Thursday, February 22

Kaum Muda Sebagai Pengembara Kebenaran

Ditulis oleh Joseph Dimas Kusuma, Siswa SMAK Seminari Garum

Pandemi membuat setiap orang hanya punya satu pilihan yaitu pengasingan diri. Kita semua harus menjauhi perkumpulan dan keramaian dimana itu melawan kodrat kita sebagai makluk sosial. Hal tersebut berlaku bagi semua orang apalagi kaum muda. Identitas kita sebagai kaum muda seperti bercengkrama, bercanda hingga pergi bersama saat ini dirongrong oleh sesuatu yang tak kasat mata. Kita bingung mau dikemanakan jiwa berpetualang kita. Kita seperti dibius untuk tetap terjebak di balik pagar dan dinding rumah kita. Kita harus rela dirantai atas nama kesehatan bersama. Dan memang itu semua adalah kebenaran. Kebenaran yang menyedihkan.

Kebenaran itu membawa kita pada satu masalah yakni kejenuhan. Hidup dengan menatap langit berupa atap atau pemandangan berupa tembok sangatlah tidak mengenakan. Tujuh miliar orang di seluruh dunia sudah lebih dari paham tentang hal itu. Dan tentunya kejenuhan hanya punya satu lawan yaitu penghiburan. Obat yang paling ampuh saat ini bagi kaum Generasi Z pasti smartphone. Saat ini peran smartphone dalam hidup Kaum Generasi Z sudah seperti gas oksigen yang dibutuhkan setiap saat. Benda berukuran kecil ini punya segalanya yang untuk kaum muda. Seperti mengungkapkan kebebasan berekspresi lewat Tik Tok, mendengarkan Blackpink di Spotify, menonton Money Heist di Netflix, hingga membaca berita di internet.

Namun, masalahnya penghiburan kaum muda saat ini bukannya tanpa masalah tapi malah menimbulkan suatu kontradiksi yang nyata. Realita masa muda dan lingkungan digital membawa kita pada kemajuan dan penderitaan serta teknologi dan manipulasi1. Seringkali kita tidak menyadari postingan atau halaman informasi yang kita buka setiap pagi menjadi ajang bergengsi perebutan ideologi kepentingan golongan. Berita palsu di era digital sudah menjadi santapan bagi setiap orang yang mengakses internet. Bahkan, seperti yang ditulis oleh Enrique Dans yang menyatakan bahwa kaum Generasi Z lebih sering melihat berita palsu karena sering mengakses lebih banyak konten.2 Kenyataannya 83% mahasiswa menerima hoaks dari situs online dan lebih dari 50% sangat mempercayai berita itu.3

Ketika kita sambil meminum segelas susu dan membuka laman informasi tidak jarang kita dimanipulasi oleh berita-berita palsu yang ada di jejaring internet seperti sampah yang bertebaran di jalanan. Seperti dua hoaks besar pada 2016 yang menyangkut Hillary Clinton dan Donald Trump. Dalam hoaks tersebut Clinton diduga menjual senjata ke ISIS dan adanya pernyataan bahwa Bapa Suci Paus Fransiskus mendukung Donald Trump. Hebatnya lagi 60% orang percaya akan cerita itu.4

Tidak jarang pula individualisme menjadi jantung kehidupan bagi kaum muda yang dengan bangganya menyatakan apa yang ia katakan adalah kebenaran. Kita bahkan mudah dipanas-panasi untuk saling bermusuhan dan menaruh benci karena berita dangkal yang entah datang dari mana. Hal itu bisa dibuktikan dari data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang berkolaborasi dengan cekfakta.com yang menyatakan jumlah hoaks yang tersebar dari Januari hingga November 2020 sebanyak 2.024. meningkat dari tahun sebelumnya yakni 1.221.5 data tersbut menunjukkan bahwa kita dengan mudahnya menyebarkan berita-berita yang keliru. Kita tidak menyadari bahwa kita menjadi korban tidak bersalah rencana busuk yang sudah disiapkan badan suprastruktur politik dan kepentingan pasar konsumeristik. Seperti ketika pilpres 2019, kominfo menyatakan bahwa dari 486 hoaks ada 209 hoaks yang bernada politik.6 Semua hal itu seakan ditegaskan oleh survey lain yang dilakukan Katadata Insight Center yang menyatakan bahwa 30-60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses internet dan hanya 21-36% orang yang mampu menyadarinya.7

Melihat semuanya ini kaum muda tidak perlu menutup mata atau menggunakan penyumbat telinga karena memang inilah realitanya. Dunia sedang menderita yang jauh lebih berbahaya dari sekadar virus tidak terlihat. Dunia sedang terbelenggu krisis makna dan kebenaran. Banyaknya berita palsu dan hiburan semu seharusnya membangkitkan nalar kita untuk bertanya, apakah kata-kata masih punya makna? Kita seharunya menjadi lebih bijaksana untuk merenungkan satu hal, dimana kita mampu bertemu dengan kebenaran?

