Thursday, December 2

Akal Sehat di atas Iman

Suatu kali saya mengetikkan frasa “ektremisme di Indonesia” di keywords Google Chrome. Semua hasil yang muncul selalu berkaitan dengan radikalisme dan terorisme. Sejak Noordin M. Top hingga bom yang akhir-akhir ini meledak di Gereja Katedral Makassar, semua terekam di sana. matapolitik.com, liputan6.com, tirto.id, kompasiana.com, dan masih banyak akun berita lain yang masing-masing menyuguhkan bermacam-macam artikel tentang radikalisme dan terorisme. Ada yang menganalisis radikalisme, melaporkan serangan teror, melaporkan rincian Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan (PANRE), menelusuri sejarah radikalisme dan terorisme, menganalisis bagaimana ideologi radikal disebarkan, serta memberitakan penangkapan pelaku terror. Dari ribuan berita yang ada, satu kesamaan besar diantara mereka adalah bahwa radikalisme dan terorisme selalu berdiri di atas nama agama.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa radikalisme dan terorisme selalu mengatasnamakan agama? KBBI mengartikan radikalisme sebagai paham atau aliran yang radikal dalam politik, sedangkan terorisme sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Tidak ada kata agama yang secara eksplisit tertulis dalam definisi tersebut. Namun, radikalisme dan terorisme di Indonesia selalu dalam konteks agama. Lebih parah lagi, mengatas namakan tuhan. Dalam nama tuhan, segala kekerasan yang dilakukan kaum radikal dan pelaku teror adalah baik dan benar. Siapapun tahu bahwa pernyataan tersebut tidak masuk akal. Tidak ada yang bisa membenarkan segala bentuk kekerasan.

Indonesia merupakan negara beragama. Setiap warganya diwajibkan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Namun, yang sering dilupakan masyarakat Indonesia adalah bahwa agama merupakan sarana, bukan tujuan. Agama merupakan sarana untuk hidup bahagia, bukan tujuan hidup. Agama memberi kita panduan moral baik-buruk, panduan etika, juga panduan hidup. Demikian halnya dalam politik, agama merupakan sarana berpolitik, bukan tujuan politik. Memposisikan agama sebagai sarana berpolitik akan menghasilkan politik yang sehat. Jika agama diposisikan sebagai tujuan politik, radikalisme dan terorisme lah yang akan lahir. Kasus Ahok menjadi saksi tak terganti bagaimana agama diposisikan sebagai tujuan politik.

Satu hal yang jarang diingat orang adalah bahwa agama tidak serta merta tercipta bersamaan dengan tebentuknya dunia. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa agama diciptakan oleh manusia. Ia merupakan institusi yang muncul atas kesepakatan bersama. Segala konsep dalam agama, dogma, doktrin, kitab, serta rumusan-rumusannya juga diciptakan oleh manusia. Sangatlah logis bila saya mengatakan jika agama seharusnya dikontrol oleh manusia karena agama tidak lebih dari produk rasio mereka. Namun, radikalisme dan terorisme dalam nama agama menunjukkan bagaimana sekarang agama mengontrol manusia, memperbudak manusia, menimbulkan konflik dan kekerasan, serta menuntut manusia untuk terus menerus menghalalkan segala cara demi memenuhi doktrin-doktrinnya. Posisinya sekarang terbalik. Agama menjadi tuan atas manusia. Tragis sekali melihat bagaimana manusia diperbudak oleh produk mereka sendiri.

Kemudian, apa kontribusi kaum muda dalam mencegah ektremisme? Dari beberapa perbincangan saya dengan teman-teman juga guru-guru saya, jawaban mereka bercorak sama yaitu pendidikan karakter. Rasanya tidak ada jawaban lain selain pendidikan karakter. Namun, masalah seperti ini tidak memiliki pemecahan tunggal. Ekstemisme selalu diawali dengan kepercayaan buta terhadap keyakinan. Ketika logika berhenti dan perasaan memegang kendali, detik itulah ekstemisme lahir. Jadi, selain pendidikan karakter, kita perlu menerapkan pendidikan logika. Bukan sekadar logika hafalan 10 x 10 = 100 atau E = mc2 , tetapi logika yang kritis terhadap segala pernyataan. Bagaimana doktrin ini bisa muncul, atau otoritas mana yang menyatakan ajaran seperti ini, atau dalam konteks bagaimana doktrin ini diajarkan. Pertanyaan-pertanyaan kritis seperi itulah yang seharusnya muncul dalam diri kita. Mengkritisi, mempertanyakan, mencari jawaban, kemudian menyimpulkan. Ada metode-metode ilmiah yang harus diikuti untuk mencapai kebenaran, bukannya langsung percaya kepada sebuah pernyataan. Serta ingat selalu bahwa agama seharusnya berada di bawah kontrol manusia, bukan sebaliknya. Bangsa ini tidak kekurangan iman, bangsa ini kekurangan akal sehat. “Karena hanya dengan akal sehat bangsa ini bisa selamat.”, kata Ade Armando.

Oleh: Gabriel Julian Yogananda
(Siswa SMA Negeri 4 Surakarta

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *