ini menggantikan hampir seluruh permainan tradisional yang ada, setidaknya di kota-kota besar. Fenomena ini jelas kita lihat dari banyaknya orang yang seru bermain dengan ponselnya daripada yang bersama teman-temannya berkegiatan fisik bersama. Jika kita amati, permainan tradisional memang cenderung melibatkan banyak orang, bahkan kadang ada batasan minimal yang perlu dipenuhi agar permainan itu dapat dilangsungkan, sedangkan tidak demikian halnya dalam permainan modern.

Dalam permainan modern, seseorang dapat bermain sendiri karena lawannya adalah kecerdasan buatan (komputer). Selain itu, permainan modern demikian digemari karena ketepatannya dalam menangkap keinginan pasar akan kualitas audio, grafis, dan video, juga sistem permainan dan sistem sosialisasi buatan, serta tingkatan-tingkatan pencapaian di dalamnya yang merangsang rasa penasaran.

Sayangnya, “keajaiban” teknologi ini justru dalam beberapa kesempatan kita dapati memabukkan, bahkan membunuh dalam artian literal, para generasi muda saat ini. Dalam berbagai berita baik cetak maupun online kita sering menemukan kasus orang-orang yang terkena penyakit, mengalami kecacatan, bahkan kematian karena larut dalam permainan modern yang digandrunginya. Apakah jenis permainan ini seharusnya dilarang saja untuk menghindari berjatuhannya korban-korban  lainnya?

Manusia Bermain

Seorang sejarawan bernama Johan Huizinga pada tahun 1938 menulis sebuah buku “Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture”. Dari buku itu kemudian populer istilah homo ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Menurutnya, “bermain” merupakan salah satu aspek yang mendasar dan tak terpisahkan dari manusia. Bermain tidak hanya terjadi dalam suatu tahap pertumbuhan manusia, melainkan permanen di segala jenjang hidup manusia.

Ketidakterpisahan aspek bermain dari hidup manusia ini juga mendapatkan dukungan dari ilmu psikologi, yakni dalam teori pengurangan dorongan, yang menyebutkan bahwa ada tindakan-tindakan yang dilakukan manusia untuk mengurangi dorongan (misalnya stress) dalam dirinya. Bahkan, Aristoteles mengakui bahwa leisure (hiburan) merupakan suatu sarana relaksasi agar manusia dapat kembali berkarya. Jika bermain ini begitu integral dalam hidup manusia dan bahkan diperlukan dalam taraf yang wajar agar ia dapat kembali berkarya, apakah mungkin yang keliru bukanlah tindakan bermain dan permainan itu sendiri?

Menarak Bermain

Ada sebuah kata kunci yang ditawarkan oleh Aristoteles yang mungkin dapat menjadi jalan keluar atas masalah yang ditimbulkan oleh ekses bermain permainan modern ini: kebertarakan. Jika bermain ini begitu integral dalam hidup manusia dan bahkan diperlukan dalam taraf yang wajar agar ia dapat kembali berkarya, berarti kekeliruan yang mungkin terjadi ialah dalam porsi/frekuensinya. Dalam hal ini, maka seseorang perlu belajar untuk dapat mengendalikan diri dalam pemenuhan hasrat bermainnya.

Dengan menarak hasratnya untuk bermain, manusia dapat memenuhi hasratnya dengan tepat tanpa perlu mengorbankan kesehatan, baik tubuh maupun jiwanya, sehingga hidupnya dapat seimbang/harmonis. Dalam kasus orang-orang yang sudah kecanduan dengan permainan modern, tentu dukungan, bahkan paksaan, dari sahabat dan keluarga benar-benar dibutuhkan. 

Harry Purnomo Suryadarminta

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *