Monday, June 24

Jembatan Virtual, Jawaban Digitalisasi Komunikasi

Tentu masih segar di pikiran kita kira-kira hampir 2 tahun lalu pada bulan Maret 2022, mengenai sebuah libur “2 minggu” karena sebuah virus yang namanya masih asing di khalayak. Tak terasa, setelah waktu lama ini telah terjadi banyak sekali perubahan pada cara hidup dan diri kita sendiri.

yeezy sneakers comprar fatos de treino adidas baratos comprar fatos de treino adidas baratos astro a50 ps4 and pc zara long jumpsuit in green puma suede classic velvet sneakers in cordovan leather calfskin velvet tongue and toe cap golf męski zara brandon aiyuk jersey youth cadena seguridad para moto balenciaga 2017 shoes mascarilla pelo sebastian jayden daniels lsu jersey yeezy sneakers jayden daniels jersey callaway reva femme

Perubahan selalu terjadi sepanjang sejarah manusia dan merupakan sesuatu yang tidak dapat terhindarkan, sehingga antara kita sebisa mungkin bertahan atau mengikuti perubahan tersebut. Seperti hukum Darwinisme, manusia yang tidak mengikuti akan tertinggal dan menjadi tidak relevan.

Sesungguhnya, kita juga pun perlu merefleksikan perubahan yang dibawakan oleh pandemi COVID-19. Era disrupsi yang sedang berjalan dipercepat dengan adanya pandemi ini. Tatanan sosial masyarakat berubah dan norma-norma baru terbentuk. Teknologi digital dan virtual seakan-akan mulai menggantikan kehidupan konvensional.

Percakapan antar muka menjadi sebuah keunikan bukan kebiasaan. Apakah ini merupakan sebuah kemajuan dalam teknologi komunikasi? Ataukah ini merupakan perusakan terhadap sifat sosial manusia? Lalu apakah sebuah perubahan memang wajib diikuti alirannya ataukah ada beberapa perubahan yang harus kita hentikan?

Ini memang sudah menjadi dilema sejak awal peradaban. Sebelum zaman penerangan (Enlightment) perubahan dipandang sinis. Hal ini dikarenakan adanya inspirasi dari Plato yang berpendapat bahwa dalam setiap perubahan akan terjadi sebuah bencana besar yang di metaforakan sebagai banjir besar atau kemarahan dewa.

Ada juga filosofi yang ditulis St. Augustinus dari Hippo yang pada bukunya The City of God mengemukkakan bahwa jalan hidup manusia sudah memiliki takdir. Meskipun demikian dia juga mengemukkakan bahwa hidup manusia tidak selalu linear melainkan terkadang mengalami sebuah “kejadian” unik yang terjadi sepanjang masa seperti kedatangan Yesus Kristus.

Nosi ini lebih mendekati tentang doktrin-doktin mengenai perubahan yang muncul di abad ke-19. Herbert Spencer, seorang filsuf era Viktorian bahkan berpendapat bahwa perubahan atau dalam hal ini kemajuan merupakkan bagian dari cara kerja alam semesta. Kembali ke zaman sekarang, terjadi sebuah perubahan besar berupa digitalisasi komunikasi yang dipercepat oleh pandemi sehingga menciptakan sebuah era disrupsi di dekade ke-2 millenium ini.

Pada beberapa tahun kedepan Gen Z akan memasuki usia produktif dan akan membentuk tulang punggung kaum pekerja. Masa depan umat manusia seakan-akan akan dibentuk pada generasi ini.

Ini menjadi sebuah bahan pikiran yang bagus, bagaimana kita sebagai Gen Z memposisikan kita dalam era disrupsi ini? Apakah kita akan bersifat konservatif dengan mempertahankan mode interaksi lama ataukah trend yang semakin digital ini wajib diteruskan? Oleh karena itu, mari kita refleksikan masing-masing pilihan karena pemahaman akan masa lampau akan membentuk masa depan.


Sejak lama, manusia telah berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung tanpa ada layar di depannya. Tentu cara lama ini memiliki banyak manfaat terutama dalam pendalaman sosialisasi. Berinteraksi langsung dengan sesama membuat kita dapat memahami gerak-gerik, ekspresi, dan tatapan secara lebih jelas.

Interaksi langsung juga dapat menyebabkan “Human Touch”, yang dianggap sangat penting karena sifatnya kodrati bagi manusia. Dengan “Human Touch”, seakan-akan kita saling terhubung satu sama lain dengan orang tersebut. Kita mendapatkan kesadaran yang mendalam mengenai karakter orang tersebut.

Namun, sejak revolusi industri kedua, perkembangan telekomunikasi menciptakan alat yang memprakarsai segala teknologi komunikasi kita saat ini, yaitu telefon. Dengan adanya telefon, komunikasi dapat dilakukan dengan jarak jauh meskipun masih dibatasi oleh jangkauan kabel.

Sebuah penemuan yang merevolusi cara manusia berinteraksi. Tentu saja pada zaman itu juga ada kelompok yang takut dan menahan diri dari revolusi teknologi yang sedang terjadi.

Seandainya mereka berhasil menghentikan perkembangan teknologi saat itu, kemungkinan saya dan anda tidak akan bisa menikmati kemajuan yang ada di era modern ini. Sehingga dari peristiwa diatas, perubahan dapat membawa sebuah kemajuan yang produktif bagi kehidupan manusia.


Lain itu mari kita lihat perubahan lain yang menyebabkan disrupsi besar di masa lalu, yaitu wabah pes yang berlangsung di abad ke-14. Peristiwa tersebut menyebabkan depopulasi di seluruh daratan Eropa hingga ke skala dimana sebuah kota hancur karena kehilangan penduduk.

Peristiwa tersebut memang naas, namun setelah adanya wabah pes, kondisi kehidupan petani meningkat. Tuan tanah yang sebelumnya ssemena-mena karena banyaknya supply pekerja sekarang lebih menghargai dan memebri kondisi kerja yang layak karena adanya defisit tenaga kerja.

Wabah pes juga secara tidak langsung melahirkan Renaisans di Eropa, sebuah keberlanjutan dari perubahan yang berlangsung. Meskipun perubahan yang terjadi saat wabah pes buruk, namun dampak setelahnya sangat baik. Sehingga, sebuah perubahan yang awalnya terlihat buruk, belum tentu berdampak negatif pada akhirnya.


Menurut saya ini penting karena perubahan-perubahan yang terjadi di masa ini terkesan buruk dan terjadi secara tiba-tiba. Kembali ke poin utama, Bagaimana efek era disrupsi yang terlihat saat ini? Yaitu komunikasi yang semakin virtual dan digital dari masa kemasa. Bahkan secara tidak langsung, Pandemi ini mempercepat pembuatan dunia virtual yang sempat viral beberapa waktu terakhir seperti metaverse.

Terlebih dulu kita telaah positivitas yang dibawakan oleh perubahan di bidang komunikasi saat ini. Menurut saya hal positif pertama ialah kemajuan dalam teknologi itu sendiri, karena kemajuan teknologi merupakan bagian dari evolusi sosial manusia untuk mendapatkan kondisi yang diinginkan.

Selanjutnya juga, saya beropini bahwa dengan metode yang serba online ini, anak-anak yang introvert dapat lebih mudah bergaul dan mencari teman. Tidak semua orang percaya diri di depan manusia lain secara langsung.

Dengan banyaknya kemajuan tersebut lantas apakah ada tempat untuk kemunduran? Sebenarnya kemunduran yang terjadi lebih ekarah ke dalam (essens) dari dari arah luar. Mungkin teknologi virtual memang jauh lebih praktis, tapi apakah interaksi yang kita lakukan benar-benar sebuah interaksi?

Kita tidak tahu gerak-gerik tubuh atau bahkan raut wajah sesungguhnya ketika kita berkomunikasi via zoom misalnya. Sehingga ada dilema bahwa esensi dari berinteraksi harus dihilangkan demi mencapai kemajuan teknologi. Sebenarnya komunikasi secara langsung pasti akan tetap terjadi, namun akan hilang dari norma standar sehingga tidak akan menjadi sesuatu yang “normal”.

Nah, perlukah kita sebagai generasi muda untuk bertetap pada kenormalan lama ataukah kenormalan tersebut harus diganti seiring era disrupsi ini? Menurut perspektif saya, kenormalan lama dalam arti interaksi langsung harus tetap dipertahankan.

Suatu kemajuan tidak harus menggerus tatanan lama untuk mencapai suatu kemajuan, melainkan dapat dicapai dengan adanya “kompromi”. Kompromi disini dalam arti bahwa metode boleh berbeda tapi, essensi tetap sama.

Kita bisa menggunakkan metode virtual ketika kita masih belum percaya diri untuk berhadapan langsung dengan orang tersebut. Saat kita sudah mengenalnya, kita dapat lebih nyaman sudah bertemu langsung dengannya. Nah, berarti dengan adanya zoom, whatsapp, instagram, dan media virtual lainnya tidak harus menjadi “Dinding” yang menghalangi adanya pertemuan langsung, melainkan sebuah “Jembatan”.

Banyak teman-teman saya yang introvert merasa lebih percaya diri dan aktif di lingkungan sekolah karena pembelajaran tahun ini dan sebelumnya dimulai dengan metode online. Sehingga, mereka mudah berkenalan dengan saya maupun teman saya lainnya dengan lebih lugas.

ketika mereka masuk offline, mereka sudah tidak merasa canggung karena sudah merasa ada hubungan yang dijembatani oleh media virtual. Berbeda dengan keadaan sebelum adanya pandemi ini. Pernyataan ini menurut saya sesuai dengan poin pertama, yaitu suatu perubahan membawa suatu kemajuan dan kedua, sebuah perubahan tidak harus terlihat baik untuk dapat bermanfaat pada akhirnya.


Perkembangan teknologi juga tidak harus sepenuhnya merubah kodrat kita sebagai manusia. Menurut Auguste Comte, Sebuah perkembangan juga harus terdapat perkembangan moral, bukan hanya perkembangan intellektual atau dalam hal ini teknologi. Moral manusia juga harus tetap dipertahankan atau bahkan disempurnakan melalui pekembangan teknologi yang ada.

Misalnya setelah penciptaan telepon, manusia tetap memprioritaskan pertemuan langsung dan telepon berfungsi sebagai “Jembatan” untuk mengatasi hambatan infrastruktur dan jarak di masa itu. Yang berubah adalah dengan terciptanya internet, tercipta juga dunia virtual yang dapat merubah sikap dasar manusia.

Dunia virtual tersebut dirasa dapat menggantikan dunia nyata. Inilah menurut saya inti dari permasalahan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda saat ini, terutama Gen Z untuk dapat memanfaatkan dunia virtual sebagai ”jembatan” bukan sebuah dinding maupun dunia baru.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.philosophybasics.com/ Diakses sejak 18 Februari 2022
Fulkerson, Matthew. (2014).The First Sense: A Philosophical Study of Human Touch. MIT Press. Florida State University.
Wright, R., 2004, A Short History of Progress, Cambridge, MA: Da Capo Press.
Marmodoro, A., 2014, Aristotle on Perceiving Objects, New York: Oxford University Press.
Fulkerson, Matthew. (2020). Touch. https://plato.stanford.edu/entries/touch/ Diakses 20 Februari 2022

Chan, Melanie. (2019).The Dying Art Of Conversation: Has Technology Killed Our Ability To Talk Face to Face? https://theconversation.com/the-dying-art-of-conversation-hastechnology-killed-our-ability-to-talk-face-to-face-112582 Diakses 22 Februari 2022
Lange, Margaret. (2011). 2. Pre Enlightment Thought. Progress. Stanford Encyclopedia of Philosophy. https://plato.stanford.edu/entries/progress/#:~:text=Philosophical%20proponents%20of%20 progress%20assert,of%20that%20time%20and%20place Diakses 22 Februari 2022.

Penulis: Immanuel Nuralim

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *