Thursday, February 22

KONSEP MANUSIA UBERMENSCH DALAM MENGHADAPI BUDAYA MASSA

Oleh: Wiliam Marcellino_Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWMS Semester V (image by: kompasiana.com)

Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berpikir. Hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi manusia sebagai makhluk hidup yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya. Manusia memiliki kebebasan dalam menggunakan akal budinya. Ketika akal budi untuk berpikir itu digunakan secara maksimal, maka manusia pun dapat mengeluarkan potensinya dalam hal kreativitas.

Kreativitas manusia membuatnya dapat menciptakan suatu inovasi yang memiliki nilai bagi banyak orang. Namun begitu, tak jarang kreativitas manusia tidak dikembangkan melalui cara berpikir secara maksimal. Kurang maksimalnya pengembangan kreativitas manusia ditimbulkan akibat adanya globalisasi teknologi. Perkembangan teknologi pun akhirnya memunculkan pengaruh terhadap massa. Salah satunya ialah budaya massa. Budaya massa ini membuat seseorang dapat kehilangan identitasnya. Budaya massa ini juga menciptakan permasalahan filosofis, khususnya dalam aspek kemanusiaan dan epistemologis (cara berpikir)

Budaya massa ini, bagi penulis, dapat dinilai dari bagaimana Friedrich Nietzsche mengemukakan konsepnya tentang Ubermensch. Konsep ini dapat digunakan untuk mengingatkan orang-orang yang sudah menjadi korban atas budaya massa. Dengan adanya konsep tentang Ubermensch, penulis berharap agar orang-orang yang sudah terjebak dalam budaya massa dapat menjadi pribadi yang bebas dan tidak hanya mengikuti apa yang sedang menjadi tren sekarang ini. Penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut:

● Bagaimana Manusia Ubermensch Menghadapi Budaya Massa?

Konsep tentang Ubermensch

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki akal budi untuk berpikir. Hal ini pun menjadi salah satu tanda bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kesempurnaan yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Manusia adalah makhluk yang dibekali oleh akal budi, perasaan, kehendak, dan juga kemampuan untuk mengembangkan diri. Bekal-bekal yang sudah ada pada diri manusia ini dapat membantunya untuk melahirkanpemikiran yang sifatnya kreatif. Pemikiran yang kreatif ini memiliki hubungan dengan adanya pemikiran yang inovatif.

Para ahli dan pemerhati pendidikan melihat bahwa manusia memiliki tiga komponen yang mengarahkannya pada suatu pengembangan, yakni keunggulan intelektual, keterikatan pada tugas, dan kreativitas. Kreativitas sendiri diartikan sebagai kondisi, sikap, yang berkaitan dengan adanya proses aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini pun menjadi sesuatu yang fundamental bagi manusia, sebab hal ini mengarahkan manusia pada pemenuhan akan dirinya sebagai manusia.

Salah satu tokoh filsafat yang berbicara tentang manusia ialah Friedrich Nietzshe. Ia adalah seorang filosof Jerman. Pemikirannya tentang manusia dapat dijumpai pada konsep superman ala Nietzche atau biasa disebut ubermensch. Konsep ini merupakan hasil dari permenungan Nietzsche tentang manusia yang ideal. Uber menekankan bagaimana manusia memiliki kehendak untuk berkuasa. Konsep ini pun melihat manusia sebagai pribadi yang dapat memaknai dirinya sendiri. Manusia sebagai ubermensch melihat dirinya sendiri sebagai sumber nilai.1

Ubermensch sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggirs menjadi Superman. Ada beberap tokoh yang menggunakan istilah Superman, seperti Oscar Levy dan R. J. Hollingdale. Bagi beberapa orang, kata Superman dapat membuat arti dari Ubermensch menjadi kurang tepat. Apalagi kata Superman sudah digunakan dalam film-film pahlawan. Di sini Nietzche menentang keras tentang kesempurnaan dan kemandegan. Hal inilah yang malah digambarkan oleh kata Superman, di mana seseorang menjadi sempurna.2

Nietzsche beranggapan bahwa konsep Ubermensch dapat menyadarkan orang untuk mampu memberikan suatu pemaknaan. Hal ini tampaknya sederhana, namun tetap masih memerlukan suatu perjuangan yang tidak mudah. Seorang manusia yang memahami konsep Nietzsche akan melihat konsep ini sebagai cara manusia untuk bisa memberikan nilai pada dirinya sendiri sebagai manusia. Selain pemahaman akan manusia, Ubermensch juga membantu manusia untuk mengenal dunianya. Ketika Ubermensch ini dapat menjadi konsep yang dihayati dengan baik, dunia dan diri sendiri menjadi sumber nilai.3

Nietzche melihat bahwa manusia harus dapat terbebas dari kebudayaan yang arbitrer. Hal ini kiranya ingin mengajak manusia untuk bisa memiliki semangat kebebasan. Ketika seseorang merasakan adanya semangat kebebasan, ia dapat lepas dari ikatan-ikatan yang mungkin saja dapat membuatnya kehilangan identitas dirinya yang sejati. Kebudayaan yang arbitrer, bagi Nietzche, dapat menghalangi manusia untuk membentuk diri menuju Ubermensch.4

Bagi Nietzsche, ubermensch adalah orang yang dapat menerima dan menghadapi tantangan masa depan dengan berani. Konsep ini pun melihat adanya wadah bagi pengembangan manusia atas dirinya sendiri. Konsep ubermensch mengandaikan adanya kemampuan manusia untuk berpikir secara indepeden. Selain itu, manusia diajak untuk dapat mengupayakan adanya aktualisasi diri sebagai manusia itu sendiri. Usaha aktualisasi diri ini akan membawa manusia pada pembentukan versi terbaik seseorang sebagai manusia.5

Konsep Ubermensch mengajak manusia untuk mengafirmasi hidupnya secara lengkap. Artinya, seseorang dapat menjadi apa yang sesuai dengan karakteristik dan nilai-nilai yang diyakininya. Dengan begitu, manusia Ubermensch dapat mengisi dirinya dengan potensi terbaik yang ada dalam dirinya masing-masing.6 Ubermensch menjadi bentuk manusia yang menganggap diri sebagai pusat dan mau memiliki sikap yang selalu mengafirmasikan hidupnya. Adanya dorongan-dorongan yang ada di dalam hidup ini tidak perlu disangkal oleh orang-orang yang sudah mencapai Ubermensch. Nietzche ingin mengajak kita untuk berhadapan dengan konflik-konflik yang ada, sehingga membuat kemampuan diri dapat keluar dengan sendirinya.7 Tujuan dari Ubermensch sendiri ini ialah membebaskan manusia dari kehanyutan dalam massa. Bagaimana caranya? Nietzche beranggapan bahwa hal ini dapat tercapai kalau seseorang mempunyai jati diri yang khas, ditentukan oleh dirinya sendiri, tidak mengikuti orang lain atau norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat.8

Konsep Ubermensch Mengatasi Budaya Massa

Budaya massa adalah suatu budaya yang muncul dari proses produksi media massa. Budaya massa dapat mengubah masyarakat. Zaman dahulu mungkin saja orang-orang dapat memiliki keterhubungan melalui adanya mitologi umum yang bermakna, praktik budaya, musik, dan juga tradisi dalam bentuk pakaian. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang hidup di zaman sekarang, di mana globalisasi teknologi semakin berkembang luas. Bentuknya pun bermacam-macam. Namun begitu, kebanyakan budaya massa dapat terjadi karena adanya globalisasi teknologi. Dengan adanya globalisasi teknologi, manusia pun turut merasakan dampak dan pengaruhnya. Budaya massa yang terjadi akibat adanya globalisasi teknologi dapat dijumpai dalam bentuk film, radio, televisi, dan juga majalah. Selain itu, gaya hidup seseorang pun dapat menjadi bentuk pengaruh dari budaya massa ini.9

Kebudayaan massa merupakan kebudayaan yang melahirkan adanya keseragaman pada tiap aspek kehidupan masyarakat. Hal ini membuat hilangnya identitas diri manusia sebagai pribadi. Budaya massa membuat batas-batas tersebut seolah-olah melebur menjadi satu. Situasi dan kondisi yang ditawarkan oleh budaya massa ini tentu membuat seseorang kehilangan kesadaran akan dirinya yang berbeda dengan orang lain. Budaya massa ini pun mengakibatkan seseorang tidak memiliki sesuatu yang membedakan dirinya dengan orang lain. Apa yang menjadi suatu budaya massa dipandang sebagai sesuatu yang harus dihidupi.

Budaya massa yang berasal dari budaya asing pun dapat merusak jati diri seseorang. Hal ini dikarenakan semua orang seakan-akan diarahkan untuk memiliki gaya hidup yang sama dengan budaya-budaya asing yang memengaruhi dunia sekitar sekarang ini.10 Budaya massa ini melahirkan suatu permasalahan filosofis, khususnya dalam diri manusianya. Kita melihat bagaimana budaya massa membuat seseorang mudah mengikuti arus yang sedang terjadi di media massa. Budaya massa membuat seseorang kehilangan jati diri yang membedakan dirinya dengan orang lain di sekitarnya. Semuanya seakan-akan menjadi sama dan hanya ikut-ikutan, tanpa ada pemaknaan yang mendasar tentang dirinya sebagai manusia.

Jika dihubungkan dengan pemikiran Nietzche, budaya massa ini membuat seseorang tidak bisa mencapai Ubermensch. Hal ini dikarenakan seseorang harus kehilangan jati diri yang membedakannya dengan orang lain. Ketika seseorang kehilangan jati dirinya, ia secara tidak langsung juga akan mengalami kesulitan untuk dapat menyadari dirinya sebagai sumber nilai. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya ini “mengandung” suatu sumber nilai, niscaya ia dapat memaknai dirinya di tengah-tengah dunia ini, tanpa harus terpengaruh oleh budaya massa.

Budaya massa dapat juga membawa keterikatan yang membuat manusia tidak memperoleh kebebasan. Nietzche, dalam konsep Ubermensch, beranggapan bahwa manusia dapat memiliki semangat kebebasan. Bagaimana caranya agar manusia dapat memperoleh kebebasan tersebut? Manusia harus terlepas dari suatu kebudayaan yang arbitrer. Ia juga dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang membuatnya kehilangan identitas dirinya yang sejati. Dengan begitu, Ubermensch dapat sungguh dicapai oleh manusia.

Dalam Ubermensch kita dapat menjumpai adanya keberanian dalam menghadapi tantangan masa depan. Ini berarti bahwa manusia yang diharapkan dalam Ubermensch dapat memiliki keberanian untuk tampil beda dengan apa yang sudah menjadi suatu kebiasaan di lingkungan tertentu. Jika seseorang tidak berani untuk tampil beda dengan yang lain, khususnya dalam hal gaya hidup, manusia tidak akan bisa mencapai kepenuhannya sebagai manusia.

Kesimpulan

Manusia memiliki tingkat kesempurnaan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Hal ini dikarenakan adanya akal budi untuk berpikir. Selain itu, manusia juga adalah makhluk hidup yang berbekal akal budi, perasaan, kehendak, dan kemampuan untuk mengembangkan diri. Pengembangan diri ini dilihat oleh Nietzche sebagai sesuatu yang harus diusahakan oleh manusia melalui konsep Ubermensch. Namun, manusia perlu mewaspadai adanya budaya massa yang dapat membuat manusia kehilangan identitas yang membedakan dirinya dengan orang lain. Ketika manusia menyadari dirinya sebagai sumber nilai, ia tidak akan hanyut dalam pengaruh budaya massa. Akhirnya, manusia yangsemacam ini dapat merasakan semangat kebebasan dan juga mengisi dirinya dengan potensi terbaik yang membentuk dirinya menjadi versi terbaik.

1 Bdk. Michael Hans, “ Ubermensch sebagai Kiblat Aktualisasi Manusia”, 21 Juni 2022, https://lsfdiscourse.org/ubermensch-sebagai-kiblat-aktualisasi-manusia/ (diakses pada 20 Oktober 2022).

2 Bdk. St. Sunardi, Nietzche, Lkis: Yogyakarta, 1996, hlm. 142-143.membantu manusia untuk mengenal dunianya.

3 Bdk. Ibid., hlm. 148-149.

4 Bdk. Peter Levine, Nietzche – Potret Besar Sang Filsuf, IRCiSoD: Jogjakarta, 2012, hlm. 288.

5 Bdk. Michael Hans, Op.Cit.

6 Bdk. Jack Maden, “ Übermensch Explained: the Meaning of Nietzsche’s ‘ Superman’”, Juni 2022, https://philosophybreak.com/articles/ubermensch-explained-the-meaning-of-nietzsches- superman/ (diakses pada 19 Oktober 2022).

7 Bdk. Ricardo F. N., “ Ubermensch – Konsep Manusia Super Menurut Nietzsche”, hlm. 4, https://osf.io/sw6y7/download (diakses pada 19 Oktober 2022).

8 Bdk. Ibid.

9 Bdk. StudySmarter, “ Mass Culture”, https://www.studysmarter.us/explanations/social- studies/cultural-identity/mass-culture/ (diakses pada 20 Oktober 2022).

10 Bdk. Hendri Indradjaja, “ Budaya Massa di Indonesia”, https://docplayer.info/31964647- Budaya-massa-di-indonesia.html (diakes pada 20 Oktober 2022).

Daftar Pustaka

F. N., Ricardo, “Ubermensch – Konsep Manusia Super Menurut Nietzsche”, https://osf.io/sw6y7/download

Hans, Michael, “Ubermensch sebagai Kiblat Aktualisasi Manusia”, https://lsfdiscourse.org/ubermensch-sebagai-kiblat-aktualisasi-manusia/, diakses pada tanggal 21 Juni 2023.

Indradjaja, Hendri, “Budaya Massa di Indonesia”, https://docplayer.info/31964647-Budaya- massa-di-indonesia.html

Levine, Peter, Nietzche – Potret Besar Sang Filsuf, IRCiSoD: Jogjakarta, 2012

StudySmarter, “Mass Culture”, https://www.studysmarter.us/explanations/social- studies/cultural identity/mass-culture/, diakses pada tanggal 28 Juni 2023

Sunardi, St., Nietzche, Lkis: Yogyakarta, 1996

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *