Thursday, February 22

Inovasi Disalahgunakan

Ditulis oleh Gregorian Albi Dwi Prasetya, Siswa SMAK Seminari Garum

Hingga saat ini, pandemi COVID-19 masih mengkudeta aktivitas-aktivitas manusia. Ketakutan dan kegelisahan belum juga usai menyelimuti umat manusia. Bahkan, vaksin yang berkembang pun masih perlu berpacu melawan mutasi yang dilakukan oleh virus COVID-19. Keadaan yang belum memiliki kejelasan ini memaksa manusia untuk terus beradaptasi dengan kondisi yang masih berlangsung. Aktivitas-aktivitas manusia menjadi serba terbatas, kondisi ini membuat manusia harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang masih berlangsung. Ruang gerak menjadi sangat terbatas dan mewajibkan manusia untuk terus berinovasi. Ide-ide cemerlang terus bermunculan di tengah situasi pandemi yang sungguh mengkhawatirkan sekarang ini. Kretivitas-kretivitas pun semakin berkembang seperti tiada batas habisnya. Kreativitas yang muncul ini adalah akibat dari rasa bosan dan jenuh yang dialami masyarakat dunia akibat kekacauan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Situasi pandemi yang masih berlangsung membuat manusia sedikit harus menjaga jarak antara satu dengan yang lain. Manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial harus merelakan hubungan mereka harus dilakukan melalui layar canggih yang semakin berkembang. Jelas bahwa keterbatasan-keterbatasan ini akan membuat manusia merasa sangat bosan dan jenuh karena segala aktivitas manusia harus dilakukan dari rumah. Sehingga sebagai bentuk pelarian, manusia menjadi berhubungan erat dengan teknologi-teknologi yang ada, terutama teknologi bidang komunikasi. Kebijakan-kebijakan yang diberlakukan pemerintah menjadi salah satu faktor pendorong yang sangat mendukung manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas normal manusia melalui daring, contohnya bagi pelajar mereka harus beradaptasi dengan kebijakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan para pekerja harus beradaptasi dengan kebijakan WFH (Work From Home). Kita dapat melihat bahwa masa pandemi adalah masa dimana teknologi-teknologi yang ada menjadi satu-satunya cara agar aktivitas-akivitas manusia tetap dapat berlangsung. Situasi pandemi memperlihatkan betapa pentingnya teknologi bagi keberlangsungan hidup manusia. Selama masa pendemi ini, teknologi komunikasi mengawali eksistensinya sebagai teknologi yang sangat membantu manusia dalam segala hal. Namun, apabila teknologi-teknologi tersebut disalahgunakan, maka tekonologi hanya akan membawa kecemasan yang tiada habisnya bagi masyarakat di seluruh belahan dunia.

Situasi pandemi saat ini mengajarkan manusia akan satu hal yang sangat penting, yakni adaptasi. Di tengah situasi yang sangat mengkhawatirkan sekarang, adaptasi adalah cara ampuh untuk memutus penyebaran virus COVID-19. New normal yang berhubungan erat dengan gaya hidup 5M, yakni mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas menjadi kebiasaan baru yang melekat erat dengan hidup manusia. Berdiam diri di rumah menjadi salah satu cara untuk membentengi diri dari ancaman virus COVID-19 yang mematikan. Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan patut diberi apresiasi kepada yang berhasil beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang masih sangat mengkhawatirkan ini. Tidak semua orang mampu beradaptasi dengan situasi yang sedang terjadi. Kebosanan dan kejenuhan menjadi musuh utama untuk menyelamatkan diri dari terror yang dilakukan virus COVID-19. Teknologi yang sebagai tempat pelarian menjadi tempat pelampiasan. Pelampiasan ini yang membuat manusia semakin berinovasi dan berkreativitas. Namun, hal yang disayangkan adalah adanya pihak yang menyalahgunakan ide dan inovasi yang bermunculan. Di tengah situasi yang masih sangat mengkhawatirkan ini, masih ada orang-orang yang memiliki hobi menyebarkan berita-berita palsu. Tanpa ada rasa penyesalan, pihak-pihak tersebut tidak memikirkan dampak atas apa yang mereka lakukan. Berita yang disebarkan bukannya memberikan kelegaan melainkan menambah ketakutan yang menyelimuti manusia di masa pendemi. Sehingga berita palsu atau hoax menjadi salah satu musuh terbesar dalam dunia maya dan dunia nyata.

Sekarang hoax menjadi salah satu sumber ketakutan manusia. Hoax bermunculan sebagai bentuk kreativitas yang berangkat dari keinginan untuk mengekspresikan diri. Selain itu, keinginan untuk mencari sensasi menjadi dasar bagi para pelaku penyebar hoax. Menyebar hoax menjadi kebiasaan baru yang melekat bagi para penyebarnya. Dari hal ini dapat dilihat bahwa tanpa adanya keseimbangan dalam berefleksi dan berekspresi, perbuatan manusia dalam mengekspresikan diri dapat memperkeruh situasi yang sedang terjadi. Refleksi ini ditujukan bukan hanya dalam mengekspresikan diri, melainkan juga ketika menerima sebuah hasil dari ekspresi diri.

Kekacauan dan kegelisahan yang dibawa oleh hoax dapat memberikan dampak yang sungguh luar biasa. Kekacauan yang terjadi merupakan dampak dari hoax yang tidak pernah terpikirkan oleh para penyebar hoax. Di tengah dunia yang masih mendambakan perdamaian ini, ancaman dapat datang dari mana saja. Hoax dapat mengakibatkan perdamaian dunia yang belum stabil ini dapat menjadi lebih berantakan. Kepercayaan yang dimiliki antar negara dapat hancur melalui hoax. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi apabila rasa kepercayaan antar bangsa-bangsa pudar. Pertikaian, kekacauan, ketakutan bahkan peperangan dapat menyelimuti kehidupan manusia ke depannya. Apa yang bisa dibanggakan dari ini semua? Mau jadi apa wajah bumi akibat dari kekacauan ini?

Kekhawatiran yang besar seseungguhnya juga muncul terhadap kaum muda sekarang. Kaum muda di zaman ini sungguh berhubungan erat dengan dunia maya. Sejak kecil, kaum muda sudah beraktivitas dengan teknologi, terkhususnya gadget. Bila dilihat kembali dengan sifat-sifat anak muda zaman ini, ada banyak hal sungguh harus diperhatikan. Sifat anak muda yang suka berinovasi dapat menjadi hal yang positif sekaligus menjadi ancaman bagi mereka maupun lingkungan di sekitar mereka. Selama, masa pandemi ini semua orang tanpa terkecuali harus beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi yang harus dilakukan adalah harus isolasi mandiri di rumah masing-masing.Jelas, bahwa apabila hanya berdiam diri di rumah saja akan memberikan rasa bosan yang sungguh besar. Kaum muda yang suka berinovasi dan memiliki banyak ide mungkin dapat mengatasi rasa bosan yang mereka alami. Inovasi dan ide-ide yang kaum muda milik sungguh bagus untuk perkembangan mereka. Namun, inovasi dan ide-ide tersebut dapat menjadi ancaman apabila disalahgunakan. Keinginan mencari sensasi menjadi tujuan utama untuk menyalahgunakan inovasi dan ide-ide yang dimiliki. Salah satunya adalah ikut andil dalam penyebaran hoax. Andil dalam menyebarkan hoax in hanya akan merusak generasi emas yang dimiliki bangsa.

Kaum muda seseungguhnya menjadi harapan dalam memutuskan rantai penyebaran hoax. Kaum muda dengan keahlian dalam bidang teknologi, terkhususnya bidang teknologi dan informasi seharusnya bisa menghilangkan ketakutan akibat hoax. Kaum muda dengan sifatnya yang kritis seharusnya bisa lebih selektif dalam memilah apa yang diterima. Rasa ingin tahu yang melekat dalam diri kaum muda harus dipergunakan dengan baik. Hendaknya rasa ingin tahu yang sangat tinggi itu tidak membuat kaum muda melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti ikut menyebarkan hoax. Justru seharusnya, rasa ingin tahu tersebut menjadi sarana untuk memulihkan ketakutan dan kekhawatiran yang menyelimuti sebagian besar kelompok masyarakat. Contohnya kecilnya adalah dengan memberikan berita yang sungguh-sungguh terjadi guna menghentikan penyebaran hoax yang sedang marak terjadi. Terkhususnya di tengah masa pandemi ini kaum muda harus ikut andil dalam memberikan inovasi dan ide-ide yamg positif kepada lingkungannya. Inovasi dan ide-ide tersebut ditujukan agar masyarakat tidak merasa jenuh atapun bosan selama menjalani isolasi mandiri di rumah, bukan untuk mencari sensasi di tengah situasi yang tidak pasti seperti masa pandemi ini.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *