Monday, November 29

Generasi Milenial Mengambil Sikap Melebur Tapi Tak Hancur dalam Menyikapi Ekstremisme

Menyikapi aksi teorisisme di Indonesia yang baru – baru ini terjadi di tahun 2021 ternyata dilakukan oleh generasi milenial kelahiran tahun 1995. Terduga teroris pascakasi terjadi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri. Dua kejadian aksi terorisme itu menunjukan bahwa kaum milenial rentan terpengaruh dan melakukan aksi terorisme. 

Secara demografis, ternyata mereka dikatagorikan sebagai generasi milenial. menurut teori generasi Strauss-Howe, generasi milenial merupakan mereka yang masuk angkatan kelahiran mulai tahun 1982 hingga tahun 2002. Di tahun 2021 ini, mereka berada di fase ke emasan dalam memaksimalkan aktivitas yang produktif.

Aktivitas sehari – hari kaum milineal tentu tidak lepas dari smartphone untuk mengakses informasi – informasi yang dibutuhkan entah untuk mencari pekerjaan, mencari hiburan, mencari pendalaman tentang iman agama, dsb. Menurut Kemenkominfo ada 89% Penduduk Indonesia memakai Smartphone. Berarti hampir secara keselurahan kaum milenial mencari informasi melalui smartphone, hal ini perlu adanya kebijaksanaan dan pengetahuan dalam sikap love of learning dalam memanfaatkan smartphone tentang apa yang perlu dan sepantasnya untuk dikonsumsi dalam kebutuhan informasi secara positif dalam memenuhi minat belajar hal baru. Dirangkum dalam KompasTekno dari We Are Social, Selasa (23/2/2021), bahwa waktu yang paling banyak dicurahkan orang Indonesia adalah mengakses internet per harinya sekitar 8 jam 52 menit.

Generasi milenial mereka berada di usia dengan keinginan tahu yang liar dalam melihat hal baru dan keinginan belajar yang selektif menurut keinginan diri sendiri dan dorongan dari orang terdekat maupun dari isu yang berhembus dalam dunia sosial media. Hal ini semakin was-was karena termuat sekitar 20.453 konten yang dikatakan mendedikasikan aksi terorisme di media sosial hingga pada tanggal 3 April 2021. Seperti hal yang sama, dimana pemahaman keagamaan mereka masih dangkal dan samar dalam menyeleksi ajaran tersebut mengarah pada semangat toleransi atau malah intoleransi. Sehingga menjadi ladang bagi kaum ekstremisme untuk menabur benih-benih sikap intoleransi yang disemaikan, kemudian ditumbuhkan sikap radikalisme yang akhirnya mencapai puncak perbuatan melakukan aksi terorisme.

Terutama, generasi milenial lebih tertarik pada bacaan Islami yang membakar dan mengguncang pikiran ketimbang bacaan yang  mengandung toleransi dan semangat nasionalis. Berdasarkan buah dari riset UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta terhadap generasi milenial muslim di 16 kota di Indonesia pada 2018 menampilkan bahwa rekomendasi perdamaian dan Islam moderat kurang adanya hasrat. Bacaan yang digandrungi para milenial muslim merupakan buku-buku Islami terkenal hingga yang direkomendansi bernuansa tarbawi, tahriri, dan jihadi, yang berdasar hasil penelitian tersebut ditemukan bukti adanya pupuk paham radikal.

Generasi milenial perlu mengambil sikap melebur tapi tak hancur dalam menghadapi ekstremisme. Maksud dari sikap melebur adalah fleksibel dimana ditekankan kebijaksanaan dalam pengetahuan dalam sikap open mindedness tidak tertutup pada golongan tertentu percaya pada jalan masing – masing selama itu bersifat toleransi dan moderat sedangkan sikap tak hancur adalah tahap pengolahan diri berpegang teguh pada yang menjadi keyakinan mengambil sikap self regulation mengelola apa yang dirasakan meskipun berbaur dengan golongan tertentu. Sebab perbedaan yang ada di Indonesia baik itu ras, etnis, bahasa, budaya dan agama tetaplah satu tubuh yang terdiri dari beberapa anggota yang fundamental.

Oleh: Samuel Agung
(Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *