Thursday, February 22

Tokoh

Translingualism for Knowledge Transfer: A Way Out of Linguistic Racism in the Midst of Language Diversity
Budaya, Kontemporer, Pengetahuan, Tulis

Translingualism for Knowledge Transfer: A Way Out of Linguistic Racism in the Midst of Language Diversity

Human civilization has acknowledged language diversity for a long time; there are approximately 7000 languages worldwide (Gray et al., 2011). As the only species that acquire linguistic capability, language has a broad impact on human life. Language is not just a tool to communicate but also a form of one's cultural identity. Language recognizes the phonemic system, how the language "sounds" and the grammatical system, also how the lexicon is combined to form a synchronous phrase (Wareing, 2005: 5). As a reflection of civilization, elements in language are also formed by the culture of its speakers. Especially in this era of massive globalization due to the development of information technology, the world is getting "narrower," and communication is becoming more and more necessary; one can...
Multikulturalisme sebagai Prasyarat Untuk Mengoreksi Ketidakadilan Epistemik
Budaya, Kontemporer, Kritik, Pengetahuan

Multikulturalisme sebagai Prasyarat Untuk Mengoreksi Ketidakadilan Epistemik

Image by Freepik Oleh: Anastasia Jessica Politik yang manusiawi ialah politik yang terbuka pada keragaman identitas. Multikulturalisme merupakan salah satu kunci penting bagi terbentuknya Politik yang manusiawi. Multikulturalisme dapat menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan kohesi sosial dan sekaligus mencapai yang disebut sebagai keadilan epistemik. Keadilan epistemik merupakan pengakuan keadilan dan kesetaraan berbagai sistem pengetahuan.Varian Multikulturalisme membentang mulai dari agenda sosial-politik penerimaan beragam budaya dalam suatu komunitas masyarakat hingga ke agenda ekonomi perluasan kapital ekonomi secara global.Pada tulisan ini, pengertian Multikulturalisme mengacu pada paham yang mengakomodasi beragam kelompok etnik sehingga bisa hidup bersama di suatu negara at...
KONSEP MANUSIA UBERMENSCH DALAM MENGHADAPI BUDAYA MASSA
Budaya, eksistensialisme, Moderen

KONSEP MANUSIA UBERMENSCH DALAM MENGHADAPI BUDAYA MASSA

Oleh: Wiliam Marcellino_Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWMS Semester V (image by: kompasiana.com) Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berpikir. Hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi manusia sebagai makhluk hidup yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya. Manusia memiliki kebebasan dalam menggunakan akal budinya. Ketika akal budi untuk berpikir itu digunakan secara maksimal, maka manusia pun dapat mengeluarkan potensinya dalam hal kreativitas. Kreativitas manusia membuatnya dapat menciptakan suatu inovasi yang memiliki nilai bagi banyak orang. Namun begitu, tak jarang kreativitas manusia tidak dikembangkan melalui cara berpikir secara maksimal. Kurang maksimalnya pengembangan kreativitas manusia ditimbulkan akibat adanya globalisasi teknologi....
Tinjauan Eksistensialisme: Dinamika Era Disrupsi,  Modernitas dan Hermeneutika Faksitas Heidegger dan Sartre
Budaya, eksistensialisme, Kontemporer, Kritik, Tokoh

Tinjauan Eksistensialisme: Dinamika Era Disrupsi, Modernitas dan Hermeneutika Faksitas Heidegger dan Sartre

Hegemoni Postmodernisme & Era Disrupsi Peralihan zaman dari era klasik, modern dan hingga era postmodern, membawa manusia pada  dinamika disrupsi zaman seperti kekerasan sistemik yang diuraikan oleh Slavoj Zizek sebagai  kekerasan yang tak tak terlihat dan seolah-olah tak ada yang menjadikan konsumen sebagai korban  dari tindakan kemanusian. Kekerasan sistemik adalah sisi tersembunyi atas realitas masyarakat yang mutlak,  sebagaimana anda melihat plang donasi di jalan, namun saat ingin berdonasi anda dihadapkan oleh  biaya anggaran sebagaimana yang di jawab oleh Lacan sebagai objet petit a. Bagi Baudrillard,  transformasi budaya ini menunjukan masyarakat digiring menuju kecenderungan  simbolik (symbolic value) ini diterangkan di dalam bukun...
Manusia Silver dan Barbarisme Kapitalis
Ekonomi, Kontemporer, Kritik, Politik Sosial

Manusia Silver dan Barbarisme Kapitalis

Manusia silver menjadi fenomena yang sering kita jumpai hari-hari ini. Biasanya mereka bisadengan mudah ditemukan di jalanan atau pusat-pusat keramaian yang lain. Kehadiran merekabagi beberapa orang, menjadi hiburan sekaligus mengundang belas kasihan di tengah penatjalanan kota yang macet. Sayangnya cerita tentang manusia silver yang nampak unik, terkadang tidak secerah catwarna kulitnya. Banyak di antara mereka yang terpaksa menjadi manusia silver untukmenyambung hidup di masa pandemi Covid-19. Beberapa mungkin memiliki kisah yangkelam dan tak terungkap di media. “Gak ada yang mau beli dagangan saya, saya butuh makan. Ya, mau gimana lagi? Sayanyoba peruntungan jadi manusia silver. Orang tahunya saya males kerja, masih muda tapiminta-minta. Mereka nggak tau cerita hidup saya,” ujar ...
Budaya, Kontemporer, Narasi, Politik Sosial

LIPUTAN KEGIATAN EXTENSION COURSE PERTEMUAN KE-2 “Kunci Hidup Bersama di Tengah Pandemi adalah Keterlibatan”

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya telah mengadakan kegiatan diskusi bersama dalam forum Extension Course dengan judul “Eksis bersama ‘Yang Lain’ di Masa Pandemi dalam Pandangan Karol Wojtyla” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 23 November 2021, pukul 18.30-20.30 WIB, melalui Zoom Meeting. Pembicara pada diskusi ini adalah Aloysius Widyawan, Dosen Fakultas Filsafat UKWMS yang sedang menjalani studi doktoral di Pamplona, Spanyol. Moderator pada diskusi ini adalah Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara, M. Phil, Dosen Fakultas Filsafat UKWMS. Dalam diskusi yang berlangsung selama sekitar dua jam itu, Romo Wid (nama panggilan Aloysius Widyawan) menyampaikan bahwa kehidupan manusia selalu berhubungan dengan yang lainnya, karena pada dasarnya manusia adalah...
Kontemporer, Kritik

CAFÉ ESTETIK: KRITIS ATAU KREATIF?

Gambar Ilustrasi Cafe, foto dari https://unsplash.com/ Remaja di zaman sekarang memiliki kebiasaan yang unik dan baru untuk mengeksplorasi hal-hal yang ada di sekitarnya atau sekedar menghabiskan waktu yang mereka miliki. Kebiasaan tersebut adalah berburu café estetik. Itu benar! Di zaman yang serba maju serta kebiasaan digital yang sangat familiar dengan kehidupan di masa sekarang, banyak anak muda yang gemar untuk berburu café estetik, atau tempat-tempat yang sekiranya sangat Instagramable. Jika tempat yang mereka kunjungi itu punya spot bagus untuk berfoto, percaya deh, pasti tempat itu akan ramai dan “jarang” sepi pengunjung. Tidak hanya café yang bagus untuk dijadikan tempat berfoto, namun anak muda di masa sekarang juga sangat gemar untuk pergi ke café, dikarenakan tempatnya y...
Menarak Manusia Yang Bermain
Budaya, Kontemporer, Kritik

Menarak Manusia Yang Bermain

Permainan virtual dalam bentuk console game, mobile game, maupun online game semakin digemari dewasa ini. Bukan hanya anak-anak dan para remaja, orang dewasa pun turut senang memainkannya. Tak dapat disangkal bahwa permainan modern ini menggantikan hampir seluruh permainan tradisional yang ada, setidaknya di kota-kota besar. Fenomena ini jelas kita lihat dari banyaknya orang yang seru bermain dengan ponselnya daripada yang bersama teman-temannya berkegiatan fisik bersama. Jika kita amati, permainan tradisional memang cenderung melibatkan banyak orang, bahkan kadang ada batasan minimal yang perlu dipenuhi agar permainan itu dapat dilangsungkan, sedangkan tidak demikian halnya dalam permainan modern. Dalam permainan modern, seseorang dapat bermain sendiri karena lawannya adalah ...