Thursday, February 22

Aku Apa Adanya

Ditulis oleh Axel Han, Siswa SMAK Seminari Garum

Pada tahun 2019 berita tentang virus corona pertama kali terdengar di Kota Wuhan, China. Pada mulanya Indonesia tidak menduga sama sekali tentang virus ini akan tersebar sangat luas, hingga pada tanggal 2 Maret 2020 , Indonesia harus menghadapi khasus virus corona untuk pertamakalinya. Peristiwa itu menjadi titik mula dari sebuah perubahan, era kebiasaan baru telah dimulai sejak Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan-kebijakan baru guna mengurangi angka penyebaran Covid-19. Kebijakan-kebijan tersebut antara lain, pembelajaran jarak jauh (PJJ), work from home (WFH), social distancing, dan larangan keluar rumah.

Tentu saja, tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan-kebijakan tersebut telah menimbulkan dampak yang luar biasa, salah satu dampaknya sangat terasa di kehidupan sehari-hari ketika kita tidak bisa bertemu dan berdinamika dengan teman, sahabat, kerabat,dan keluarga. Bukankah hal itu sangat menyusahkan? Maka dari itu, sejak kebijakan pemerintah dimulai, akses internet sangat diperlukan oleh setiap insan demi memenuhi hasrat kita sebagai manusia sosial. Media sosial seperti Instagram, Whats App, Facebook, Twitter dan masih banyak lagi, telah menjadi media penyalur bagi kita untuk tetap menjadi manusia sosial meskipun di masa pandemi ini.

Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan internet di Indonesia sejak dimulainya pandemi ini ,naik hingga 73,7% dari 64,8%. Data ini menunjukan bahwa kehidupan kita saat ini tidak bisa lepas dari internet khusunya media sosial.

Pandemi ini sudah berjalan selama kurang lebih 2 tahun, dampak dari PJJ, WHF dan larangan keluar rumah serta larangan bekumpul, kini mulai amat terasa. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa 93% remaja dengan usia rentang 14-18 tahun dan 7% remaja dengan rentang usia 10-13 tahun, mengalami depresi yang disebabkan karena rasa bosan.

Karena rasa bosan itu, maka sering kali kita mencari penghibur diri dengan cara mengeksplor suatu hal, dan media sosial menjadi sarana yang tepat untuk menghibur diri. Salah satu caranya adalah dengan memposting keseharian kita dan hal ini sangat baik untuk mengilangkan rasa jenuh. Namun, tidak lagi menjadi sarana yang baik ketika kita secara perlahan mulai menjadi gila followers , gila like, candu update status, dan hobi mengomentari kehidupan orang lain.

Penyimpangan itu menyebabkan munculnya pemikiran “Apa aku kurang ganteng ya, kok yang like fotoku cuma dikit?” , “Apa dia lebih cantik dari pada aku, kok like nya lebih banyak dari pada aku?”, hal ini menunjukan betapa besarnya tantangan media sosial saat ini. Dan ini sungguh terjadi di sekitar kehidupan kita sebagai anak muda.

Dari hal tersebut , kita menyadari bahwa adanya penyimpangan sosial , dimana beberapa diantara kita ingin mendapat pujian. Keinginan itu memang hal yang bagus untuk menjadi pemacu agar kita semakin berusaha untuk mengembangkan diri, namun tidak lagi menjadi demikian ketika kita memaksakan kehendak yang melampui diri kita sendiri dan berusaha menjiplak atau meniru apa yang dilakukan orang lain, hanya karena apa yang dilakukan oleh “orang lain” mendapat perhatian dari banyak pihak. Contohnya, ketika sebenarnya status kehidupan ekonomi kita biasa saja, kita justru memaksa untuk tampil tampak kaya dan memamerkannya di media sosial , hanya demi mendapat like, followers, dan pujian, bukankah itu berarti mental kita sudah kalah?, kita sudah tidak percaya pada diri kita sendiri dan bersembunyi dibalik kepalsuan dunia media sosial.

Inilah yang sedang kita hadapi saat ini, dimana kita harus belajar untuk berani tampil apa adanya meskipun kita bebeda dari yang lain, berani untuk menerima diri kita dengan segala kekurangan dan kelebihan, dan tetap berusaha mengendalikan diri di masa pandemi ini.

“ Dunia tipu-tipu” memang tempat yang dapat menghipnotis penggunanya hingga jauh dari “kenyataan”, berusaha mengelabuhi kita dengan memainkan rasa gengsi kita sebagai anak muda, apalagi usia kita saat ini adalah usia yang dimana kita berusaha menggali jati diri kita dan seringkali “dunia tipu-tipu” menjadi tempat pencarian jati diri dengan berusaha mencari popularitas dan pujian atau pendapat dari orang lain.

Apakah ingin menjadi populer itu baik? Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu, menjadi sebuah masalah ketika kita melakukan hal-hal yang telah kita bahas diatas, maka dari itu alangkah baiknya ketika kita menjadi populer dengan menunjukan kelebihan kita yang terpendam sejak dini, dan sudah seharusnya di masa seperti ini, kita menantang diri untuk memicu potensi kita yang sudah lama terpendam. Ketika kita berhasil menemukan itu, kita memiliki sesuatu yang disebut dengan “ciri khas” dari diri kita, dan kita akan merasakan hal yang benar-benar membuat kita semakin bersemangat dan semakin percaya diri.

Bagainama dengan kita, apakah kita masih terjebak dalam “dunia tipu-tipu” ? Jika iya, segeralah sadar dan keluarlah, hadapi dunia dan kenyataan yang kita hadapi sekarang , pasti ada saat ketika hidup kita menyedihkan, menyenangkan, menyusahkan, memilukan atau mengharukan, itulah pahit manis kehidupan kita, karena lebih baik menghadapi masalah dari pada lari dari masalah. Bagaimana dengan dirimu, apakah kamu sudah benar -benar “Hidup” atau hanya sekedar hidup ?

Loading

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *