Tuesday, November 30

Kritik

Budaya, Kontemporer, Narasi, Politik Sosial

LIPUTAN KEGIATAN EXTENSION COURSE PERTEMUAN KE-2 “Kunci Hidup Bersama di Tengah Pandemi adalah Keterlibatan”

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya telah mengadakan kegiatan diskusi bersama dalam forum Extension Course dengan judul “Eksis bersama ‘Yang Lain’ di Masa Pandemi dalam Pandangan Karol Wojtyla” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 23 November 2021, pukul 18.30-20.30 WIB, melalui Zoom Meeting. Pembicara pada diskusi ini adalah Aloysius Widyawan, Dosen Fakultas Filsafat UKWMS yang sedang menjalani studi doktoral di Pamplona, Spanyol. Moderator pada diskusi ini adalah Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara, M. Phil, Dosen Fakultas Filsafat UKWMS. Dalam diskusi yang berlangsung selama sekitar dua jam itu, Romo Wid (nama panggilan Aloysius Widyawan) menyampaikan bahwa kehidupan manusia selalu berhubungan dengan yang lainnya, karena pada dasarnya manusia adalah...
Kontemporer, Kritik

CAFÉ ESTETIK: KRITIS ATAU KREATIF?

Gambar Ilustrasi Cafe, foto dari https://unsplash.com/ Remaja di zaman sekarang memiliki kebiasaan yang unik dan baru untuk mengeksplorasi hal-hal yang ada di sekitarnya atau sekedar menghabiskan waktu yang mereka miliki. Kebiasaan tersebut adalah berburu café estetik. Itu benar! Di zaman yang serba maju serta kebiasaan digital yang sangat familiar dengan kehidupan di masa sekarang, banyak anak muda yang gemar untuk berburu café estetik, atau tempat-tempat yang sekiranya sangat Instagramable. Jika tempat yang mereka kunjungi itu punya spot bagus untuk berfoto, percaya deh, pasti tempat itu akan ramai dan “jarang” sepi pengunjung. Tidak hanya café yang bagus untuk dijadikan tempat berfoto, namun anak muda di masa sekarang juga sangat gemar untuk pergi ke café, dikarenakan tempatnya y...
Pengangguran dan Kemiskinan Bukan Ulah Pasar Bebas
Ekonomi, Kritik

Pengangguran dan Kemiskinan Bukan Ulah Pasar Bebas

Sampai dengan tahun 2014, populasi Indonesia mencapai angka 252,8 juta. 66,2 percent di antara mereka berada dalam usia produktif. Adapun 11 percent dari total jumlah penduduk di Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan mutlak. Hanya 114,6 juta penduduk Indonesia yang bekerja dan hanya 40,4 percent dari angka tersebut yang bekerja tetap. Dengan inflasi pada angka 8,4, jauh diatas batas sehatnya, perekonomian dan kelanjutan kaum pekerja di Indonesia terancam bahaya. Masalah kemiskinan dan ketenagakerjaan sudah lama menjadi masalah di Indonesia. Faktanya, kemiskinan merajalela dan kondisi tersebut menutup kesempatan bagi si miskin untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Mobilitas vertikal keatas seakan tidak mungkin terjadi. Akibatnya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semak...
Hukuman Mati, Adil?
Kritik, Politik Sosial

Hukuman Mati, Adil?

Apa itu hukuman? Mengapa ada hukuman? Apa itu hukuman mati? Apa itu keadilan? Apakah keadilan sungguh ada? pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus kita jawab terlebih dahulu sebelum kita mempertanyakan apakah hukuman mati itu suatu keadilan atau ketidakadilan. Hukuman adalah suatu sanksi dengan ukuran yang sesuai yang diberikan kepada pelanggar. Hukuman ada untuk memberikan ganjaran kepada pelanggar. Hukuman juga dibuat dengan tujuan memberi ancaman yang serius kepada pelanggar agar mereka tidak dengan bebas melakukan pelanggaran, atau dapat kita sebut sebagai suatu tindak pencegahan. Ketika kita membahas hukuman mati, maka secara jelas kita dapat mengatakan bahwa itu adalah hukuman untuk orang yang telah mengambil nyawa orang lain. Mari sekarang kita membahas tentang keadilan. ...
Menarak Manusia Yang Bermain
Budaya, Kontemporer, Kritik

Menarak Manusia Yang Bermain

Permainan virtual dalam bentuk console game, mobile game, maupun online game semakin digemari dewasa ini. Bukan hanya anak-anak dan para remaja, orang dewasa pun turut senang memainkannya. Tak dapat disangkal bahwa permainan modern ini menggantikan hampir seluruh permainan tradisional yang ada, setidaknya di kota-kota besar. Fenomena ini jelas kita lihat dari banyaknya orang yang seru bermain dengan ponselnya daripada yang bersama teman-temannya berkegiatan fisik bersama. Jika kita amati, permainan tradisional memang cenderung melibatkan banyak orang, bahkan kadang ada batasan minimal yang perlu dipenuhi agar permainan itu dapat dilangsungkan, sedangkan tidak demikian halnya dalam permainan modern. Dalam permainan modern, seseorang dapat bermain sendiri karena lawannya adalah ...
Perbedaan Menimbulkan Pembedaan?
Budaya, Kritik

Perbedaan Menimbulkan Pembedaan?

“Sebuah Refleksi Sederhana atas Pola Berpikir Manusia terhadap Perbedaan” Beda, sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dan benda yang lain atau ketidaksamaan. Melalui arti kata tersebut dapat dipahami bahwa ‘beda’ menjadikan berlainan atau tidak sama. Arti kata sederhana ini saja telah mencerminkan betapa kuat makna yang dimaksudkannya. Sebuah kata tidak berarti memang jika hanya satu kata itu sendiri, tanpa disisipkan konteks, keterangan, ataupun konsep pemikiran penggunanya. Berbeda halnya jika kata sederhana ini telah masuk ke dalam pikiran manusia. Kata tersebut tidak lagi hanya sebuah konsep abstrak namun telah menjadi hidup jika dia berada di dalam sebuah sistem terumit di tubuh manusia itu, pikiran. Selanjutnya yang terjadi adalah kata ters...
Ketika Simbol Meracuni Pemikiran Manusia
Budaya, Kritik, Politik Sosial

Ketika Simbol Meracuni Pemikiran Manusia

Apa yang anda lakukan ketika melihat sebuah bangunan, tempat-tempat bersejarah atau benda-benda disekitar kita berbentuk menyerupai sebuah simbol keagamaan? Apakah anda hanya diam saja, dan membiarkan hal itu terjadi, karena merasa itu bukan dari simbolis keagamaan? Ataukah anda merasa geram ketika melihat itu dan berusaha untuk menyangkut-pautkan kejadian ini sebagai bentuk simbolisasi dari agama tertentu? Dikutip dari akun instagram tirto.id yang memposting tentang ke-alergian terhadap simbol yang mirip dengan salib menjadi sebuah alasan bagaimana masyarakat menilai sebuah agama yang ada dalam negara ini. Di sini, yang menjadi keheranan adalah kok bisa sih ada pemikiran seperti itu. Mengapa hal-hal yang seperti itu dan sudah berlangsung begitu lama dalam kehidupan masya...
Pengaruh Virtualitas Terhadap Relasi: Menilik Klan-Klan Game Online
Budaya, Kritik, Narasi

Pengaruh Virtualitas Terhadap Relasi: Menilik Klan-Klan Game Online

Akankah Relasi Virtual menjadi Relasi Normal yang Baru? Salah satu fenomena yang terjadi sebagai akibat dari munculnya game online adalah munculnya pula berbagai clan, guild, atau team. Clan, guild, atau team (selanjutnya disebut klan, demi praktikalitas) adalah sekumpulan orang yang begabung dalam satu wadah virtual di dalam game untuk mencapai tujuan tertentu, dengan saling membantu antar anggota dalam tugas-tugas tertentu yang disediakan game yang bersangkutan.   Klanini telah sangat umum dan dapat ditemukan di mayoritas game online dengan persebaran keanggotaan yang sangat bervariasi, mulai dari lokal (yang bergabung di klantertentu, misalnya, adalah orang-orang yang bermain game di warung internet yang sama) sampai internasional. Hal yang sama terjadi pula pada tingkat pro...
Suara Mahasiswa
Budaya, Kritik, Pengetahuan, Politik Sosial, Puisi

Suara Mahasiswa

Saat ramai tentang Papua, aku berkata:Papua Saudara kitaRasisme tidak bisa diterima Lalu, kau bilang: kata-katamu sungguh berbahaya Saat ramai demo mahasiswa, aku berkata:Kita adalah mahasiswa, penjaga demokrasi negaraKita harus ingatkan wakil kitaAgar buat RUU tanpa mengada-ada Lalu, kau bilang: turun ke jalan bukan tugas mahasiswaDemo itu tiada guna Saat pandemi kena kita semua, Ku-upload video sambil berkata: Solidaritas harus berkobar di antara kitaTak boleh ada yang lalai bekerjaTermasuk kita, mahasiswa, masa depan bangsadan lembaga di sekitarnya Lalu kau bilang: kita ini keluargaKalian boleh kritik apa saja, tapi jangan bilang siapa-siapa.Batinku: MAUMU APA? Oleh: Tim FDF Agora UKWM Surabaya
Populisme, Perlu Gak Sih?
Kritik, Politik Sosial

Populisme, Perlu Gak Sih?

Pada tahun 2019 ini rakyat Indonesia hendak mengadakan pesta demokrasi yaitu pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. Para kandidat sedang intensif mengadakan kampanye, mengutarakan janji-janji untuk memimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Rakyat Indonesia tidak hanya dihadapkan pada pilihan antara pasangan nomor 1 dan 2. Beberapa orang memillih paslon 1, namun ada juga yang hendak memilih paslon 2. Dalam hal ini ada satu isu yang membayangi pemilihan presiden, yaitu soal populisme. Pemimpin populis adalah pemimpin yang disukai oleh rakyat dan dalam kampanye akan mengutarakan bahwa dalam janji-janjinya mengakomodasi apa yang rakyat butuhkan.  Ketika kemarin mengikuti simulasi debat dalam Cogito, saya mendapat beberapa pemahaman baru. Mosi yang ditampilkan adalah pemim...