Kita sebagai kaum muda harus sadar bahwa eksistensi manusia ada ketika menggunakan nalarnya. Seperti salah satu ungkapan yang dicetuskan oleh Rene Descartes, salah satu ahli matematika dan filsafat dari Perancis yakni “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir maka aku ada). Secara sederhana adalah eksistensi manusia ada ketika dia mampu berpikir. Di era revolusi industry 4.0 ini semua informasi mengalir sangat deras dan karena itu kita harus bisa mengambil jarak dengan infromasi. Terkadang sebagai kaum muda kita harus berani merenungkan berita-berita yang kita terima untuk bergerak mencari kebenaran yang lebih dalam. Karena jika kita hanya menerima semua berita secara langsung dan tanpa dipikir apa bedanya kita dengan anjing yang hanya mengikuti instingnya atau tumbuhan yang hanya asal menerima sinar matahari. Kita akan sama saja dan lebih parahnya kita menyalahi eksistensi kita sebagai manusia.

Dalam bukunya Sing A New Song Timothy Radcliffe, OP mengutip salah satu tulisan dari Newman yang berbunyi “Dalam menggapai kebenaran harus sungguh melewati pendekatan sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur, dialami lewat proses mental, melalui penggumulan suatu obyek, perbandingan, kombinasi, pendekatan parsial, koreksi timbal balik, penyesuaian terus menerus, keterlibatan, kerja sama, dan perpaduan banyak kemampuan serta latihan akal budi.”8 Perpaduan dari dua gagasan tersebut adalah suatu ajakan. Ajakan untuk melakukan pencarian kebenaran. Ajakan ini adalah ajakan untuk menyadari eksistensi kita sebagai kaum muda dan manusia yakni berpikir.

Dalam mencari kebenaran sejati itu juga berarti bukanlah membaca berita dari hasil scrolling postingan berita di instagram. Namun, benar-benar lewat pencarian data-data yang valid dan terpercaya. Lalu, pada akhirnya semua akan kembali pada diri kita msing- masing. Dengan segala situasi yang ada kita tetap masih punya pikiran, waktu, dan tenaga untuk berubah atau menjadi lebih baik. Apakah kita akan tetap menjadi budak berita palsu atau apakah kita berani meluangkan waktu untuk menyadari eksistensi kita sebagai manusia. Berpikir dan menyaring tentang kebenaran dan kepalsuan. Berkelana mencari fakta yang sesungguhnya. Menemui banyak gagasan yang memperkaya kita. Semua kaum muda sudah tahu jawabannya dan punya kebijaksanaan untuk memilih yang benar. Karena pilihan yang benar itulah yang akan membawa kita kepada kebenaran. Dan kebenaran yang akan memerdekakan (Yoh. 8:32).

1 Fransiskus, Christus Vivit. (Jakarta: Komisi Wali Gereja Indonesia, 2011), hlm.28.

2Enrique, Dans. You Are Wrong If You Think Generation Z is “Immune” To Fake News. https://www.forbes.com/sites/enriquedans/2020/09/15/you-are-wrong-if-you-think-generation-z-is- immune-to-fake-news/?sh=7b256413314e (diunduh pada 30 Maret 2021)

3 VOA News. Generation Z Beats Boomers in Spotting Fake News. https://www.voanews.com/student- union/generation-z-beats-boomers-spotting-fake-news (diunduh pada 30 Maret 2021)

4 Amy, Watson. Fake News. https://www.statista.com/topics/3251/fake-news/ (diunduh pada 30 MAret 2021)

5 Maharani, Tsarina. Kominfo Identifikasi 486 Hoax Sepanjang April 2019 terkait Politik. https://news.detik.com/berita/d-4532182/kominfo-identifikasi-486-hoax-sepanjang-april-2019-209- terkait-politik (diunduh pada 30 MAret 2021)

6 Maharani, Tsarina. Kominfo Identifikasi 486 Hoax sepanjang April 2019 Terkait Politik. (diunduh 30 Maret 2021)

7 Iman, Rahman. Survey KIC Hampir 60% Orang Terpapar Hoaks Saat Mengakses Internet. https://www.beritasatu.com/digital/700917/survei-kic-hampir-60-orang-indonesia-terpapar-hoax-saat- mengakses-internet . (diunduh 30 Maret 2021)

8 Timothy, Radcliffe, OP.2009. Sing A New Song. (Malang:Dioma), hlm.328.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *