Sunday, December 5

Memintasi Ekstremisme dengan Elaborasi Kaum Muda Secara Mikro dan Makro

Ekstremisme selalu menjadi topik perbincangan hangat dan bisa saja berubah menjadi bara panas tatkala ekstremisme tersebut terwujud dalam laku kehidupan sosial masyarakat. Hal ini tercermin dalam peristiwa bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di kota Makassar. Tahun 2021 yang sejatinya merupakan tahun pengharapan bagi banyak orang agar lebih baik lagi ketimbang tahun sebelumnya akibat virus corona, malah dinodai oleh aksi keji tersebut.

Tepatnya, pada tanggal 28 Maret, pasangan suami-istri “milenial” melakukan aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral. Peristiwa yang terjadi kurang lebih 14 kilometer dari rumah saya itu adalah contoh nyata bagaimana esktremisme tidak hanya bekerja dalam tataran ideologis semata, melainkan pula rentetan aksi nyata di lapangan.

Pelaku dari aksi teror kemarin masih tergolong usia muda alias masuk dalam generasi milenial. Anggapan mengenai sosok kaum muda atau pemuda sebagai entitas yang energik, melek informasi, dan memiliki pikiran yang terbuka tampaknya terbantahkan dengan hadirnya persitiwa bom bunuh diri kemarin. Keterbantahan tersebut juga diperkuat oleh riset yang dilakukan berbagai lembaga yang menyelidiki persoalan ekstremisme, intoleransi dan kaum muda. Riset yang dilakukan oleh Wahid Foundation (2018) dan BNPT (2020) misalnya, menunjukkan kecenderungan anak muda atau generasi milenial menjadi sasaran empuk masuk dan berkembangnya ideologi tertentu yang memiliki luaran dalam tindakan ekstremisme.

Menurut Noor (2021) dalam tulisannya menerangkan bahwa pada dasarnya ideologi ekstremisme menyediakan ajaran agama atau tuntunan suatu kultus yang mudah dipahami, jawaban pasti atau hitam-putih terhadap masalah, dan penebusan dosa yang instan sehingga hal ini memberikan dampak langsung terhadap pencarian jati diri mereka.

Cara kerja Perspektif Makro dan Mikro

Tantangan ke depan ada di tangan kaum muda. Dari kini hingga nanti. Jangan jauh-jauh mengambil contoh, menilik sejarah kebangkitan bangsa Indonesia saja kita sudah bisa melihat corak kehadiran kaum muda di dalamnya: Pendirian Boedi Oetomo, perserikatan dalam naungan sumpah pemuda, gerakan reformasi 98, keseluruhan itu adalah contoh kecil dari gelora dan semangat kaum muda dalam mengubah suatu kondisi yang ada di masyarakat. Power of change kaum muda memang tidak bisa diragukan. Sudah saatnya kekuatan itu digunakan pada tataran mencegah ideologi berbasis kebencian yang mengarah pada intoleransi dan ekstremisme.

Sampai saat ini, kita memiliki Inisiator gerakan organisasi yang membubuhkan nilai-nilai toleransi dan pencegahan ekstremisme dalam ramu edukatif seperti Wahid Fondation, Peace Generation, SabangMerauke, Young Interfaith Peacemaker community (YIPC) dan yang tidak bisa disebutkan lainnya. Kehadiran lembaga non-profit tersebut secara makro membantu kinerja negara dalam memberantas ekstremisme dan intoleransi di masyarakat. Namun, batas yang dijangkau oleh organisasi di atas tidak seluas apa yang negara bisa lakukan, sehingga perlu elaborasi untuk mendapat hasil yang ideal.

Kaum muda juga harus mengerahkan tenaganya pada hal-hal bersifat mikro dalam usaha mencegah intoleransi dan ekstremisme di masyarakat. Dengan cara yang sederhana namun mengena. Salah satunya dengan berinteraksi dengan tetangga, jangan biarkan untaian pagar dan tembok rumah yang menjulang menjadi sekat yang akhirnya mengalienasi masyarakat di sekitar. Mereka yang dikenal melakukan ekstremisme memiliki fungsi sosial yang pincang dan berakibat pada tertutupnya mereka dengan khalayak luar. Bisa jadi, itu keinginan mereka. Namun, tidak menutup kemungkinan, hal tersebut lahir dari kita yang enggan berinteraksi dan asyik pada kehidupan kita sendiri.

Oleh: Muh. Akbar
(Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *