Thursday, February 22

Keadaan Jiwa Orang Muda Di Kala Pandemi Covid-19

Ditulis oleh Dion Augusta Omega Triputra, Siswa SMAK Seminari Garum

Hal yang perlu disoroti di masa pandemi covid-19 adalah orang muda. Dari banyak hal yang terkena dampak virus ini salah satunya yaitu orang muda. Orang muda di masa pandemi ini mengalami tantangan batin yang tidak bisa dikatakan mudah begitu saja. Mereka merasakan suatu adaptasi baru yang belum tentu membuat mereka menjadi lebih baik.

Semenjak virus covid-19 memakan korban jiwa yang begitu banyak dan menyebar di berbagai wilayah, semua aspek secara drastis mengalami perubahan. Tidak terkecuali dalam aspek sosial. Segala kegiatan yang dilakukan secara luring ditiadakan dan lalu harus dilakukan secara daring. Hal ini nampaknya juga berkaitan erat dengan penggunaan internet di kala pandemi.

Orang muda yang notabene sebagai pelajar atau mahasiswa juga tidak luput dari penggunaan internet sebagai media pengganti dalam pembelajaran. Maka tentu saja penggunaan internet akan semakin meningkat dan digunakan secara intensif di masa pandemi. Dengan adanya penggunaan yang bertambah sering, maka pasti berdampak pada orang muda.

Internet bagaikan pisau bermata dua. Dimana terdapat dua sisi yang berbeda. Internet memberikan suatu kelebihan yakni terdapat akses yang begitu luas dan tidak terbatas mengenai informasi maupun hiburan. Tidak ada batasan dalam internet, suatu hal apa saja dapat dicari dengan hanya mengetik huruf dan lalu enter segala informasi akan langsung terpampang.

Di masa pandemi ini orang muda mulai merasa suatu hal yang tidak seperti biasanya. Mereka dituntut untuk selalu berada di rumah dan tidak diperkenankan keluar dari rumah demi terhindarnya dari virus ini. Maka dari itu aktivitas-aktivitas fisik yang biasanya mereka lakukan menjadi suatu larangan.

Dari peristiwa tersebut orang muda mulai mengalami sesuatu dalam jiwa mereka. Orang muda mulai merasa bosan dengan keadaan. Mereka mulai mencoba beradaptasi dengan keadaan. Maka disinilah internet berperan dalam proses adaptasi. Seperti yang telah dikatakan diatas internet bagaikan piasu bermata dua. Meskipun internet mempunyai akses yang tidak terbatas, hal ini dapat menjadi potensi untuk suatu tindakan yang tidak sesuai moral.

Benar saja, di masa pandemi ini peningkatan tayangan pornografi meningkat dari sebelumnya. Bahkan orang muda tidak luput menjadi penonton dari tontonan dewasa tersebut.Hal ini mungkin terdapat kaitannya dengan keadaan jiwa orang muda saat masa pandemi ini berlangsung.

Dilansir dari Popularscience selasa (14/4/2020) salah satu situs dewasa yakni Pornhub melaporkan bahwa terdapat peningkatan trafik sebesar 18 persen dibandingkan sebelum pandemi. Ditambah dengan ketua KPAI Susanto mengatakan hasil survei nasional KPAI menunjukkan 22 persen anak Indonesia masih melihat tayangan tidak sopan. Hasil survey juga menunjukkan rasa bosan pada anak. 63 persen anak merasa bosan, 5 persen merasa cemas, 3 persen merasa galau “kata Susanto”.

Menurut Asisten Profesor Psikologi Universitas Bowling Green State, Joshua B.Grubbs, dalam artikelnya “Porn use is up, thanks to the pandemic”, semakin bosan seseorang, semakin besar kemungkinan mereka ingin melihat pornografi. Dari pernyataan ini dapat menjustifikasi orang muda bahwa dalang dari peningkatan kunjungan situs terlarang ini adalah kebosanan dalam diri.

Berdasarkan evidensi-evidensi yang ada, maka teranglah bahwa orang muda mencari sebuah pelarian dari rasa bosan yang mereka alami. Mereka mungkin ingin menyiasati kebosanan dengan mencoba membahagiakan diri sendiri dengan menonton tayangan tidak senonoh itu. Jika pada sebelumnya mereka bisa berbahagia misalnya dengan nongkrong bersama teman sejawat dan berdialog ria, namun pada masa ini segala aktivitas dibatasi. Dengan artian mereka tidak dapat merasakan kebahagiaan yang mereka alami sebelumnya dan akhirnya orang muda mencari kebahagiaan lain untuk mengobati rasa bosan itu. Di sini kemudian tampaklah bahwa orang muda mencari suatu kebahagiaan dalam jiwanya.

Lalu pertanyaannya, apakah yang dinamakan kebahagiaan yang baik adalah sedemikan rupa ?

Kebahagiaan ?

Kebahagiaan merupakan suatu hal yang selalu diusahakan selamanya oleh manusia di dalam hidup. Dalam kondisi bagaimanapun juga kebahagiaan menjadi hal yang utama. Maka benarlah Pius dalam bukunya yang berjudul Seni Merawat Jiwa “Keinginan untuk bahagia merupakan kodrat manusia”. Kodrat meruapakan sifat asli sejak manusia hidup di dunia. Jadi kebahagiaan akan selalu dicari selama manusia hidup.

Begitu juga dengan orang muda di masa pandemi ini. Mereka mencari kebahagiaan dengan menonton video porno. Melalui rasa bosan yang melanda pikiran dan hati, mereka mencoba mengatasinya. Pornografi mempertunjukkan adegan dewasa yang sedang berhubungan intim. Disana terdapat kenikmatan badaniah yang dapat memuaskan hawanafsu.

Dikutip dari Alodokter (7/7/2020) dikatakan bahwa “Ketika sedang menonton pornografi otak memproduksi zat bernama dopamin secara berlebihan dan otak kemudian memerlukan lebih banyak dopamin agar mendapatkan efek kesenangan lebih tinggi. Bila pornografi dinyatakan demikian dan lalu dikaitkan dengan pernyataan –Joshua-, maka orang muda yang mengalami kebosanan akan selalu terus menonton pornografi demi memuaskan dirinya sendiri secara berlebihan. Dengan cara demikian mereka mencoba untuk bahagia.

Menurut Aristoteles terdapat beberapa pola hidup yang membuat mereka bahagia. Salah satunya adalah dengan semboyan “Jika kamu ingin bahagia, hindari rasa sakit dan usahakan rasa nikmat”. Namun Aristoteles menegaskan kembali pernyataan tersebut bahwa kebahagiaan tidak dapat dicapai hanya mengejar nikmat. Baginya “Perasaan nikmat itu tidak khas manusiawi”. Artinya bahwa kebahagiaan yang didapat tidak lebih dari seorang binatang yang hanya menggunakan perasaan semata tanpa menggunakan akal budi yang hanya memuaskan dirinya sendiri. Kebahagiaan yang seperti ini adalah suatu pola hedonis.

Maka menjadi jelas bahwa orang muda pada kala pandemi ini mencari kebahagiaan melalui pola hidup yang hedonis. Mereka hanya mencari nikmat kepuasan diri. Rasa sakit yang mereka alami yakni rasa bosan itu dihindarkan begitu saja dengan berlari pada kenikmatan dalam pornografi. Orang muda menjadi terjerumus dalam disorientasi kebahagiaan. Kebahagiaan hanya dipandang sekedar mata memandang “Gaya 69” di layar ponsel. Kebahagiaan direduksi menjadi kebahagiaan tanpa moralitas.

Pendidikan Hati Nurani

Pada hal ini menunjukkan jiwa orang muda menjadi kurang terawat di masa pandemi ini. Mungkin saja karena rasa bosan yang mereka alami dan lalu berlari pada pornografi. Maka terlihat pasti bahwa keutamaan moral pada hati orang muda menjadi luntur. Apabila terjadi tanpa penanggulangan yang lebih maka akan menjadi berbahaya bagi orang muda sendiri. Maka yang harus dilakukan adalah memoles kembali moral pada diri orang muda.

Salah satu cara dalam perawatan jiwa adalah pendidikan hati nurani. Melalui hal ini orang muda bisa mewaspadai dan terhindar dari pelencengan moral. Karena pendidikan ini bertujuan untuk mengolah salah satu aspek dalam jiwa manusia yaitu hati nuraninya. Dengan mengolah hati nurani kehendak akan semakin dikuatkan dalam pemilihan suatu tindakan. Dengan artian mengerti apa yang baik dan buruk lalu melaukakannya.

Kejernihan hati nurani menentukan sikap moral dalam tindakan. Pengalaman nyata yang dialami oleh orang muda di kala pandemi ini menandakan kekeruhan hati nuraninya. Orang muda kurang bisa menentukan sikap moral yang tepat di saat rasa bosan hadir. Hal yang baik atau buruk seolah-olah menjadi bias. Pornografi dianggap sebagai kebahagiaan, padahal itu hanyatalah sebuah pelarian dari rasa sakit yang mereka alami. Karena itu, kekeruhan hati nurani mereka yang seharusnya dijernihkan kembali. Supaya dapat bertindak sesuai hati nurani dengan sikap moral yang tepat.

Sikap moral yang tepat dinyatakan dalam kehendak. Dalam hati nurani, kehendak menyatakan diri bahwa hati harus berpegang teguh pada prinsip. Inilah yang seharusnya ditanamkan pada diri orang muda. Dengan mempunyai kehendak yang kuat, orang muda tidak mudah untuk terjerumus dalam suatu kenikmatan sesaat yang menggiurkan badan. Sebaliknya jika memiliki kehendak yang lemah dengan mudahnya tanpa melihat itu baik bagi jiwanya atau tidak dia akan langsung mengikutinya. Dengan kata lain orang muda akan mudah terbawa arus dalam keinginan pribadinya. Disinilah pentingnya kehendak yang kuat dibutuhkan dalam penidikan nurani oleh orang muda supaya mereka tidak jatuh dalam lobang kenikmatan sesaat.

Namun orang muda tentu membutuhkan pendamping dalam pendidikan nurani. Pendamping yang paling tepat adalah keluarga. Di masa pandemi ini orang muda tentu secara langsung berdekatan dengan keluarga. Maka sungguh penting peran kelaurga dalam mendidik hati nurani anak-anaknya. Terkhusus bagi orang tua. Sudah seharusnya orang tua lebih memperhatikan keadaan yang dialami anak-anaknya yang tengah beranjak dewasa. Supaya tidak terjerumus dalam kesesatan. Misalnya saja pornografi yang telah menjadi tempat kebahagiaan orang muda di kala bosan. Tentu hal tersebut tidak diinginkan oleh orang tua. Maka menjadi sangat penting keluraga sebagai tempat utama dalam pendidikan hati nurani orang muda.

Pada akhirnya dalam perawatan jiwa orang muda, sesungguhnya mereka sendirilah yang menentukan keberhasilan dalam masalahnya. Kehendak orang muda sendirilah yang memutuskan apakah mereka mau atau tidak dalam membenahi hati nuraninya demi kesehatan jiwanya. Keluarga mereka hanya membantu saja. Selebihnya keputusan ada di tangan mereka untuk berubah.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *