Thursday, February 22

LUKISAN ABSTRAK BARON BASUNING DALAM TERANG ESTETIKA IMMANUEL KANT

Gambar: Baron Basuning. “Benua Radja”. 2018. Akrilik di Atas Kanvas. 980 x 240 cm, courtesy of Artist.

Oleh:
GILANG SAKTI W.P. (NRP 1323022011)

LATAR BELAKANG
Immanuel Kant merupakan salah satu filsuf berpengaruh di abad modern. Dia membicarakan estetika dan apa itu keindahan dalam karyanya yang berjudul “Kritik Atas Daya Penilaian” (Critique of Judgement). Menurut Kant, sesuatu itu dapat dinilai sebagai objek yang indah tanpa dapat diketahui alasan logisnya mengapa hal tersebut demikian.

Maksudnya, kita menyukainya karena memang hal tersebut menyenangkan tanpa kita mampu merumuskannya menjadi pernyataan yang masuk akal. Jadi, di sini Kant memang menghendaki pemahaman akan keindahan secara subjektif.
Meskipun demikian, kemampuan subjektif ini berada pada kategori penilaian setiap orang. Sehingga meskipun penilaian akan sesuatu yang indah itu subjektif dia sekaligus bersifat universal, artinya semua orang dapat menyetujuinya.

Nampaknya hal ini dipengaruhi oleh epistemologinya yang menyatakan adanya kemampuan apriori dalam diri manusia sehingga kita kurang lebih memiliki standar minimum yang sama untuk menilai suatu objek keindahan.1
Karena sesuatu yang indah itu menurutnya menyenangkan tanpa suatu alasan rasional, maka keindahan itu ada pada dirinya sendiri. Ia tanpa pamrih dan tanpa tujuan. Ia diciptakan dan diadakan karena memang sekadar untuk dinikmati dan dialami. Sesuatu dapat disebut indah ketika memenuhi selera dan cita rasa subjek sebagai penikmat, bukan karena alasan lain. Sesuatu menjadi indah bukan karena manfaat moralitas, atau pun keuntungan-keuntungan eksternal lain, melainkan karena karya seni itu menampilkan kontemplasi estetis yang memuaskan.2

Kant juga membagi keindahan menjadi dua jenis kategori. Yang pertama adalah keindahan murni, Keindahan murni dimiliki objek-objek alamiah seperti bunga, danau, gunung, laut, pepohonan. Kita menilai objek-objek tersebut tanpa harus mengaitkannya dengan konsep kesempurnaan atau kegunaan. Objek lain yang memiliki keindahan murni adalah karya seni yang dicipta tanpa meniru kenyataan seperti kaligrafi, lukisan abstrak dan lain-lain.

Selain keindahan murni Kant juga menyebutkan adanya keindahan sandaran, Keindahan sandaran adalah keindahan yang menyadarkan kita akan kesempurnaan suatu objek berkenaan dengan gagasan tertentu, biasanya berhubungan dengan jenis, keadaan dan kegunaan tertentu. Keindahan ini bersyarat, dalam artian ada kesempurnaan formal tertentu yang dituju. Menurut Kant keindahan jenis pertama adalah keindahan dengan nilai estetis tertinggi.3

Kant juga menyatakan bahwa keindahan dipengaruhi oleh yang sublim. Kesubliman adalah reaksi kemegahan dan ketakjuban yang timbul saat kita menikmati alam atau objek yang memiliki ukuran kemegahan tertentu. Misalnya saat kita mengamati suatu gunung yang besar atau melihat Menara Burj Khalifa yang sedemikian tinggi, di situ muncul kesumbliman yang membuat kita melihat keagungan objek dalam kemutlakan dan keutuhan dirinya sendiri.4

ANALISIS
Lukisan Abstrak adalah lukisan yang tidak lagi mencoba merepresentasikan bentuk- bentuk konkrit yang ada pada alam dan realita keseharian. Lukisan ini hanya mengandalkan sapuan kuas, goresan cat, komposisi warna dan juga bentuk-bentuk tertentu.5

Salah satu pelukis abstrak yang akan kita bahas kali ini adalah Baron Basuning. Lukisan Baron Basuning yang akan kita bahas dan analisis adalah beberapa lukisannya yang ditampilkan pada pameran Noor di galeri nasional pada tahun 2019. Pameran ini diberi nama Noor karena Baron terinspirasi oleh refleksi-refleksi keindahan cahaya yang ia lihat saat mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Menurutnya, cahaya menghasilkan nuansa yang dapat memperindah beberapa tempat yang ia kunjungi seperti Bangunan masjid Nasrid Palace, Alhambra, Spanyol, masjid Nasir Al Mulk, Shiraz, Iran dan Taj Mahal, India. 6

Di sini penulis melihat bahwa dalam salah satu lukisannya yakni Benua Raja Baron masih tetap konsisten mencoba memahami lukisan abstrak sebagaimana adanya tanpa harus memberikannya narasi-narasi moral dan konsep-konsep eksternal lain selain keindahan itu sendiri. Meskipun inspirasinya adalah refleksi cahaya yang ia observasi dari bangunan- bangunan bersejarah namun apa yang ia tampilkan dalam kanvas sebenarnya adalah value/nilai keindahan itu sendiri bukan objek konkrit yang ia lihat.

Hal ini memenuhi kriteria keindahan Immanuel Kant bahwa sebuah karya seni dapat disebut indah karena memang menyenangkan dan menggugah selera. Kenikmatan selera yang Baron dapatkan saat melihat cahaya yang menerpa beberapa bangunan itu sepertinya ia simpan dalam memorinya dan secara spontan ia ekspresikan dalam kanvas dengan ukuran yang besar.

Lukisan Baron juga secara gamblang tidak menampilkan apapun selain goresan dan perpaduan warna yang kuning, putih, hijau, hitam, dan biru yang indah, serta diiringi komposisi yang sedemikian elegan dan mampu memikat siapapun yang hadir di pameran itu. Beberapa tabrakan yang terjadi dalam warna yang ia goreskan justru menciptakan kedalaman dan elemen gelap terang yang menawan.

Penulis sendiri mengamati bahwa lukisannya memang indah tanpa harus paham maksudnya apa. Saat melihat lukisan Baron penulis sebagai pengamat tidak merasa peduli dengan latar belakang yang ia sebutkan. Penulis hanya terpukau dengan warna- warna yang seolah menyapa satu dengan yang lainnya untuk menghadirkan nuansa estetis yang otonom tanpa campur tangan konsep dan kegunaan-kegunaan lain seperti halnya yang dirumuskan Immanuel Kant. Meski begitu penulis ragu apakah keindahan yang ada pada lukisan ini dapat disetujui oleh setiap orang, jika tidak mungkin lukisan-lukisan Baron Basuning belum mampu memenuhi kriteria keindahan secara universal seperti yang diharapkan Immanuel Kant.

Dari ukuran-ukuran kanvas yang besar penulis juga berpendapat bahwa lukisan ini akan menghasilkan kesubliman bagi siapapun yang melihatnya. Sebab penulis sendiri meskipun tidak hadir secara langsung dapat membayangkan betapa megahnya lukisan abstrak yang warnanya begitu memikat ini. Dari analisis ini, penulis melihat adanya kesesuaian prinsip estetika yang dirumuskan oleh Immanuel Kant dengan lukisan abstrak yang diciptakan oleh Baron Basuning dalam pamerannya di galeri nasional yang berjudul Noor.

Catatan kaki:
1 Budi F. Hardiman, Pemikiran Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, (Yogyakarta: PT Kanisius, 2018) hlm 149
2 Robertus Moses, Estetika Dalam Pemikiran Immanuel Kant, (Malang: Studia Philosophica et Theologica Vol. 17 No. 1, Maret 2017) hlm 84
3 Ibid, hlm 85
4 Ibid, hlm 90
5 Resdyanto Syam, Karakteristik Lukisan Abstrak Karya Thamrin Mappalahere Tahun 2020, (Makassar: Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni Dan Desain UNM, 2020) hlm 2
6 Tika Anggraini Purba, Menikmati Keindahan Cahaya “Noor” Baron Basuning di Galeri Nasional
https://lifestyle.bisnis.com/read/20190109/224/876786/menikmati-keindahan-cahaya-noor-baron-basuning-di- galeri-nasional. (Jakarta: Bisnis.com) Editor : Fajar Sidik, Terakhir dilihat 26-11-2023 pukul 20:33 pm WIB

DAFTAR PUSTAKA
Hardiman, Budi, F. 2018. Pemikiran Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche.
(Yogyakarta: PT Kanisius)
Moses, Robertus. 2017. Estetika Dalam Pemikiran Immanuel Kant. (Malang: Studia Philosophica et Theologica Vol. 17 No. 1, Maret)
Sam, Resdyanto. 2020. Karakteristik Lukisan Abstrak Karya Thamrin Mappalahere Tahun 2020. (Makassar: Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni Dan Desain UNM)
Tika Anggraini Purba, Menikmati Keindahan Cahaya “Noor” Baron Basuning di Galeri Nasional https://lifestyle.bisnis.com/read/20190109/224/876786/menikmati- keindahan-cahaya-noor-baron-basuning-di-galeri-nasional. (Jakarta: Bisnis.com) Editor : Fajar Sidik, Terakhir dilihat 26-11-2023 pukul 20:33 pm WIB

SUMBER GAMBAR LUKISAN
https://indoartnow.com/artists/baron-basuning

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *