Monday, November 29

CAFÉ ESTETIK: KRITIS ATAU KREATIF?

Gambar Ilustrasi Cafe, foto dari https://unsplash.com/

Remaja di zaman sekarang memiliki kebiasaan yang unik dan baru untuk mengeksplorasi hal-hal yang ada di sekitarnya atau sekedar menghabiskan waktu yang mereka miliki. Kebiasaan tersebut adalah berburu café estetik. Itu benar! Di zaman yang serba maju serta kebiasaan digital yang sangat familiar dengan kehidupan di masa sekarang, banyak anak muda yang gemar untuk berburu café estetik, atau tempat-tempat yang sekiranya sangat Instagramable. Jika tempat yang mereka kunjungi itu punya spot bagus untuk berfoto, percaya deh, pasti tempat itu akan ramai dan “jarang” sepi pengunjung.

Tidak hanya café yang bagus untuk dijadikan tempat berfoto, namun anak muda di masa sekarang juga sangat gemar untuk pergi ke café, dikarenakan tempatnya yang nyaman, cocok untuk mengerjakan tugas sekolah, pertemuan kecil-kecilan, sampai hanya sekedar jadi tempat nongkrong untuk mengisi waktu senggang.

Sebenarnya, konsep “café estetik” sudah ada sejak lama. Café pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1878, walau jauh sebelum itu café sendiri sudah banyak menjamur di Eropa. Kemunculan café ini pada awalnya hanya menyediakan kopi, karena sesuai dengan namanya. Café yang berasal dari kata Coffee yakni kopi. Café yang semula hanya menjadi tempat persinggahan sejenak sembari menikmati secangkir kopi untuk melepas lelah, seiring berjalannya waktu berubah menjadi tempat asyik nan multifungsi serta menjadi salah satu pendapatan paling menjanjikan di era millennial ini.

Akan tetapi, banyak perdebatan yang muncul mengenai modal membuat café yang bagus dan estetik itu harus seperti apa. Soal biaya, sudah jelas dibutuhkan. Namun, untuk mengelolanya menjadi indah dan mampu menarik perhatian khalayak umum dalam waktu yang lama, maka dibutuhkan cara berpikir yang agaknya, berbeda dan unik, sehingga orang dibuat penasaran. Di satu sisi, sebagian pihak mengatakan bahwa berpikir kreatif adalah salah satu kunci, namun di sisi yang lain, ada pihak yang mengungkapkan bahwa dibutuhkan cara berpikir yang kritis. Lantas, kalau sudah begini kira-kira mana yang lebih benar?

BACA JUGA   Apresiasi Cinta untuk Nikah Muda

Secara teori, keduanya tidak salah. Membuat sebuah café yang estetik dan menarik minat pengunjung itu membutuhkan cara berpikir yang kreatif, istilahnya, out of the box supaya orang menjadi penasaran dan mengunjungi café yang kita bangun. Tapi, kita juga membutuhkan cara berpikir yang kritis untuk bisa melangsungkan “kehidupan” café estetik itu. Lho, kok bisa begitu?

Disini, pemikiran yang kritis sangat berguna untuk membangun café yang lebih baik dari waktu ke waktu. Perubahan zaman yang terus berjalan dan senantisa memunculkan bentuk tren baru harus bisa diadaptasi oleh café atau tempat-tempat yang tidak ingin bisnisnya dimakan oleh perkembangan zaman. Pemikiran kritis, mampu untuk melihat bagian-bagian dari sebuah bisnis, terutama café, yang harus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya agar dapat menjadi bentuk usaha yang jauh lebih baik.

Menarik sekali jika dapat melihat bahwa ada café, yang hanya menggunakan kreativitas, namun tidak mampu mengevaluasi kualitas café yang dijalakannya sehingga perkembangan zaman seolah tanpa ampun melahapnya, dan perlahan bangkrut. Namun di satu sisi yang lain, ada juga café yang menggunakan sisi pemikiran kritis, namun tidak kreatif dalam mengembangkan usahanya sehingga menerima konsekuensi, yang kurang lebih, sama juga.

Walau begitu, tidak mudah untuk menjalankan dua hal tersebut bersamaan. Perlu berbagai diskusi dari banyak pihak (yang bersangkutan tentunya) agar dapat menjalankan bisnis café estetik sebagaimana yang diinginkan, ramai akan pengunjung karena mampu mengembangkan daya kreativitas, dan terus meningkat kualitasnya karena mengelaborasinya dengan pemikiran kritis. Namun, pemikiran kritis itu tidak serta-merta dimiliki oleh semua orang. Gaya itu bisa dikembangkan, tapi tidak semua mampu melakukannya. Salah satu pemikir kritis terbaik di masa sekarang, adalah seseorang yang bergelut di bidang filsafat! Dengan pengetahuan filsafat yang dimilikinya, seseorang akan mampu mengelaborasikan dua daya masif antara kreativitas dan kekritisan sehingga mampu juga menciptakan hasil yang tidak terduga! Jadi jika dipikir-pikir, apakah kira-kira lulusan filsafat dapat meniti usaha café estetik sebaik para entrepreneur yang ada diluar sana? Patut didiskusikan!

BACA JUGA   Hukuman Mati, Adil?

(Penulis: Duncan Matthew)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *