Thursday, February 22

Budaya Kpop dan Fanatisme Penggemarnya

Latar Belakang

Perkembangan zaman membawa manusia untuk masuk dalam berbagai macam kebudayaan dan kebiasaan. Dari zaman ke zaman, manusia mengalami kebudayaan dan kebiasaan yang beranekaragam dan memiliki perbedaan. Perkembangan kebudayaan dan kebiasaan juga mempengaruhi manusia pada zamannya. Misalnya idola zaman Rock n Roll dengan idola Kpop yang sedang menjamur saat ini. Manusia selalu mengikuti berbagai perkembangan tersebut untuk eksis.

Banyak manusia yang terkadang terlalu tinggi keinginan untuk eksisnya dan melupakan apa yang menjadi kewajiban serta relasinya. Fokus manusia menjadi tersesat pada arus-arus zamannya. Titik fokus manusia menjadi berubah arah karena ada sesuatu yang mengarahkan dan membelokkan tujuannya. Maka dalam hal ini manusia menjadi lebih fokus pada hal yang disukainya daripada tujuan-tujuan awal mereka. Manusia juga dapat menjadi berlebihan untuk menyukai sesuatu dalam fokusnya saat itu. Pada akhirnya bila hal tersebut dilakukan, maka dapat menjadikan manusia untuk mengarah menjadi seorang fundamentalis terhadap suatu kebudayaan, contohnya Kpop. Sebagai pertanyaan penulis, Apa itu fanatisme dan struktur yang membangun suatu pondasi fanatisme tersebut? Untuk itu dalam hal ini penulis ingin memberikan argumennya melalui paper ini tentang awal mula Fanatisme hingga manusia yang menjadi fanatik terhadap budaya Kpop.

Arti fanatisme

Term fanaticism (fanatisme) dan fanatic (fanatik) berasal dari kata keterangan dalam bahasa Latin fānāticē dan kata sifat didasarkan pada kata benda fānum (tempat yang didedikasikan untuk seorang dewa; tempat kudus; tempat suci; kuil). Kombinasi antara kata benda fānum dan kata sifat fānāticus (terpesona/terilhami oleh daya kedewaan; keranjingan, kerasukan, tergila-gila) yang menghasilkan terma fanatic dipahami sebagai, misalnya, “pemuja kuil yang gila-gilaan, bersemangat, kalut atau hingar-bingar” [1]( Marcus Tullius Cicero atau yang lebih dikenal dengan Cicero (106-43 BC) menggunakan kata fanaticus sebagai sinonim dari takhayul (supertitious)[2]. Meski telah dipakai di era sebelum masehi, fanatisme baru menjadi terma penting pada abad 16-17.

Menurut Longman Dictionary of Contemporary English, fanatisme berarti “kepercayaan agama atau politik ekstrim.”[3] menjelaskan orang “fanatik” adalah orang yang memiliki antusiasme yang berlebihan terhadap sesuatu. Karena itu, Hornby mendefinisikan “fanatisme” sebagai kepercayaan atau perilaku berlebihan terhadap sesuatu, terutama berkaitan dengan agama atau politik. Meskipun demikian ranah fanatisme tidak hanya meliputi agama dan politik. Fanatisme berkaitan dengan topik-topik lain seperti fundamentalisme dan ekstremisme. Fenomena fanatisme dalam bentuk fundamentalisme dan ekstrimisme dapat mendorong tindakan seperti kekerasan agama dan terorisme. Sepak terjang Boko Haram di Nigeria dan gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS/ISIS) merupakan bentuk nyata dari fanatisme agama. Perang antara Protestan dan Katolik yang dikenal dengan nama perang 30 tahun, pada abad ke-17, merupakan contoh lain dari fanatisme agama. Atas nama agama dan Tuhan suatu kelompok dapat melakukan pembunuhan atau bahkan pembantaian terhadap kelompok yang dianggap sebagai lawan.

Dimensi fanatik dalam diri manusia (Antropologi)

Fanatisme dalam diri manusia berkembang karena adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan diri yang secara alamiah memang menjadi bagian dari diri manusia. Hal ini dipandang dari cara manusia untuk berelasi dengan sesama. Fanatik identik dengan cara-cara manusia untuk mempertahankan cara berpikirnya dan menutup diri dengan dunia luar. Pada akhirnya manusia menjadi individu yang berpikir dengan satu fokus yaitu apa yang menjadi idolanya.

Fanatisme bukan hanya cara berpikir, melainkan juga cara bersikap. Sebelum ditelaah sebagai bentuk pikiran, fanatisme pertama-tama dikenali sebagai suatu sikap. Fanatisme ada lebih kemudian daripada orang fanatik. Tampil sebagai yang paling benar dan paling berhak untuk menjadi hakim atas yang lain, orang-orang fanatik bersikap menutup diri terhadap pandangan yang lain.

Sikap galak dan keras kepala yang ditampilkan oleh orang-orang fanatik, entah di media-media sosial atau di masyarakat, sebetulnya tidak menunjukkan keteguhan hati mereka. Hipersensitivitas dan ketertutupan sikap mereka justru persis menyiratkan bahwa mereka fanatik sedang membentengi suatu kelemahan dalam karakter mereka. Friedrich Nietzsche mencurigai kegalakan itu sebagai sebuah kedok bagi kelemahan kehendak. “Fanatisme”, demikian tulisnya,”adalah satu-satunya ‘tekad’ yang kepadanya orang-orang lemah juga dapat dibawa”. Orang-orang lemah – bukan hanya secara sosial, melainkan terlebih secara psikis – mendapat semacam ‘tenaga tambahan’. Dengan bersikap fanatik si pengecut kelihatan berani, si pandir tampak benar, si peragu seolah-olah teguh dalam keyakinan. Untuk itu Alfred Adler mempunyai istilah lebih spesifik: Fanatisme adalah ‘kompensasi atas rasa inferioritas’ seseorang. [4] Ekses fanatisme muncul dari suatu defisit dalam kepribadian individu.

Dimensi Epistemologis

Fanatisme pertama-tama dan terutama merupakan cara atau gaya berpikir. Akhiran –isme pada fanatisme menunjukkan hal itu. Orang fanatik memiliki keyakinan teguh atas kebenaran mutlak pemahamannya sendiri dan berupaya untuk memaksakan keyakinannya pada orang-orang lain. Pencirian menyangkut dimensi epistemis atau cara berpikir.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk tidak sempurna dan tidak luput dari kekeliruan. Ia dapat bersalah karena terdapat konteks ruang dan waktu yang membatasi sudut pandangnya. Karena keterbatasannya tersebut, sebenarnya sangat wajar apabila orang menerima kritik dari yang lain untuk perbaikan dirinya. Manusia tidak seperti batu yang tidak berubah, melainkan makhluk yang dinamis, dapat berubah dan bertumbuh. Keterbukaan terhadap kemungkinan dirinya untuk bersalah justru membuatnya mampu meningkatkan diri. Namun seringkali terdapat kecenderungan pada pikiran manusia untuk mengingkari kebersalahan itu. Pikiran tersebut muncul karena ambisi manusia untuk mencapai pengetahuan sempurna, seperti yang dimiliki Tuhan. Ambisi tersebut menurut Jean-Paul Sartre merupakan une passion inutile (suatu hasrat yang sia-sia) karena manusia bukanlah Tuhan. Justru ambisi yang mengganggu tersebut baru bisa ditenangkan bila ia tidak mengingkari kemungkinannya untuk bersalah. Pengingkaran tersebut disebut oleh Parkinson sebagai “lari dari falibilitas”.[5]  Dengan klaim memiliki kebenaran final yang tak terbantahkan, dia berhenti mencarinya dan mulai menganggap orang lain yang tidak seperti dirinya sesat. Kepongahan epistemis inilah yang kita kenal sebagai fanatisme.

Analisis

Fanatisme yang muncul dalam maraknya budaya Kpop sendiri merupakan bentuk kemunculan cara pandang yang sempit dari manusia. Penggemar membangun perspektif atas idolanya hanya dengan melihat sisi positif saja, sehingga manusia masuk dalam jebakan pemikirannya. Hal ini didasari oleh euphoria atau rasa gembira yang dapat membawa dampak negatif. Oleh karena itu manusia akan lebih menyukai sesuatu yang ia idolakan secara berlebihan. Contohnya, penggemar yang mengidolakan Kpop dapat sampai menjual rumahnya demi membeli tiket konser Kpop.

Manusia juga mempunyai sikap subjektif yang kuat terhadap apa yang disukainya. Sikap ini didasari oleh sikap memutlakan kebenaran dari idolanya. Kebenaran dalam hal ini merupakan kebenaran yang positif, sehingga apa yang diidolakan dipersepsikan positif. Contohnya artis Kpop seringkali hanya dilihat dari sudut pandang ketampanannya, namun seorang penggemar jarang bahkan tidak melihat sisi negatifnya. Contohnya, banyak artis Kpop yang bunuh diri justru karena dibebani oleh popularitas. Maka dari itu, kita perlu menilai seorang idola secara lebih terbuka dan komprehensif, agar kita tidak terjebak pada suatu pemikiran yang meradikalisasi akal budi kita.

Dalam hal ini solusinya ada pada kesadaran penggemar, masing-masing individu dalam mengidolakan. Boleh kita mengidolakan, namun kita harus sadar bahwa Kpop hanyalah hiburan, bukan untuk menjadi pujaan yang melibatkan seluruh dimensi eksistensi. Hal yang kita sukai berlebihan membawa kita pada suatu lingkaran yang menutup diri kita ibarat rumah kaca atau penjara. Bila kita sadar maka kita dapat keluar dari lingkaran tersebut dan melihat keluasan dari yang kita idolakan. Oleh karena itu sekali lagi titik pijaknya ada pada kesadaran yang ada dalam setiap individu. Bila kesadaran itu digunakan maka akan menjadikan diri kita sebagai subjek yang bebas untuk mengendalikan bukan sebagai objek yang dikendalikan.

Kesimpulan

Kesimpulan dari tulisan ini adalah Fanatisme dipandang sebagai cara berpikir yang sempit terhadap suatu hal. Kesempitan inilah membawa manusia pada lingkaran yang menjadi ilusi bagi akal budi. Hal ini yang menjadi bahaya dari fanatisme. Kasus penggemar yang mengidolakan Kpop secara berlebihan sehingga berfoya-foya demi Kpop dapat menjadi contoh nyata dari bahaya tersebut. Bahkan ada penggemar yang menjual kebutuhan primernya, yaitu rumah, hanya demi membeli tiket konser Kpop. Maka dari itu sebagai penutup, penulis berpesan kepada seluruh pembaca untuk merefleksikan suatu pertanyaan yaitu; apa yang kudapatkan dari idolaku? Bagaimana dampaknya dalam hidupku? Dan sudahkan aku sadar bahwa idola tidak mutlak membawa pada kebenaran?

Oleh : Yustinus Chrisna Surya Putra. Gambar : Getty Image


[5] Budi Hardiman, Fanatisme dari cara berpikir – cara berkuasa, Prosiding Simposium Nasional VI “Membongkar Rezim Fanatisme” Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 2018, h 37.


[4]Lih. Manuela Utrilla Robles, Fanaticism in Psychoanalysis, Karnac, Madrid, 2010, h. 4.


[3] Hornby, S. Oxford Advanced learners dictionary, (6th ed.). New York: Oxford University 2000.


[1] Hughes, M; Johnson, G : 2005, hlm.1.

[2] Colas, 1997.

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *