Monday, June 24

Apresiasi Cinta untuk Nikah Muda

Soal cinta, kita tidak pernah bisa mendapatkan definisi secara pasti. Term cinta hanya bisa disesuaikan dengan konteksnya. Tidak ada cinta dengan definisi yang universal.

Secara kimiawi cinta kita hanyalah bentuk dari kelebihan hormon sehingga menimbulkan rasa ketertarikan terhadap seseorang dan hasrat seksual. Mantis misalnya atau biasa kita sebut belalang sembah. Ketika mereka melakukan seks si betina akan memakan kepala si belalang jantan. Hal itu ditujukan agar belalang jantan semakin “kencang”. Hal ini secara ilmiah sudah dibuktikan (pada belalang) ada ganglion di kepala belalang yang apabila dicabut maka si belalang jantan akan berpenetrasi lebih kencang sehingga si betina dapat mendapatkan klimaksnya dengan maksimal. Tapi barangkali saat seks mereka tidak saling bertatapan mata. Berbeda dengan manusia, dari tatapan mata bisa turun ke hati katanya dan turun terus ke (?).

Apa kaitannya cinta dan menikah? Lalu, akhir-akhir ini marak terjadi nikah muda. Nikah muda disini saya batasi dari mereka yang baru lulus sekolah atau berumur 18 tahun hingga umur 21 tahun. Hal ini diikuti dengan angka perceraian yang tinggi tiap tahunnya. Banyak faktor penyebab perceraian mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, faktor ekonomi, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Yang tertinggi disebabkan oleh faktor ekonomi dan 70% yang mengajukan cerai adalah istri dengan dalih sang suami tidak bisa mencukupi kebutuhan. Lalu apakah tujuan mereka sebelumnya, apakah hanya sekedar seks? Saya coba mengupas terlebih dahulu apa itu cinta dengan filsafat cinta dari Reza Wattimena. 

APA ITU CINTA?

Cinta mempunyai enam komponen utama. Enam komponen itu adalah hasrat, kehadiran, komitmen, akal budi, berkembang, dan paradoks.

Komponen pertama dan paling dasar dari cinta adalah hasrat. Hasrat adalah keinginan dalam hati kita, yang mendorong kita untuk bertindak. Hasrat yang memberikan dorongan pada hidup kita. Tindakan-tindakan kita berawal dari hasrat. Hasrat yang membuat saya menulis tulisan ini. Hasrat juga yang mendorong anda membaca tulisan saya. Tanpa hasrat kita bagaikan mayat hidup.

Komponen kedua adalah kehadiran. Yang pasti tanpa kehadiran siapa yang anda cintai. Cinta butuh kehadiran fisik, maupun kehadiran hati. Orang yang mencintai harus “hadir” dengan seluruh dirinya untuk yang dicintai, untuk menemani, berjalan bersama dengan yang dicintai. Pada intinya cinta itu tandanya adalah kehadiran, baik itu kehadiran badan maupun kehadiran hati.

Cinta harus diikat oleh komitmen. Komitmen artinya kesetiaan pada janji dan menjalankan janji-janjinya, ditepati hinga sedetail-detailnya. Ketika janji sudah dibuat maka tidak boleh ditawar. Kita boleh berdiskusi dan berdebat tentang janji ini tetapi setelah diraih kesepakatan maka janji tersebut harus dipegang dan dijalani tanpa ada tawar-menawar lagi. Pada saat tertentu janji boleh berubah, namun mesti ada pembicaraan dan kesepakatan antara pasangan. Tidak boleh tiba-tiba merubah seenaknya tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu.

Cinta juga perlu pakai akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan. Pada intinya jangan sampai tertipu. Dalam mencintai seseorang kita juga harus tau batas, kapan harus memarahi kekasihnya, memanjakan, atau meninggalkannya.

Cinta sejati juga mengembangkan. Dari sini diharapkan hubungan tersebut dapat menjadi dasar dalam seseorang mengembangkan diri. Tentu saja kita ingin pasangan kita lebih bijak, lebih mapan, lebih pintar, lebih baik misalnya. Namun berkembang juga harus tahu batas. Jangan sampai perkembangan diri malah menghancurkan hubungan. “Percayalah, kesuksesan tidak ada artinya, kalau anda tidak punya orang yang bisa diajak untuk berbagi kesuksesan itu” kata Reza Wattimena.

Esensi terdalam cinta adalah paradoks. Paradoks artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu dan menciptakan sesuatu. Di dalam cinta orang bisa merasakan benci dan sayang pada waktu yang bersamaan. Di situ paradoksnya. Semakin kita menggenggam cinta maka dia akan pergi. Semakin kita mengikatnya semakin ia meronta. Sebaliknya ketika kita melepas cinta itu, dia akan tumbuh.

Kesimpulannya, cinta harus dihidupi dengan enam komponen tersebut. Ada hasrat yang mengendalikan, ada kehadiran fisik maupun hati, kemampuan memberi ruang untuk berkembang, lalu diikat oleh komitmen, harus pakai akal, dan dijalankan dengan penuh kesadaran akan paradoks. Oke, silahakan saling mencintai, silahkan menikah!!

CINTA DAN PERNIKAHAN MUDA

 Banyak sekali sebab orang menikah muda, biasanya alasan teologis dan ekonomi yang jadi faktor utama. Saya tidak akan menyinggung bagi mereka yang menikah muda karena sudah yakin dengan pasangannya, sudah dipikirkan matang, dan tidak ingin menunda perkawinan seperti Najwa Shihab misalnya. Namun yang jadi soal adalah bagaimana kalau pernikahan didasarkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi atau hanya sekedar alasan supaya menghindari zinah? Artinya orang masih belum bisa melihat dengan jernih apa itu pernikahan dan konsekuensinya. Saya tidak akan membahas apa itu pernikahan sebelumnya karena saya sendiri belum pernah menikah. Yang coba saya bahas adalah masalah-masalah yang lalu timbul akibat menikah hanya karena faktor teologis dan ekonomi.

Yang saya temui, banyak orang menikah karena faktor teologis tidak memikirkan dengan matang bagaimana pernikahan itu. Kebanyakan dari mereka hanya sekedar menghindari dosa zinah sehingga menikah, tidak peduli apakah mereka sudah siap secara mental dan ekonomi untuk sebuah rumah tangga. Apalagi ketika orang tersebut masih muda dan notabene masih memiliki mental dan cara berpikir yang labil. Oke di awal mereka bicara cinta, tapi ditengah-tengah pernikahan, ketika ada sesuatu yang tiba-tiba tidak diinginkan mereka akan bertengkar, lalu cerai. Masalah selesai. Kalau mereka sudah punya anak, benarkah masalah selesai? Atau bagi mereka yang memiliki pola pikir seperti ini : Rejeki sudah diatur Tuhan, jangan takut menikah muda. Iya, nanti kalau stress kerjaan lagi susah, cari uang juga susah, ada istri dan anak yang jadi pelampiasan. Jadi kita bisa sama-sama lihat problemnya bagaimana satu faktor saja bisa mengakibatkan banyak masalah.

Berbahagialah mereka yang menikah karena faktor ekonomi. Mereka bisa mencukupi segala kebutuhannya. Namun, apa benar mereka didasarkan pada benar-benar cinta (dalam bagian definisi cinta). Sama-sama mereka mendasarkan pernikahan mereka pada hasrat ekonomis saja dan ini sangat rawan sekali cerai apabila ekonomi mereka sudah tidak semapan saat di awal mengingat inflasi tiap tahun di Indonesia yang terus tumbuh sedangkan kenaikan gaji tidak sepadan dengan inflasi yang tinggi misalnya, atau kemungkinan-kemungkinan lain ketika mereka mengeluarkan biaya lebih untuk anak-anak mereka. Memang cinta bisa tumbuh dari hasrat, lalu saling mengembangkan, berkomitmen, sudah memiliki kehadiran hati dan fisik, tapi saya rasa terlalu idealis, utopis ketika kita melihat kenyataan yang ada.

Menurut saya tidak masalah nikah muda (dalam arti menikah usia 18-21) asal sudah dipertimbangkan dengan baik. Orang tua juga harus mengarahkan anaknya agar menikah tidak hanya sekedar menikah. Memang tujuan utama menikah pasti untuk melegalkan seks. Tidak perlu jadi hipokrit soal itu. Namun, kita mesti tahu konsekuensi apa yang harus dijalani setelah menikah. Pembinaan pra pernikahan perlu apalagi untuk usia yang masih muda. Diharapakan pernikahan bukan ajang status sosial, memperbaiki ekonomi, atau takut zinah semata. Kita ingin merasakan cinta dalam bentuk eksistensi tertinggi kita. Jadi jangan hancurkan itu dengan jenis kebenaran-kebenaran lain yang mensponsori, entah itu disponsori oleh stigma sosial, maupun disponsori oleh agama. Jadi susah kalau kita harus edit cinta kita lagi karena ada jenis-jenis kebenaran itu. Kita tidak bisa merasakan cinta yang benar-benar CINTA.

 Angga Setiawan, Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWM Surabaya

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *