Monday, November 29

Kaum Muda di antara Ekstrimisme dan Kebhinekaan

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” kata Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Pernyataan ini menunjukkan bahwa presiden pertama kita melihat potensi dalam diri kaum muda sejak jauh hari.  Dengan kelincahan serta gerak energiknya, kaum muda kerapkali membawa angin segar bagi perubahan. Secara khusus, kita pun melihat bahwa tanpa perjuangan kaum muda, barangkali negara kita masih diliputi kediktatoran yang membelenggu. Tapi, itu tempo dulu. Lain masa, lain juga masalah yang dihadapi. Bahkan, semakin berkembang suatu zaman, makin complicated pulalalah tantangan yang merintangi. Lantas, masalah apa saja yang kiranya menjadi urgen bagi kaum muda “zaman now”?

Dari beberapa permasalahan yang ada, saya mengetengahkan ekstrimisme sebagai persoalan yang kian merebak dalam kehidupan berbangsa kita. Tentu, saya tidak sedang menomorduakan permasalahan lain yang tidak kalah penting seperti kemiskinan, korupsi, dan sebagainya. Namun, agaknya kita harus menyadari bahwa ekstrimisme sangatlah mudah menyebar di dalam pergaulan kaum muda dewasa ini. Bentuknya pun beraneka ragam. Ada yang bersifat terselubung, namun tidak sedikit pula yang ditampilkan secara gamblang. Sebagai contoh, keengganan berteman dengan mereka yang dipandang berbeda adalah bentuk ekstrimisme yang terselebung. Lebih lanjut, sikap memilih rekan kerja hanya yang berasal dari golongan yang sama juga dapat dimasukkan ke dalam kategori tadi. Adapun sikap ekstrimisme secara gamblang terungkap dalam tindakan pembunuhan yang ditujukan kepada mereka yang dianggap “kafir”. Semuanya ini dilakukan karena mereka merasa sebagai pemegang kebenaran yang mutlak. Bila terjadi hal demikian, maka pihak lain yang berbeda acapkali dipandang salah. Ironisnya, yang dinilai salah seringkali dianggap layak untuk dicelakakan.

Rupanya, masalah tidak hanya berhenti di situ. Berdasarkan realitas yang ada, kita menyadari bahwa seringkali kaum muda menjadi pelaku dalam tindakan ekstrim semacam itu. Sebagai contoh, masih hangat dalam ingatan kita tentang kasus penyerangan sebuah kantor polisi yang dilakukan oleh seorang gadis belia. Ironisnya, dia justru dikenal oleh keluarganya sebagai pribadi yang taat beragama. Maka, dalam perspektif yang lain kita melihat bahwa justru mereka adalah korban. Mereka menjadi korban atas ulah oknum tertentu yang menginginkan perpecahan di antara bangsa ini. Sebuah kenyataan yang mengerikan mengingat esensi bangsa Indonesia yang terdiri atas pelbagai suku, agama, ras, dan golongan.

Menyikapi fenomena tersebut, saya melihat ini sebagai tantangan bagi kaum muda di Indonesia. Kaum muda diharapkan mampu memutus mata rantai ekstrimisme yang berlangsung hingga hari ini. Caranya adalah dengan memupuk spirit toleransi dan perdamaian dalam pergaulan sehari-hari. Mereka harus menyadari bahwa keberagaman merupakan sebuah rahmat yang tak terkira dari Allah. Bahkan, para pendiri bangsa ini sedari awal mengamanatkannya dalam semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”. Sayangnya, semboyan ini kerap hanya sebatas hafalan saja tanpa dibatinkan secara mendalam. Nasib demikian juga terjadi pada Pancasila yang pada belakangan ini tengah dirongrong kedaulatannya. Oleh karenanya, menjadi jelas bahwa Pancasila dan spirit “kebhinekaan” yang mampu menyemangati kaum muda melawan ekstrimisme.

Berkaitan gagasan di atas, saya meyakini peran kaum muda dalam meminimalisir tindakan ekstrim yang terjadi di negeri ini. Tentu mereka tidak perlu memulainya dengan langkah yang terlalu muluk. Cukup memperjuangkan kebhinekaan dan Pancasila sebagai ideologi bangsa, maka semangat toleransi akan bertumbuh dalam masyarakat Indonesia. Kiranya ini juga yang dicita-citakan founding-fathers kita; Indonesia yang “Bhinneka Tunggal Ika”.

Oleh: Gabriel Mario Lefaan
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *