Saturday, April 13

Jari Diri Pemuda di Era Society 5.0

Ada tiga hal yang dibutuhkan manusia untuk keselamatannya: tahu apa yang harus ia percaya, tahu apa yang harus ia inginkan, dan tahu apa yang harus ia lakukan. ~Santo Thomas Aquino~

air nike sneakers meilleur lampe uv meia com pompom mallas para hombre nike cheap yeezys vans chima ferguson pro 2 port royale black forty two skateboard shop scarpe eleganti senza lacci nike air max ivo black and white ciorapi compresivi pana la coapsa basket léopard femme nike calças de treino μπουφαν γυναικειο speed x cordura sport jumpsuit nike kallax korkekiilto hylly blogspot handcitruspers

Manusia adalah pemeran utama dari semua dimensi kehidupan. Sikap manusia adalah pondasi dalam membangun dunia. Pengaruh yang diberikan manusia pada segala hal di luar dirinya bergantung pada keunikan dirinya. Semangat dalam proses menuju kepenuhan dirinya diperoleh melalui lingkup kehidupannya.

Seorang filsuf Inggris, John Locke mengatakan bahwa manusia pada mulanya adalah kertas yang kosong (tabula rasa) John Locke mendasarkan pernyataannya pada pengalaman (empirisme), dimana akal pada mulanya adalah polos.

Akal akan terisi ketika indra manusia menangkap setiap kejadian yang dialaminya, sehingga pengalaman itulah yang akan mempengaruhi manusia dalam berpikir dan bertindak di masa depannya.
Dengan demikian, John Locke mau mengatakan bahwa lingkungan hidup merupakan pembentuk pribadi manusia dan menghantarkannya menuju tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan. Pemuda yang sedang berada pada usia produktif berusaha menemukan jati dirinya dengan cara bersikap aktif.

Jati diri inilah yang selanjutnya membawa pemuda pada kemajuan hingga kepenuhan diri. Tidak jarang pula pemuda mengalami masa-masa labil dalam proses mengisi kertas yang kosong itu. Kertas kosong ini terisi seiringan dengan era yang sedang dihadapi oleh pemuda.

Era yang saat ini sedang dihadapi pemuda adalah era society 5.0. Era society 5.0 adalah era yang diidentikkan dengan teknologi untuk menjalani kehidupan. Oleh karena itu, pemuda di era society 5.0 adalah pemuda yang mengoptimalkan penggunaan teknologi digital.

Pada era ini, teknologi adalah bagian dari hidupnya. Bahkan, teknologi menjadi pondasi utama dalam bersosialisasi. Hal ini semakin dikuatkan dengan pandemi covid-19. Pandemi ini membuat peralihan dari aktivitas di dunia nyata menuju dunia maya.

Oleh karena itu, pemuda menjadi lebih aktif berperan dalam teknologi digital. Maka, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan oleh pemuda dalam membangun jati diri di era society 5.0, yaitu (1) tahu apa yang harus ia percaya, (2) tahu apa yang harus ia inginkan, dan (3) tahu apa yang harus ia lakukan.

Tahu Apa yang Harus Ia Percaya Salah satu sikap yang dimiliki pemuda adalah rela untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman. Pemuda membuka diri untuk menerima setiap pembaharuan yang ada. Hal ini adalah sikap yang bagus, namun merupakan pemikiran yang harus diberi perhatian intensif. Karena, pemuda belum memperoleh jati diri yang kokoh dan jangan sampai menjadi terpengaruh oleh ideologi, apalagi diperalat untuk merusak tatanan hidup sosial.

Maka dari itu, hendaknya pemuda melibatkan tuntunan hati nurani dan akal budi dalam proses memperoleh jati diri. Harapannya adalah pemuda dapat penggunakan kehendak bebasnya untuk menuju pribadi yang berprinsip teguh. Tentu hal ini memerlukan kebijaksanaan dalam penguasaan diri.

Kondisi inilah yang sering menimbulkan perang batin dalam diri pemuda, yaitu bagaimana pada satu sisi ia harus menjadi pribadi yang baik dan di sisi lain kenikmatan dunia menuju kegelapan menarik-narik dirinya. Oleh karena itu, perlu ketegasan dalam diri pemuda untuk memutuskan pemahaman yang baik dan sejalan dengan hukum moral.

Tahu Apa yang Harus Ia Inginkan. Pemuda yang memiliki prinsip yang teguh pasti mampu bertindak secara efektif. Hal ini dapat terjadi karena pemuda tidak membangun pikiran yang abstrak, melainkan sudah bisa menentukan langkah hidup yang sesuai dengan prinsipnya. Ia sudah mampu melihat kehidupan secara visioner dan dilengkapi sikap konsekuen terhadap pilihannya.

Dalam era society 5.0 ini pemuda dihadapkan dengan banyaknya tawaran profesi. Tawaran itu bukan sesuatu yang baik atau buruk, tapi tawaran yang menarik dan sesuai dengan karakter pemuda sekarang. Contohnya adalah berkarya melalui media sosial dengan menjadi influencer ataupun menjadi gamer. Oleh karena itu, hendaknya pemuda membangun jati diri yang kokoh sesuai prinsip hidupnya, sehingga ia tidak menjadi orang yang mudah terbawa arus, bahkan tidak menjadi bahan yang diperebutkan oleh developer dunia maya demi ketenaran semata.

Kemudian pemuda seharusnya menjadi pribadi yang selalu bersyukur apabila kejayaannya sedang dalam kondisi menurun. Kondisi ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk menggunakan akal budinya dalam menciptakan inovasi yang baru.

Mentalitas pantang menyerah hendaknya selalu ada dalam diri pemuda, sehingga dapat menolak nafsu akan kenikmatan yang parsial di saat kondisi yang menurun tersebut. Usaha yang dapat dilakukan agar pemuda dapat mencapai kejayaannya kembali adalah dengan berkolaborasi.

Kolaborasi membentuk kekuatan ide yang besar dan meminimalkan setiap kekurangan yang ada dari berbagai segi penilaian atas ide tersebut. Oleh karena itu, hendaknya pemuda beranggapan bahwa kolaborasi adalah instrumen yang cocok untuk berkarya dalam era society 5.0, karena kolaborasi merupakan bagian dari pembentuk jati diri yang kokoh dalam dinamika kehidupan.

Tahu Apa yang Harus Ia Lakukan. Harapan pemuda untuk membentuk jati diri yang kokoh akan menjadi sia-sia, apabila tidak disertai tindakan yang konkret. Tindakan yang dimaksudkan adalah kerja. Pemuda dapat semakin hidup dengan bekerja.

Maka hendaknya bekerja dipandang sebagai kebutuhan untuk mewujudkan keinginan, sehingga pemuda dapat mencapai cita-cita sekaligus berperan aktif dalam perkembangan dunia di era society 5.0 sesuai bidang yang ia kerjakan. Sebelum itu pemuda harus mengenali kemampuan yang diperlukan untuk bekerja di bidangnya.

Hal ini merupakan konsekuensi dari keinginannya. Dengan demikian, jati diri pemuda dapat menjadi berkat untuk kehidupan bersama melalui karya-karyanya. Pada akhirnya, tergenapilah ucapan Yesus mengenai kehadiran manusia di dunia [Markus 10:45]. 45“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Dunia akan selalu berubah dan memunculkan era baru bagi setiap generasi. Perubahan itu membawa pengaruh dalam proses pembentukan jati diri pemuda. Jati diri yang kokoh seharusnya sejalan dengan kodrat hidup manusia, yaitu mengejar yang baik, indah, dan benar.

Jika prinsip ini dipegang teguh, maka pasti akan membawa dampak positif bagi kehidupan, sehingga apa yang dilakukan oleh manusia melalui karyanya di era apapun akan bersifat bonum comune. Oleh karena itu, semua tindakan manusia hendaknya selalu diarahkan pada kesejahteraan hidup bersama.

DAFTAR PUSTAKA
Fransiskus. 2019. Christus Vivit (Kristus Hidup). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Juhari. “Muatan Sosiologi dalam Pemikiran Filsafat John Locke.” https://jurnal.ar-
raniry.ac.id/index.php/bayan/article/download/94/83 (diakses pada 18 Februari 2022).

Nusantara, Toto. “Society 5.0 dan Riset Perguruan Tinggi Indonesia.” https://proceedings.uhamka.ac.id/index.php/semnas/article/download/166/143/ (diakses pada 18 Februari 2022).

Penulis: Ronan Ardihan

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *