Thursday, February 22

Manusia Silver dan Barbarisme Kapitalis

Manusia silver menjadi fenomena yang sering kita jumpai hari-hari ini. Biasanya mereka bisa
dengan mudah ditemukan di jalanan atau pusat-pusat keramaian yang lain. Kehadiran mereka
bagi beberapa orang, menjadi hiburan sekaligus mengundang belas kasihan di tengah penat
jalanan kota yang macet.

Sayangnya cerita tentang manusia silver yang nampak unik, terkadang tidak secerah cat
warna kulitnya. Banyak di antara mereka yang terpaksa menjadi manusia silver untuk
menyambung hidup di masa pandemi Covid-19. Beberapa mungkin memiliki kisah yang
kelam dan tak terungkap di media.

“Gak ada yang mau beli dagangan saya, saya butuh makan. Ya, mau gimana lagi? Saya
nyoba peruntungan jadi manusia silver. Orang tahunya saya males kerja, masih muda tapi
minta-minta. Mereka nggak tau cerita hidup saya,” ujar Tamara, seperti yang dikutip Tempo
dari laman kemensos.go.id, Minggu 12 September 2021.

Sebelum menjadi manusia silver, Tamara sejak tahun 2014 berjualan bambu jepang si sekitar
Terminal Lebak Bulus, namun ketika pandemi Covid-19 membuat terminal sepi,
dagangannya pun ikut sepi.

Kisah kakak beradik, Arya dan Azmi juga tidak jauh berbeda. Mereka memutuskan menjadi
manusia silver setelah sebelumnya kehilangan perkerjaan sebagai teknisi rombongan pasar
malam keliling. Sepanjang pandemi, pembuakaan pasar malam memang sangat dibatasi
untuk menghindari penularan.

Sebelumnya Arya dan Azmi pernah menjajal peruntungan sebagai pengamen, namun melihat
orang-orang lain sebagai manusia silver lebih mudah mendapat rezeki, mereka pun ikut
mencobanya.

Beberapa kisah tentang manusia silver bahkan sempat viral di sosmed, sebut saja video
pensiunan polisi di Semarang, Aipda (purn) Agus Dartono yang terpaksa menjadi manusia
silver hingga foto kontoversial seorang bayi berumur 10 bulan yang dicat silver oleh ibunya.

Banyak dari manusia silver ini yang setiap hari harus bersiap kejar-kejaran dengan polisi dan
satpol PP. Sekaligus mereka juga menerjang risiko terpapar Covid-19 dan penyakit kulit yang akan dengan mudah menyerang karena bahan zat kimia pada pewarna silver. Semua demi
rupiah yang tak seberapa untuk menyambung hidup keluarga.

Timpangnya Ekonomi

Berbicara soal manusia silver, hal yang tidak jauh mengikutinya ialah persoalan mengenai
kemiskinan. Bukan rahasia, bahwa pandemi ikut mengambil andil dalam meningkatkan
presentase kemiskinan di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka orang miskin semakin bertambah sebesar
26,42 juta jiwa pada Maret 2020 sejak pandemi. Mereka yang termasuk ke dalam golongan
penduduk miskin ekstrem ialah mereka yang tidak memiliki aset produksi sendiri, bekerja
dengan upah rendah dan tidak memiliki tabugan untuk menyangga ekonomi keluarga.

Di saat yang sama, pemandangan yang sebaliknya justru semakin sering ditemui. Data
lembaga keuangan Credit Suisse dari Swiss, justru menyebutkan bahwa jumlah orang kaya di
Indonesia naik sebesar 61,69% pada 2020 sejak pandemi.

Jumlah penduduk Indonesia dengan kekayaan bersih US$ 1 juta (14 miliar) atau lebih ada di
angka 106.215 di tahun 2019. Pada tahun 2020, jumlahnya naik menjadi 171.740.

Pembatasan aktivitas masyarakat oleh pemerintah selama pandemi Covid-19 turut
mempengaruhi ketimpangan sosial dan ekonomi. Banyak sektor usaha yang produktivitasnya
menurun, sehingga banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menambah
banyak pengangguran.

Lantas bagaimana peningkatan kekayaan pada orang kaya saat pandemi bisa terjadi? Pertama,
tidak seperti orang miskin, orang kaya memiliki kemampuan untuk melindungi asetnya.
Ketika aset mengalami penurunan tajam, kelompok kaya dengan cepat berpindah ke aset
yang lebih aman, seperti emas, deposito dan lainnya.

Orang-orang dengan kapital kuat bisa membelanjakan uangnya untuk aset seperti properti
dengan harga murah ketika pandemi. Pada saat nilai-nilai aset sudah berangsur pulih, total
kekayaan mereka bisa berlipat ganda.

Sebut saja CEO Tesla, yang saat ini mengambil alih posisi Jeff Bezoz sebagai orang terkaya
dunia, Elon Musk, dapat meningkatkan kekayaannya hingga mencapai US$ 222 miliar atau
sekitar Rp 3.152,4 Triliun (Kurs Rp 14.200) (dilansir dari CNN, 12/10/221).

Kedua, ialah faktor meningkatnya orang kaya yang masuk ke sektor teknologi digital.
Lonjakan pengguna jasa pesan antar makanan, e-commerce, dan teknologi finansial (fintech)
turut mempertahankan dan bahkan menambah kekayaan mereka. Teknologi digital ini
memang banyak digunakan orang karena dianggap aman dari risiko penularan virus.

Barbarisme Kapitalisme dan Moral

Slavoj Zizek dalam bukunya Pandemic! COVID-19 Shakes the World, menyebut bahwa
pandemi membuat manusia terjebak pada tiga krisis yaitu krisis medis (pandemi itu sendiri),
ekonomi dan psikologis.

Slavoj Zizek menilai bahwa pandemi Covid-19 memang memengaruhi ekonomi. Di satu sisi
ia melihat pihak berwenang yang bertindak mirip dengan komunisme (seperti perawatan
kesehatan untuk semua, kebijakan karantina, dll). Di sisi lain, ia melihat korporasi yang
disebutnya sebagai kapitalisme-corona mengumpulkan uang yang ditalangi oleh negara.

Pandemi sekarang ini bisa dikatakan sebagai momen maksimalisasi ekonomi bagi para
kapitalis. Orang-orang dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah seperti para
manusia silver, pedagang kaki lima dan banyak yang lain justru banyak mengalami dampak
negatif.

Di tengah ketimpangan ekonomi ini, pertanyaan mengenai moral dalam ekonomi terus
menerus bisa direnungkan. Bisa jadi penderitaan akibat ketimpangan ekonomi, akan
menambah banyak manusia silver lain yang berujung mencari peruntungan di jalanan.

Barbarisme kapitalisme dalam mencari keuntungan maksimal ketika pandemi, menurut Zizek,
jelas tidak bisa menyelamatkan manusia dari krisis ketika pandemi. Namun, walaupun
demikian kapitalisme tidak bisa dikatakan tidak bermoral.

Walaupun kapitalisme zaman ini memang berbeda dengan kapitalisme yang digagas oleh
Adam Smith, cita-cita kapitalisme tidaklah kejam seperti yang dibayangkan banyak orang.
Cukup jelas bahwa sebagai filsuf moralis, Adam Smith memikirkan kapitalisme sebagai jalan
untuk memberdayakan masyarakat agar keluar dari kemiskinan.

Tujuan utama kapitalisme, menurut Adam Smith, adalah kebebasan berkompetisi dalam
ekonomi, sehingga masyarakat yang miskin sekalipun dapat menerobos status sosialnya
ketika mampu berusaha dan bersaing.

Yuval Noah Harari dalam bukunya, Homo Deus, bahkan menyebut bahwa kapitalisme berhak
mendapat pujian terkait dengan berkurangnya kekerasan manusia dan meningkatnya kerja
sama. Secara jangka panjang, Yuval Harari menyebutkan bahwa kapitalisme dapat mengatasi
kelaparan, wabah dan perang, karena sikap optimis para kapitalis pada pertumbuhan.

Lalu Bagaimana?

Menurut Slavoj Zizek, ancaman terbesar yang muncul mengikuti pandemi ini adalah
kemunduran dalam hal barbarisme terbuka, kekerasan survivalis brutal disertai kekacauan
publik, mati panik, dll.

Hal yang perlu diwaspadai, menurut Zizek, adalah barbarisme dengan wajah manusia yang
dikuatkan dengan penyesalan dan bahkan simpati, tetapi dilegitimasi oleh pendapat para ahli.

Misalnya seorang pemimpin yang dalam pidatonya, mencoba memproyeksikan ketenangan
dan kepercayaan diri, mengucapkan prediksi mengenai pandemi yang akan memakan waktu
sekitar dua tahun dengan total 60 hingga 70 persen populasi global akan terinfeksi dan jutaan
orang mati.

Mungkin, Dengan panik, para kapitalis akan mudah melakukan “survival of the fittest” yang
akan menambah parah ketimpangan sosial yang terjadi saat pandemi.

Meskipun pendapat Zizek tentang jalan keluar dari krisis yang adalah bentuk “Komunisme”
sering ditertawakan oleh banyak pihak, tetapi tampaknya hal tersebut malah benar-benar
menjadi niscaya dalam masa krisis ini. Zizek dalam bukunya mengutip pepatah yang berkata:
dalam krisis kita semua sosialis.

Secara lebih lanjut untuk mengatasi krisis saat pandemi, Zizek akan menyarankan gagasan
bagaimana kita mengubah sistem sosial dan ekonomi, menentukan arah dan langka-langka
yang diperlukan. Dalam hal tersebut maka peran pemerintah sungguh dibutuhkan untuk
keputusan yang menjunjung solidaritas.

Kita patut bersyukur bahwa pemerintah Indonesia selama ini telah dengan proaktif
mengambil tindakan mengumpulkan banyak vaksin dari Tingkok atau Selandia Baru.
Vaksinasi juga dengan cepat dilakukan di berbagai daerah. Walaupun hingga saat ini,
peringkat ketahanan Indonesia terhadap Covid-19, menurut Bloomberg masih dalam urutan
ke-49 dari 53 negara.

Manusia silver hanyalah salah satu dari sekian banyak potret kemiskinan masyarakat di saat
pandemi. Pemerintah hingga saat ini memang masih terus menerus memiliki tantangan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keputusan-keputusan yang solider terkait dengan
ekonomi perlu dilakukan untuk menengahi jurang antara orang kaya dan orang miskin.

Sumber Pustaka:

Harari, Yuval Noah, Homo Deus Masa Depan Umat Manusia, Jakarta: PT Pustaka Alvabet,
2018.

Zizek, Slavoj, Pandemic! Covid-19 Shakes The World, New York: OR Book, 2020.

Zizek, Slavoj, Pandemik!2 Ketidakmampuan Kapitalisme Menghadapi Krisis, Yogyakarta:
Penerbit Independen, 2021.

Sumber Internet:

https://economy.okezone.com/read/2021/10/13/455/2485740/berharta-rp3-174-triliun-ini-4-fakta-elon-musk-tinggalkan-jeff-bezos-jadi-orang-terkaya-dunia

https://katadata.co.id/sortatobing/indepth/60f575f909edb/jurang-orang-kaya-dan-miskin-yang-terus-melebar-karena-pandemi.

https://nasional.tempo.co/read/1511733/mengapa-manusia-silver-semakin-banyak-di-masa-pandemi

https://news.detik.com/kolom/d-5731456/menekan-kemiskinan-ekstrem-akibat-pandemi

https://www.kompas.com/tren/read/2021/09/27/073000765/ramai-soal-manusia-silver-apa-bahayanya-mengecat-kulit?page=all.

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bilal-jokowi-dan-negara-penjaga-malam

https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/indonesia-akhirnya-merdeka-dari-covid-19

(Penulis: Franciscus Ivan Andika)

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *